Pilkada DKI yang Seru Jangan Sampai Membuat Si Kecil Jadi Membenci Perbedaan! Simak 7 Cara Mengajarkan Toleransi Ini!

Pilkada DKI yang Seru Jangan Sampai Membuat Si Kecil Jadi Membenci Perbedaan! Simak 7 Cara Mengajarkan Toleransi Ini!

3.1K
Sungguh Pilkada yang seru! Masyarakat terpecah menjadi beberapa kubu. Padahal perbedaan adalah hal yang tidak bisa dihindari dalam masyarakat. Waspadai dampak buruknya pada anak-anak!

Masa Pilkada DKI Jakarta ini ... luar biasa! Seru banget, ya Ma?

Kayaknya nggak ada orang yang nggak memperhatikan proses Pilkada ibu kota kita ini ya. Semua membicarakannya; di media sosial, di keluarga, di supermarket, di mana-mana! Bahkan orang yang berdomisili luar DKI Jakarta pun turut serta dalam keriuhan. Teman saya berseloroh, yang mau memilih pemimpinnya DKI Jakarta, yang peduli se-Indonesia.

Satu sisi, hal ini baik karena menunjukkan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemimpinnya, tapi di sisi lain, keberpihakan terhadap para paslon memunculkan sentimen terhadap mereka yang memihak pada paslon yang berbeda. Yang menyedihkan, hal ini mengimbas pada anak-anak kecil juga.


BACA JUGA


Manfaatkan Momen Pilkada 2017 untuk Memperkenalkan Isu Sosial dan Politik pada Anak

Manfaatkan Momen Pilkada 2017 untuk Memperkenalkan Isu Sosial dan Politik pada Anak

Pilkada 2017 sudah semakin dekat. Selain menyiapkan diri untuk memilih, momen ini bisa juga menjadi momen tepat untuk memperkenalkan arti ...

Read more..


Sebutlah sebuah posting yang viral di media sosial, yang membahas surat seorang anak kecil kepada anak kecil lainnya. Isinya tentang kebencian sang pengirim karena penerima (atau mungkin orang tuanya) memiliki preferensi terhadap paslon Pilkada yang berbeda.

Perbedaan memang sangat mungkin untuk diobservasi oleh semua usia, termasuk anak kecil. Salah satunya dalam Pilkada kali ini.

Ingat kan, betapa seringnya anak kita mengoceh "Kok orang itu kulitnya gelap sih, Ma?", "Kok orang itu pakai bajunya tertutup semua?", dan pertanyaan-pertanyaan innocent lainnya. Kita tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai ekspresi rasa keingintahuan mereka, tanpa pretensi apa pun.

Namun, ketidaksukaan terhadap perbedaan bukanlah hal yang terjadi secara natural. Anak-anak pasti telah mempelajari hal tersebut dari lingkungannya.

Padahal perbedaan adalah hal yang tidak bisa dihindari dalam masyarakat. Jika ingin hidup di Indonesia, negara ini adalah negara multietnis, multiras dan multi agama. Tingkat keberagaman tinggi sekali, ya Ma?

Jika ingin hidup dalam masyarakat di luar Indonesia, keberagamannya akan lebih tinggi lagi. Bukankah pada dasarnya, manusia adalah individu-individu yang unik? Orang yang memiliki latar belakang etnis yang sama, belum tentu memiliki pola pikir dan karakter yang sama pula.

Kompleks ya?

Seorang anak yang terbiasa untuk tidak menyukai apa pun atau siapa pun yang berbeda dengannya, tentu saja akab berbahaya. Ia tidak akan survive hidup, karena pasti akan berfriksi dengan lingkungan mana pun ia tinggal.

Tentu saja kita tidak ingin hal tersebut terjadi pada mereka ya, Ma? Kita pengin anak kita sukses hidup di mana pun.

Mengajarkan toleransi, adalah 'penyelamat' nasib masa depan anak kita, Ma.

Toleransi merupakan sikap yang mengandalkan respek dan keterbukaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kita.

Terkadang, banyak salah kaprah mengenai toleransi ini; dianggap bahwa sikap ini merupakan wujud dari sikap plin-plan. Padahal sesungguhnya, ketika seseorang bertoleransi, bukan berarti orang tersebut kemudian membuang prinsipnya untuk mengikuti perbedaan. Namun, bertoleransi artinya orang tersebut berkenan menghargai perbedaan, mau menjembatani senjang budaya, menolak stereotip buruk terhadap pihak tertentu, mencoba mencari persamaan dan menciptakan ikatan baru.


BACA JUGA


Pilgub DKI Mendatang: 5 Pertimbangan Inilah yang Biasanya Menjadi Dasar Para Mama dalam Memilih

Pilgub DKI Mendatang: 5 Pertimbangan Inilah yang Biasanya Menjadi Dasar Para Mama dalam Memilih

Pilgub DKI sudah seru sejak lama. Mendekati hari H pemilihan, kita seharusnya sudah tahu pasangan mana yang akan kita pilih 15 Februari ...

Read more..


Toleransi merupakan lawan dari prasangka.

Tentu saja kita mau anak-anak kita hidup dalam masyarakat yang penuh toleransi kan? Kondisi itu tidak akan muncul begitu saja, namun harus dibentuk dan dimulai dari unsur terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

Keluarga kita.


Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan toleransi dengan memanfaatkan momen Pilkada



1. Perhatikan perilaku kita

1. Perhatikan Perilaku Kita -

Seklise-klisenya ungkapan bahwa anak-anak belajar dengan cara meniru kita (orang dewasa), namun suka tidak suka, hal tersebut memang benar. Bagaimana mungkin kita mengajarkan tentang toleransi, jika perilaku kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan? 

We should walk the talk.

Coba ingat-ingat, pernahkah Mama (dan Papa) mengeluarkan pernyataan negatif tentang orang yang memiliki perbedaan latar belakang dengan keluarga Mama?  Mungkin Mama melakukannya tanpa sengaja, karena ingin melindungi si kecil dari hal yang tidak sesuai dengan prinsip keluarga.
'Jangan ditato! Orang bertato itu maling semua!'

Itu salah satu contohnya. Satu kalimat tersebut akan tertanam dalam benak sang anak, sehingga ia tumbuh menjadi orang yang membenci dan menganggap bahwa semua orang bertato adalah penjahat.

Atau, Mama pernah melontarkan bercandaan tentang cara beribadah agama tertentu, warna kulit, ritual budaya, tentang transgender, tentang kekurangan tubuh orang lain dan lain sebagainya? 

Waspada, Ma, hal tersebut juga sangat berlawanan dengan toleransi yang ingin Mama ajarkan.



2. Jawab pertanyaan si kecil tentang perbedaan dengan nada positif

2. Jawab Pertanyaan Si Kecil Tentang Perbedaan Dengan Nada Positif -


Anak kecil adalah mahluk yang penuh rasa ingin tahu, semua hal bisa menjadi pertanyaan baginya, termasuk perbedaan yang mereka lihat di sekitar mereka. 

Jawab pertanyaan mereka, termasuk soal Pilkada ini, dengan nada positif ya, Ma. 

Hindari untuk mengatakan bahwa mereka yang berbeda itu pasti salah. Tegaskan bahwa perbedaan itu wajar. Beri analogi lima jari kita, yang bentuk dan fungsinya berbeda-beda, namun tidak ada yang salah dengan itu. Justru malah saling melengkapi.



3. Jelaskan tentang berbagai macam bentuk prasangka buruk tentang golongan tertentu yang ditampilkan dalam media

3. Jelaskan Tentang Berbagai Macam Bentuk Prasangka Buruk Tentang Golongan Tertentu Yang Ditampilkan Dalam Media -


Kita tahu bahwa media cetak, elektronik dan internet, selain membawa keuntungan, terkadang juga memberi pesan buruk bagi masyarakat, termasuk anak-anak. Apalagi selama proses Pilkada ini. Apa yang diberitakan cenderung akan membawa tendensi tertentu pada opini publik.

Amati apa yang dibaca dan ditonton oleh si kecil, Ma, selalu siap untuk menjelaskan (dan mengoreksi) ketika muncul sikap-sikap negatif melawan golongan tertentu. 

Jangan diam saja ya, Ma, ketika melihat ada sosok dengan kekurangan tubuh tampil sebagai bahan olok-olokan. Jangan pula menutup mata ketika ada suku tertentu ditampilkan dengan stereotip negatif. 

Jangan pura-pura tidak tahu ketika media menampilkan unsur penolakan terhadap perbedaan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pilkada DKI yang Seru Jangan Sampai Membuat Si Kecil Jadi Membenci Perbedaan! Simak 7 Cara Mengajarkan Toleransi Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Oktarina Prasetyowati | @oktarinaprasetyowati

Seorang perempuan, seorang ibu, seorang pengajar yang terus belajar, penggemar boots & sneakers, senang menulis dan senang menggambar. Berminat dengan isu gender, pun feminist parenting.

Silahkan login untuk memberi komentar