Pernikahan Terancam Bubar? Mungkin Mama Masih Menganut 7 Paham yang Salah Besar Ini!

Pernikahan Terancam Bubar? Mungkin Mama Masih Menganut 7 Paham yang Salah Besar Ini!

1K
Tanyakanlah ke orang tua kita, nenek kakek kita, pernikahan mereka langgeng, justru karena tetap menyukai seseorang dengan segala kekurangannya. – Tere Liye

Hai, Ma, Pa. Tahukah, Mama dan Papa, tidak semua kata-kata orang itu harus kita dengarkan. Termasuk juga kata-kata orang tentang pernikahan, karena tidak semuanya tepat lho.

Wah kok bisa? Bisa dong, kalau yang bilang dari sudut pandang yang subjektif atau orang yang kurang keilmuannya. Terus kata-kata seperti apa sih, yang tidak tepat orang ucapkan pada umumnya? Yuk, lihat di sini!


BACA JUGA


5 Cara Sederhana Membahagiakan Suami Agar Pernikahan Mama Awet

5 Cara Sederhana Membahagiakan Suami Agar Pernikahan Mama Awet

Membahagiakan suami memang sudah menjadi tugas kita, Ma. Bahkan kita harus mementingkan kepentingan suami di atas anak-anak

Read more..


7 Pemahaman salah tentang pernikahan yang ada dalam masyarakat kita

1. Mencari pasangan yang sempurna


Jika kita sibuk mencari seseorang yang sempurna untuk menjadi pasangan kita, maka sampai kapan pun kita akan sulit untuk menikah. Atau, bahkan sulit pula untuk mempertahankan pernikahan itu sendiri.

Kok gitu? Iya, Ma, karena nggak ada manusia yang sempurna, bukan?

Hal tersebut akan bisa membuat kita harus sering kecewa. Saat kita menemukan bahwa ternyata pasangan kita tidak sempurna seperti yang kita inginkan, maka kita bisa saja ingin menyerah dalam pernikahan kita.

Jadi, Ma, Pa, daripada kita terlalu banyak berharap atau menuntut pasangan kita untuk sesempurna bayangan kita, kenapa tidak kita belajar untuk saling menerima, saling berbagi, dan saling melengkapi satu sama lainnya?

Itu pastinya akan lebih nyaman di hati kan?


2. Di dalam pernikahan itu harus ada yang mengalah


Suka dengar nggak, Ma, Pa, kata-kata orang yang seperti ini?

"Supaya pernikahan bisa langgeng, maka harus bisa mengalah!"

Yes, Mama pasti pernah mendengarnya, dan mungkin sekarang sedang berusaha untuk menjalankannya. Betul?

Apa yang benar-benar harus seperti itu ya?

Hmmm, enggak, Ma. Itu kurang tepat. Loh, kok bisa? Karena mengalah bisa berarti kita akan selalu kalah, dan bisa berarti kita akan berpeluang untuk menjadi yang teraniaya.

Bila ini terus terjadi, kita terus-terusan mengalah pada pasangan dalam kurun waktu yang lama, bisa jadi akan membahayakan pernikahan Mama lho!

Pernikahan bukan soal siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tapi tentang bagaimana kita belajar untuk saling memahami dengan pasangan kita.

Jadi gimana dong? Hmmm, coba yuk, kita ganti pengertian "mengalah" dengan "melakukan yang terbaik". Kita bukan mengalah dari pasangan, tapi kita sedang berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik di dalam pernikahan ini.

Pemahaman yang lebih positif itu akan lebih menguatkan dan menenangkan diri kita, Ma. Bukankah pernikahan adalah ibadah terlama kita, di mana di dalam ibadah itu ada tentang berbuat kebaikan yang pastinya lebih disukai oleh Tuhan.

Karena, di dalam pernikahan itu, bukan hanya tentang kita dan pasangan kita tetapi juga ada Tuhan di dalamnya.


3. Harus terbuka tentang segala hal dengan pasangan


Bayangkan, jika di suatu sore yang cerah, Papa datang sembari membawakan dua cangkir teh untuk dinikmati bersama, dan kemudan bilang, "Ma, tahu nggak sih? Dulu Papa punya mantan, cantik banget lho!"

Jengjeng!

Maksssud?

Apa coba maksud Papa bercerita tentang mantan? Mau bikin cemburu? Mau membandingkan Mama nih? Kan KZL bin ZBL jadinya kan?

Kembali lagi ke poin 2 yuk, Ma. Berlomba untuk memberikan yang terbaik bagi pernikahan kita. Apa yang berpotensi menimbulkan pertengkaran, sebaiknya dihindari saja.

Bener deh. Mama pasti akan lebih bersyukur nggak tahu apa-apa soal mantan ketimbang Papa selalu menceritakan semuanya tentang mantannya itu.

Apa coba manfaatnya untuk pernikahan kan?


BACA JUGA


Pernikahan Sudah Tak Membahagiakan Lagi? Perbaiki Kondisi dengan 5 Hal Kecil Ini!

Pernikahan Sudah Tak Membahagiakan Lagi? Perbaiki Kondisi dengan 5 Hal Kecil Ini!

Pernikahan yang harus kita hadapi bukanlah pernikahan ala negeri dongeng yang "happily ever after", tanpa muncul masalah sama sekali. ...

Read more..


4. Hati-hati sama mertua


Mitosnya mertua itu menakutkan! Suka riwil, suka turut campur, suka bikin posisi kita sebagai menantu jadi sulit!

Hmmm, benarkah demikian?

Well, nggak semua begitu. Itu semua tergantung pada pribadi si mertua, dan juga tergantung bagaimana sikap kita pada mereka.

Jadi, jangan pernah Mama punya mindset seperti itu sejak awal pernikahan ya. Jika Mama sudah punya anggapa begitu, maka yang ada dalam pikiran Mama itulah yang akan juga Mama rasakan dan terjadi kemudian.

Jadi, alih-alih menganggap mertua sebagai musuh atau saingan, mengapa tak menganggap mereka sebagai orang tua kedua kita? Senangnya punya orang tua tambahan!

Sehingga, jangan lupa menyempatkan diri untuk bertanya keadaan mertua ya, Ma. Jadwalkan agar Mama bisa teratur menelponnya atau mengunjunginya. Dan sering-seringlah memberinya hadiah kecil.

Mertua mana pun pasti senang mendapatkan perhatian yang besar dari menantunya. Namun, tetap berikan batasan-batasan yang jelas pada mertua melalui sikap kita, karena bagaimanapun, mertua adalah "orang luar". Sehingga kita dan mertua bisa tetap saling menghormati wilayah masing-masing.


5. Jangan pernah berdebat dengan pasangan


Jika dalam sebuah hubungan tidak ada perdebatan, bagaimana kita bisa tahu isi hati, pendapat, dan apa yang pasangan kita sukai dan tidak ia sukai?

Tapi pastinya, perdebatannya haruslah perdebatan yang sehat ya, Ma, Pa. Bukan perdebatan yang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, apalagi jika dengan saling meninggikan suara.

Bukan yang seperti itu. Perdebatan ini adalah sebuah diskusi, yang sama-sama untuk mencari jalan keluar dari masalah.

Tahukah, Mama, dan Papa. Jika sebuah perbedaan tidak dikomunikasikan dengan baik dan dengan cara yang baik, maka pasti akan timbul masalah di kemudian hari. Bisa jadi semua permasalahan itu akan terus menumpuk, dan akhirnya menjadi bom waktu, yang bisa meledak kapan saja.

Jadi, jangan heran deh. Kalau ada pernikahan yang terbangun puluhan tahun tiba-tiba bisa kandas begitu saja.


6. Menikah itu nggak kayak pacaran


Menikah itu sama kok seperti pacaran, Ma. Malah di dalam pernikahan itu, pacaran harus tetap ada. Karena itu merupakan salah satu rahasia merawat dan menyuburkan kembali rasa cinta kita pada pasangan.

Kalau sudah menikah, terus jadi nggak romantis dan nggak seperti pacaran lagi, akan membuat kita mudah untuk bosan dengan pasangan lho. Akhirnya pernikahan dan semua di dalamnya hanya menjadi rutinitas yang begitu-begitu saja.

Jadi, penting banget ya, Ma, untuk bisa memiliki waktu berdua saja, hanya dengan suami tanpa anak-anak. Tak apa-apalah kadang-kadang anak dititipkan dulu sebentar, pada neneknya atau orang terdekat kita. Sedangkan Mama dan Papa kencan sebentar keluar, makan berdua di resto atau nonton film berdua di bioskop.


7. Harus saling kerja keras jika ingin pernikahan awet


Pernikahan itu, bukan sekadar pekerjaan di mana kita harus bekerja keras untuk membangun dan mempertahankannya.

Duh, kesannya kok pernikahan itu sungguh nggak membahagiakan ya, Ma. Rasanya jadi beraaat ... banget! Padahal sebenarnya, pernikahan itu seharusnya bisa membuat kita bahagia.

Jadi, ayo, buang pikiran memaksakan diri dengan bekerja keras dalam menjalaninya.



Yes, itu dia 7 pemahaman yang salah soal pernikahan yang sering kita dengar dari orang-orang sekitar kita, yang bisa mengancam kebahagiaan kita dalam pernikahan.

Lepaskanlah semua pemahaman yang salah itu, dan mulai memperbaiki dan membangun pemahaman baru.

Jadikanlah pernikahan sebagai "alat" untuk membuat kebahagiaan.

Selamat berbahagia ya, Ma.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pernikahan Terancam Bubar? Mungkin Mama Masih Menganut 7 Paham yang Salah Besar Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yeni Sovia | @yenisovia

Bunda Erysha / IRT / Blogger www.yenisovia.com

Silahkan login untuk memberi komentar