Perempuan Mandiri - Sekuat Apakah Mereka, Jika Ternyata Mereka Menangis di Balik Pintu Rumahnya?

Perempuan Mandiri - Sekuat Apakah Mereka, Jika Ternyata Mereka Menangis di Balik Pintu Rumahnya?

1.1K
Perempuan mandiri memang terlihat kuat. Tapi, siapa yang tahu, kalau ia adalah juga seorang perempuan yang menangis di balik pintu rumahnya agar tidak terdengar oleh siapa pun. Ia adalah wanita yang selalu berperang dengan apa yang ia rasakan dan yang seharusnya ada.

“Jadi perempuan itu harus mandiri, jangan merepotkan laki-laki terus!”

Sering ya, Ma, kita mendengar orang berbicara demikian.

Ah, saya seringkali merasa tidak percaya diri dengan istilah 'mandiri'. Maklum, keadaan saya tidak memungkinkan untuk disebut sebagai perempuan mandiri dalam terminologi umum.

Meski saya juga melakukan banyak hal tanpa bantuan orang lain termasuk suami. Saya ingat seorang ibu yang juga senior saya pernah berkata, menjadi ibu yang bekerja di rumah itu berarti juga bekerja. Mereka juga membantu suami bekerja, hanya saja bentuknya yang berbeda. Membantu dalam pembagian tugas mengurus rumah tangga dan keluarga.

Jadi pasti dibutuhkan kemandirian. Tapi sekali lagi, dalam pandangan orang lain di luar sana, perempuan mandiri bukanlah perempuan yang demikian.


Perempuan mandiri diidentikkan dengan perempuan tegar, perkasa, kuat karena bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Maka perempuan mandiri menurut definisi senior saya ini adalah sebisa mungkin tidak merepotkan suami (dalam konteks rumah tangga). Sebisa mungkin mengurus urusan domestik yang kita mampu lakukan, dan mengurus supporting system-nya tanpa telpon melulu ke suami yang sedang bekerja.

Sedangkan, di luar sana, definisi perempuan mandiri diidentikkan dengan perempuan yang benar-benar melakukan segala hal sendiri. Termasuk dari segi finansial. Si perempuan ini, tidak memiliki banyak alasan untuk tergantung pada orang lain termasuk sang suami (atau terutama sang suami?).

Saya bukan ingin membahas mengenai perbedaan peran antara dua jenis perempuan ini lebih jauh. Menurut saya, pembicaraan itu tidak akan ada ujungnya. Saya hanya ingin menitikberatkan alasan mereka, mengapa mereka (harus) melakukannya.


BACA JUGA


Begini Cara Menjadi Perempuan Mandiri yang Smart dan Seksi!

Begini Cara Menjadi Perempuan Mandiri yang Smart dan Seksi!

She needed a hero, so that's what she became

Read more..


Dalam konteks perempuan mandiri yang pertama, kemungkinan si istri dan suami sudah memiliki pembagian peran yang jelas dalam rumah tangga mereka. Kemungkinan yang lain, si suami memang tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi urusan di luar urusan pekerjaan dan anak-anak, sehingga ia bergantung pada bantuan istri dalam menyelesaikan urusan domestik.

Dalam kasus yang lebih ekstrim, suami memang tidak terbiasa menyelesaikan segala hal printilan rumah tangga sehingga menugaskan istri dengan "paksa", sehingga mau tidak mau si istri akhirnya terbiasa. Mandiri karena harus dan terbiasa.

Biasanya, si istri akan cenderung bangga karena ia memiliki eksistensi dalam rumah tangga. Bagaimanapun, si istri tidak begitu keberatan berbagi peran demikian, karena ia sudah menyadari penuh pembagian peran ini di awal pernikahan.



Akan tetapi, Ma, ada banyak perempuan mandiri karena memang harus demikian. Jika tidak mandiri, maka ia tidak akan bisa menyambung hidup dirinya, dan bahkan keluarganya. Perempuan-perempuan ini rela bekerja satu hari penuh demi sesuap nasi dan kebutuhan primer lainnya. Kebutuhan yang seharusnya bukan menjadi bagian dari peran yang ia ambil. Bukan kewajibannya.

Perempuan mandiri ini bertangan besi. Mereka pergi pagi, pulang sore, lalu diurusnya semua keperluan dirinya dan anak-anaknya, termasuk pendidikan anak-anak. Bukan hanya urusan antar jemput, tapi juga urusan membayar biaya sekolah anak-anaknya. Catat, bukan membantu membayarkan, tapi mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri untuk keperluan pendidikan anak-anaknya. Sambil terus berharap, sang anak kelak tidak memiliki nasib seperti dirinya.

Perempuan mandiri ini tidak pernah berhenti berdoa agar terus diberikan kekuatan untuk tegar setegar karang, atau setidaknya tampak demikian. Perempuan mandiri ini harus rela menahan hati saat ia mulai lelah dan ingin rehat. Beban di punggungnya terlalu berat.

Perempuan mandiri ini harus menahan rasa sakit dan perih saat ia harus berkendara di tengah lebatnya hujan untuk menjemput rezeki, atau menjemput anak-anaknya. Padahal di saat yang sama, ia juga sedang tidak dalam kondisi prima.

Perempuan mandiri ini harus rela menguatkan telinga, sekaligus mental baja saat bertemu sanak saudara, atau kerabat, yang bertanya, "Mana suami kamu?"



Eh, iya. Mana ya suaminya? Ada kok. Tapi, suaminya amnesia barangkali, atau memang sang suami dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjadi tulang punggung keluarga secara utuh.

Jadi, apakah perempuan mandiri ini benar kuat adanya? Saya akan mengacungkan empat jempol untuk mereka. Tapi urusan hati siapa yang tahu? Ketika sebenarnya perempuan mandiri ini sekaligus adalah perempuan yang rapuh, penuh trauma, dan seringkali mengalami stres bertumpuk.

Perempuan mandiri ini seringkali ingin sembunyi, sembunyi dari semua yang ia kerjakan dan hadapi sehari-hari.

Perempuan mandiri ini bisa jadi mengalami lelah mental dan fisik, dengan definisi lelah yang tak usah kita bayangkan dan coba mengerti.


Bayangkan saja jika ekspektasi tak pernah (bukan lagi tak selalu) sama dengan kenyataan. Mereka-mereka ini juga butuh sandaran. Mereka gelisah sepanjang waktu, dan ingin rehat.

Lalu, jangan kaget jika mereka-mereka ini tidak ingin anak-anak perempuannya melakukan hal yang sama. Sebisa mungkin dipanjatkannya doa dalam setiap sujud panjangnya.

Anak mereka, harus kuat, harus bisa menghidupi dirinya sendiri, atau bahkan harus memiliki pernikahan yang sempurna. Si anak perempuan tidak harus melakukan semua hal yang ibunya lakukan.


BACA JUGA


Indonesia Telah Merdeka dan Saatnya Mama Menjadi Perempuan Independen Dengan 5 Cara Ini!

Indonesia Telah Merdeka dan Saatnya Mama Menjadi Perempuan Independen Dengan 5 Cara Ini!

All the women who are independent, throw your hands up at me ~ Destiny's Child

Read more..


Jika ini adalah mama-mama kita, maka maafkan mereka dulu yang kadang alpa menyajikan makanan hangat tepat waktu. Karena, demi kita, mereka rela melakukan apa saja. Termasuk bertahan.

Salam untuk para perempuan mandiri, di mana pun mereka berada! Termasuk jika mereka itu adalah Mama.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perempuan Mandiri - Sekuat Apakah Mereka, Jika Ternyata Mereka Menangis di Balik Pintu Rumahnya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Woman, kids, and parenting enthusiasm

Silahkan login untuk memberi komentar