Pembagian Ruang Gerak Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki Akan Berakibat Buruk! Waspadalah, Ma, dan Hentikan dengan 5 Cara Ini!

Pembagian Ruang Gerak Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki Akan Berakibat Buruk! Waspadalah, Ma, dan Hentikan dengan 5 Cara Ini!

3.2K
Ruang gerak dan atribut bagi anak perempuan dan anak laki-laki begitu biasa terbagi. Saking terbiasanya, bahkan kita menganggap bahwa pembagian tersebut adalah hal alami yang datang sepaket dengan jenis kelamin kita.

"Wih, anak lo cewek? Ngeri," seloroh seorang kawan perempuan pada saya.

"Kenapa?"

"Ya, anak perempuan, gitu lho! Ngejagainnya kudu ekstra hati-hati, nggak boleh lecet. Ribet, lhooo! Enakan juga punya anak cowok kayak gue, biarin aja mau eksplor sana-sini, nggak pakai kuatir."

Itu secuplik perbincangan yang pernah terjadi antara saya dan seseorang, ketika putri saya masih dalam kandungan. Waktu itu saya sedang di ruang tunggu praktik obgyn untuk memeriksakan kandungan. Respons saya ya cuma nyengir, karena nama saya keburu dipanggil.

Ketika putri saya lahir, hadiah yang ia terima dominan berwarna pink dengan bungkus kado berwarna serupa. Bahkan ada kawan saya yang meminta maaf sambil memberikan kado berbungkus kertas warna baby yellow.

'Sori, nih! Pas gue beli di tokonya, bungkus kado yang pink udah abis. Tapi don't worry. Dalemnya pink, kok!' ujarnya.

Sekarang, anak perempuan saya sudah berusia 11 bulan. Sepanjang umurnya itu, dia sudah banyak menerima pemberian berupa boneka berbulu. Dan apa yang terjadi? Entah kenapa, dia selalu menunjukkan ekspresi 'geli' setiap menyentuhkan ujung jari telunjuknya pada bulu boneka-boneka tersebut (dan kemudian melemparkannya lalu kabur! Haha!).

Melihat hal ini, seorang kerabat kemudian berkomentar.

"Ih, anak perempuan itu harusnya suka boneka, masa ini nggak suka sih?"

Saya pun hanya mesem-mesem tanpa menjawab.


BACA JUGA


Punya Anak Perempuan Membuat Kita Harus Ekstra Hati-hati, Terutama terhadap 7 Hal yang Terlihat Sepele namun Perlu Diwaspadai Ini!

Punya Anak Perempuan Membuat Kita Harus Ekstra Hati-hati, Terutama terhadap 7 Hal yang Terlihat Sepele namun Perlu Diwaspadai Ini!

Berperan menjadi seorang mama di era seperti sekarang ini membutuhkan banyak sekali cara untuk bisa melindungi anak-anak kita dari berbagai ...

Read more..


Well, kita begitu terbiasa membagi-bagi preferensi ruang gerak dan atribut bagi anak perempuan dan anak laki-laki. Saking terbiasanya, bahkan kita menganggap bahwa pembagian tersebut adalah hal alami yang datang sepaket dengan jenis kelamin kita.

Barang anak-anak laki harus biru, sementara anak perempuan pink. Anak laki-laki bermain mobil-mobilan atau robot-robotan, anak perempuan boneka atau masak-masakan. Anak laki-laki diperkenankan bergerak secara aktif dan agresif seperti memanjat pohon, salto, bahkan saya kenal beberapa orang yang menganjurkan anaknya untuk berani berkelahi, sementara anak perempuan harus kalem dan anggun.

Selintas hal tersebut tidaklah membahayakan ya, Ma? Padahal pada kenyataannya, pembagian preferensi aktivitas, ruang gerak dan atribut secara langsung telah mempersempit kemungkinan si kecil untuk mengembangkan skill, potensi dan minatnya.

Lho kok?

Contoh sederhananya, siapa Mama di sini yang tidak menyukai olahraga sepak bola?

Oke, saya ngacung duluan. Dan saya rasa selain saya, banyak juga perempuan yang tidak menyukai olahraga ini. Pertanyaannya adalah, keputusan tidak berminat pada olahraga tersebut munculnya dari mana? Apakah karena telah mencoba, atau semata karena tidak dibiasakan atau diperkenalkan sejak kecil?

Kalau saya, jujur saja, karena alasan kedua.

Contoh lain, banyak perempuan-perempuan yang merasa tidak piawai masalah otomotif dan elektronik karena sejak kecil di-'doktrin' bahwa dua hal tersebut bukan dunia mereka. Padahal mungkin saja, jika perempuan-perempuan dibiarkan berkenalan dengan sepakbola, otomotif dan elektronik sejak kecil, mereka kemudian menyukai bahkan menjadi expert di bidang tersebut. Ya nggak Ma?

Contoh lain, kawan saya, laki-laki, dalam keluarganya tidak dibiasakan untuk mengerjakan urusan rumah tangga. Akibatnya, ketika ia harus kuliah di rantau, ia jadi kelabakan mengurus diri terutama untuk soal makanan dan bebenah rumah.

Atau kawan saya yang lain, perempuan, mengaku sering bertengkar dengan sang suami karena suaminya tidak becus mengurus anak, mengganti diapers saja tidak bisa, Akibatnya ia yang harus mengerjakan semuanya sendiri, sampai pada akhirnya ia sakit. Padahal jika saja para laki-laki dibiarkan melakukan pekerjaan domestik, hal-hal tersebut tidak perlu terjadi kan?

Bahaya lain dari pembagian aktivitas, ruang gerak dan atribut tersebut adalah; anak jadi terbiasa untuk melakukan generalisasi dan stereotyping, yang berujung pada sikap-sikap diskriminatif pada orang yang tidak masuk dalam stereotip di benak sang anak.

Anak kawan saya, laki-laki, di-bully kawan-kawannya karena menyukai film Frozen. Ketika ada laki-laki yang memakai warna pink akan diledek 'Banci!'. Ketika ada pengendara mobil sembarangan dan kebetulan berjenis kelamin perempuan, maka makian yang terdengar adalah, "Perempuan sih! Nggak bakal becus nyetir!" (sementara kalau yang melakukannya laki-laki, tidak akan ada ungkapan kegusaran yang menyebutkan jenis kelamin).

Anyway, kelihatan jelas kan, ya Ma, kenapa pembagian preferensi, ruang gerak dan atribut berdasarkan gender tersebut tidak sehat bagi perkembangan si kecil?


BACA JUGA


R.A. Kartini dan 7 Kutipan Bijak yang Meyakinkan Kita Bahwa Perempuan Bisa Melakukan Segalanya!

R.A. Kartini dan 7 Kutipan Bijak yang Meyakinkan Kita Bahwa Perempuan Bisa Melakukan Segalanya!

RA Kartini dan emansipasi perempuan, sudah tak perlu ditanyakan lagi hubungannya. Kutipan-kutipan penuh semangat ini akan membuat kita ...

Read more..


Saya tahu bahwa kita semua ingin agar anak-anak kita dapat secara maksimal mengembangkan skill dan potensi mereka masing-masing, agar mereka bisa menjadi yang terbaik di bidang mereka kelak. Untuk itu, sejak dini, kita harus mencoba untuk menghilangkan pembagian-pembagian tersebut.

How?

Ini dia caranya!


5 cara untuk mengembangkan skill dan potensi, baik anak perempuan maupun anak laki-laki, untuk menghilangkan pembagian ruang gerak berdasarkan gender



1. Menghilangkan pembagian pekerjaan berdasarkan gender dalam keluarga

1. Menghilangkan Pembagian Pekerjaan Berdasarkan Gender Dalam Keluarga -


Anak-anak adalah pengamat sejati. Alih-alih mendengarkan apa yang kita ajarkan, mereka bakal lebih cepat menyerap dari contoh yang kita berikan. Jika kita ingin anak-anak kita tidak terjebak dalam pembagian aktivitas, ruang gerak serta atribut berdasarkan gender ini, maka kita harus menjadi contoh nyata bagi mereka.

Biarkan Papa memasak, Ma, juga mengganti diapers, menyapu dan mengepel, sementara  Mama membayar perpanjangan STNK atau mengawasi tukang yang sedang merenovasi rumah. Biarkan anak laki-laki Mama membantu memasak, sementara anak perempuan Mama bisa membantu Papa mencuci mobil.

Biarkan anak-anak berpikir bahwa pembagian kerja itu berdasarkan keinginan dan kesepakatan bersama, bukan berdasarkan jenis kelamin.



2. Membiarkan si kecil memainkan permainan dan mainan yang ia suka

2. Membiarkan Si Kecil Memainkan Permainan Dan Mainan Yang Ia Suka -


Jangan larang anak laki-laki Mama ketika ia ingin bermain boneka, atau ketika anak perempuan Mama ingin bermain mobil-mobilan. 

Pada dasarnya anak-anak adalah explorer, mereka ingin mencoba segala hal. Jadi, biarkan saja. Juga jangan selalu memberikan anak perempuan benda-benda berwarna pink dan anak laki-laki benda-benda berwarna biru.

The sky's the limit, biarkan pikiran anak-anak terbuka luas untuk urusan mengembangkan minat, potensi dan skill mereka masing-masing.



3. Memperlakukan si kecil, laki-laki atau perempuan, dengan adil

3. Memperlakukan Si Kecil, Laki-laki Atau Perempuan, Dengan Adil -

Saya pernah mengobrol dengan pemilik sebuah warung tenda langganan. Ia mengeluh pusing karena perilaku anak keduanya, anak perempuan. Anak pertamanya laki-laki.

"Waktu anak pertama, saya kan ajarin dia manjat pohon dan salto, sampai pada akhirnya sekarang dia suka manjat-manjat dan jungkir balik. Nah, gawatnya anak kedua saya nyontoh, sekarang dia petakilan kayak kakaknya. Padahal dia perempuan."

Well, persoalan abad ini; kenapa ketika anak perempuan yang memanjat-manjat dianggap 'salah', sementara jika anak laki-laki yang melakukannya dianggap wajar? 

Padahal kalau jatuh, nggak laki-laki, nggak perempuan yang pasti sama-sama benjol, kan Ma? Eh, oops. 
Tentu saja kita tidak mengharapkan anak kita terluka. Tapi intinya adalah, memperlakukan si kecil dengan fair tentunya akan membuat mereka (terutama anak perempuan) menganggap bahwa aktivitas itu tidak dibatasi oleh jenis kelamin.

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pembagian Ruang Gerak Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki Akan Berakibat Buruk! Waspadalah, Ma, dan Hentikan dengan 5 Cara Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Oktarina Prasetyowati | @oktarinaprasetyowati

Seorang perempuan, seorang ibu, seorang pengajar yang terus belajar, penggemar boots & sneakers, senang menulis dan senang menggambar. Berminat dengan isu gender, pun feminist parenting.

Silahkan login untuk memberi komentar