Pernikahan Kini Semakin Terasa Menakutkan. Benarkah? Mengapa?

Pernikahan Kini Semakin Terasa Menakutkan. Benarkah? Mengapa?

2.4K
Pernikahan – jatuh cinta, lalu dengan sukarela ‘mengikatkan’ diri satu sama lain. Berbagi hidup, hingga tua nanti.

Sejak zaman nenek moyang, sampai kakek nenek, sampai orangtua, melakukannya. Mereka menikahi orang yang dicintainya. Dan bahkan mereka sampai merayakan ulang tahun pernikahan sampai yang ke-30 tahun, ke-50 tahun, dan seterusnya. Cinta mereka berkobar terus, hingga maut memisahkan.

Tapi, kemudian saya mencoba melihat sekeliling. Mengapa semakin ke sini, semakin banyak perceraian? Mengapa pasangan-pasangan ini tak bisa betah dalam menjalani kehidupan pernikahannya? Padahal di awal mereka begitu menggebu-gebu, cintanya dipamerkan di depan orang banyak. Akhirnya? Segitu aja, lalu cerai? Apa yang membedakan pernikahan kita dengan pernikahan orangtua kita? Apa yang berubah?

Sampai saat ini, hal tersebut masih misteri. Namun akhirnya, melalui beberapa orang saya akhirnya mengerti sedikit, mengapa pernikahan kini begitu menakutkan bagi sebagian orang. Yang belum menikah jadi berpikir panjang untuk menikah, yang sudah menikah jadi takut untuk meneruskan pernikahan tersebut.


1. You have to be selfless


Yang berarti kita nggak bisa lagi hanya memikirkan diri sendiri. Keluarga selalu harus dinomorsatukan. Dan perempuan zaman sekarang, sudah sangat lebih maju pemikirannya ketimbang para pendahulu kita. Layaklah ungkapan bahwa perempuan itu hanya urusan dapur, sumur dan kasur kini sudah nggak berlaku lagi.

Dan dengan kemajuan yang sedemikian cepat, perempuan semakin dapat menghargai diri sendiri. Sebagian tahu banget, bahwa mereka nggak butuh menikah untuk berbahagia. Masih ada banyak hal yang bisa membahagiakan, misalnya jalan-jalan sendirian keliling dunia. Ya, itu hanya salah satu contoh saja.

Sebagian perempuan yang belum juga menikah mengungkapkan, bahwa mereka ngerti banget bahwa mereka harus mengorbankan kegemaran mereka selama masih single jika nanti sudah menikah. Dan mereka tak siap melakukannya.

Be selfless. Put the other person first. Make it a team effort, not an individual effort.

Pada kenyataannya, tak semua bisa bekerja dalam tim kan?

Begitupun pasangan yang akhirnya bercerai. Mereka pada akhirnya tak bisa mempertahankan sikap selfless yang harus ada ini.


2. Permasalahan finansial


Harga-harga kebutuhan pokok semakin merangkak naik.

Saat masih sendiri, hal ini tak terlalu menjadi masalah. Kita dengan mudah menyesuaikan diri. Yang tadinya makan tiga kali sehari, jadi cukup dua kali sehari. Yang tadinya makan di warung padang, lantas mencoba memasak sendiri supaya lebih hemat. Kalau belum gajian, coba mencari resepsi-resepsi pernikahan, siapa tahu bisa ikutan makan gratis. #eh

Tapi saat sudah menikah? Kalau istri diajak susah berdua, mungkin masih bisa. Tapi setelah ada anak-anak? Itu baru makanan. Belum sekolahnya. Belum kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Para orangtua kita bisa dengan mudah membedakan mana kebutuhan primer dan mana kebutuhan tersier. Sekarang? Semua semakin tipis garis batasnya. Ada yang rela mengurangi makan demi pulsa internet tetap terisi. Ada juga yang rela mengurangi jatah kebutuhan pokok demi bisa mempertahankan kebutuhan tersier. Kalau sudah begini, jadi nggak ketahuan mana yang primer dan mana yang sekunder kan?

Banyak yang takut menikah karena tak yakin bisa membesarkan anak-anak dengan baik, banyak pula yang bercerai karena masalah ekonomi ini.


3. Technology takes over!


Salah satu hal terbaik yang ada dalam suatu pernikahan adalah touching your spouse, kissing him, and then feeling him that makes your hair stand up. Merinding.

Dulu para orangtua kita selalu melakukannya. Sekarang? Iya, memang kita masih saling menyentuh. Tapi coba, kalau smartphone salah satu dari kita berbunyi, ada WhatsApp masuk, atau ada mention di Twitter, atau di Facebook. Apa yang dilakukan? Sentuhan itu akan berhenti, dan kemudian kita akan dengan segera meraih smartphone untuk membalas pesan atau membalas komen. Iya kan?

Zaman orangtua kita dulu belum ada smartphone, mereka juga nggak bermedsos. Sekarang setiap kali beranjak ke tempat tidur, kita membawa smartphone kita dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau. We’re taken over by the technology. Hingga kemudian makin lama, tanpa kita sadari we’re losing warmth of love and marriage. We’re losing that bond.

Belum lagi semua foto-foto tak pantas yang bisa diakses dengan mudah di Internet. Kita tiap hari disuguhi oleh bodi berototnya Channing Tatum, begitupun suami kita. Barangkali setiap hari ada Kim Kardashian setengah bugil wira wiri di linimasa Twitternya. Hingga kemudian tanpa sadar ada yang terdoktrin dalam otak, bahwa untuk menjadi menarik kita harus punya bodi sebagus mereka. Lalu, apa yang kita temukan di tubuh pasangan? Lemak di sana sini, selulit, gelambir ... Aduduh. Ini racun yang sesungguhnya.


4. Keinginan untuk “diperhatikan” menjadi lebih besar ketimbang keinginan untuk “dicintai”



Saat kita nggak diperhatiin sama pasangan, kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa pasangan nggak mencintai kita. Dan kemudian, kita bisa mendapatkan perhatian ini dengan mudah melalui media sosial.

Media sosial telah memberikan kesempatan pada setiap orang untuk bisa terkenal. Post foto kita, dan kemudian ribuan orang “asing” akan menyukainya. Ini juga tak pernah dilakukan oleh para orangtua kita. Karena mereka nggak selfie, mereka nggak mengunggahnya ke internet, dan mereka tak memikirkan apa-apa selain yang terjadi di hadapan mereka. There’s no second life for them.

If you want to love someone, stop seeking attention from everyone because you'll never be satisfied with the attention from one person.

Cinta seharusnya sakral. Kita nggak bisa mencintai seseorang ketika kita sibuk dengan pendapat dan komentar orang lain.


5. Pernikahan yang sempurna itu menakutkan


Para orangtua kita tampak bahagia dalam pernikahannya. They share things, they love each other, rarely argue, bersama dalam suka dan duka.

And it does scare!

Menakutkan!

Bagaimana kalau kita nggak bisa mewujudkan pernikahan yang sempurna seperti orangtua kita? Bagaimana kalau kita punya keinginan yang berbeda dengan pasangan? Bagaimana kalau apa yang kita suka adalah hal yang dibenci oleh pasangan?

Dan, bagaimana kalau kita gagal mewujudkan pernikahan yang indah dan sempurna itu? Apa kata keluarga? Apa kata tetangga? Apa kata dunia? Mereka semua akan menghakimi. Telunjuk-telunjuk mereka akan mengarah pada kita. Semua menjadi salah kita.

Benarkah, semua salah kita?


6. That “what if ...”


Dan, what if pasangan kita bukan orang yang seharusnya kita ajak menua bersama?

Mungkin agak terlambat memikirkan hal tersebut sekarang saat kita sudah menikah, tapi percayalah, kadang pikiran seperti itu sekali dua kali terlintas meski sudah menikah. Apalagi kalau ternyata pasangan tak sebaik yang kita bayangkan atau harapkan sebelumnya. Bahwa masa-masa pacaran yang cukup lama juga nggak begitu saja bisa mengungkap jati diri seseorang yang sesungguhnya.

“Setelah menikah kamu berubah!”

Bukan kamu yang berubah, tapi kamu pandai menyembunyikannya saat masih pacaran.


7. No, I have enough career challenges and I don’t do multitask


Namanya hidup, permasalahan datang tanpa permisi dan nggak pandang waktu. Nggak mungkin banget kan, saat kita lagi ada masalah di kantor lalu permasalahan pernikahan akan ditunda datangnya? When they come, and then they’re coming. No matter what.

Dan, sebagian dari kita tak bisa handle keduanya secara bersamaan. Sudah tahu juga bahwa millenials zaman sekarang lebih menomorsatukan karier mereka, ketimbang kehidupan pribadi. So that, permasalahan yang timbul di rumah pun akhirnya agak disingkirkan. Mereka akan mendahulukan pekerjaan. Urusan rumah selesaikan nanti saja kalau kerjaan sudah selesai.

And then, tanpa kita sadari, kita sedang menyimpan bom waktu.

Orangtua kita somehow, meletakkan pekerjaannya pada prioritas kedua setelah keluarga. Ingat bagaimana kita masih bisa diantar dan dijemput oleh orangtua kita saat sekolah? Sekarang? Ada banyak jasa antar jemput sekolah anak. Tapi ini juga disebabkan oleh tuntutan karier zaman dulu juga nggak seperti sekarang.

Lalu, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?


Pernikahan semakin kelihatan menyeramkan, kalau sudah begini. Karena memang pernikahan bukan sekadar ending dari hidup. There’s no such a happily ever after ending. Pernikahan adalah sebuah proses, dan resepsi pernikahan merupakan titik awal proses tersebut. Kehidupan yang sebenarnya baru dimulai di hari pertama setelah resepsi pernikahan.

Bon voyage!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pernikahan Kini Semakin Terasa Menakutkan. Benarkah? Mengapa?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar