Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

sumber: youthmanual.com

Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

1.7K
Youth is the best time to be rich, and the best time to be poor. – Euripides

Masih ingat Awkarin, Ma?

Karin “Awkarin” Novilda, seorang remaja perempuan yang menjadi selebgram, vlogger, dan pengguna Ask.fm, yang katanya kontroversial. Satu dari banyak selebriti dunia maya yang diidolakan remaja masa kini.

Di satu sisi, Awkarin telah menjadi sosok idola remaja, bahkan dijadikan #RelationshipGoals. Di sisi lain, ia akhirnya menjadi kontroversi, terutama di kalangan kita yang sudah dewasa. Bisa dibilang, Awkarin mungkin adalah satu sosok yang bisa mewakili kehidupan dan "idealisme" remaja yang kekinian.

Kalau mau mengingat lagi, kita semua pernah remaja, mungkin juga pernah “gila”, seperti Awkarin. Karena remaja memang punya kecenderungan untuk menerima tantangan dan mencoba berbagai hal baru.

Wajarlah kemudian jika membuat sebagian orang, terutama yang sudah berpredikat sebagai orangtua, prihatin mengenainya. Mungkin saat Mama dan Papa remaja dulu, orangtua Mama dan Papa juga prihatin terhadap kelakuan bandel yang Mama lakukan. Wajar sekali. Namun, sayangnya, keprihatinan itu kemudian bergeser ke arah menghakimi.

Ah, namanya manusia, niat yang baik tak selalu berhasil kita sampaikan dengan baik. Bukan begitu, Ma?

Mumpung hari ini adalah International Youth Day, yang memang diperingati setiap tanggal 12 Agustus, sebuah awareness day oleh PBB akan kehidupan para muda mudi dunia beserta lingkungan dan kebudayaannya, yuk, kita coba mulai mengkritisi diri kita sendiri mengenai cara "menilai" fenomena dan tingkah laku para remaja umumnya di masa kini.

Sudah adilkah kita dalam melihat apa yang ada dalam diri remaja kita?


Baca juga: Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!


1. "Anak muda zaman sekarang memang parah kelakuannya!"


Kehidupan dunia maya remaja sekarang sebetulnya bisa mengingatkan kita pada apa yang kita saksikan dan alami di masa remaja. Hanya saja, waktu itu belum ada ponsel sepintar sekarang, apalagi Instagram. Beli simcard saja masih mahal, internet harus pakai sambungan telepon atau nangkring di warnet yang lumayan menguras uang jajan, apalagi mau streaming lama-lama di Youtube.

Waktu kita remaja, Ma, gaya pacaran seperti Awkarin sebetulnya sudah bisa ditemukan. Banyak. Hanya, karena belum ada media sosial, hal-hal seperti itu tidak terlalu tampak oleh kita, tidak cepat viral, sekaligus tidak terlalu mudah untuk dikomentari.

Saya masih ingat, waktu saya masih SD tahun 1990-an, ada sinetron bagus. Judulnya “Janjiku”, dulu dibintangi Paramitha Rusady dan Teddy Syah (kalau tidak salah ingat). Ceritanya adalah tentang seorang remaja yang diberi obat tidur oleh kawan lelakinya saat berkemah bersama kawan-kawan mereka yang lain, diperkosa di dalam tenda, lalu hamil dan melahirkan anak perempuan yang buta.

Setelah zaman “Janjiku”, saat saya SMP tahun 2000-an, muncullah generasi mIRC dan Friendster. Kalau dulu Mama juga main mIRC, pasti tahu: seks bertebaran di mana-mana. Orang sengaja masuk ke chat room atau menggunakan ID tertentu untuk mencari partner chat sex, phone sex, bahkan sampai kopi darat. Friendster juga serupa, kalau tahu bagaimana mencarinya.

Sebelum itu, remaja zaman 70 atau 80-an menggunakan media stensilan atau cerita-cerita erotis – siapa, sih, yang tidak kenal nama Enny Arrow?

Apakah bedanya remaja sekarang dan remaja dulu (baca: kita) perkara “keliaran”? Bisa jadi sama saja. Bedanya hanya kecepatan akses. Remaja dulu membaca stensilan. Remaja sekarang membaca internet. Setiap generasi remaja pada dasarnya selalu memiliki masa-masa seperti itu.

So, apakah hanya remaja sekarang yang parah kelakuannya? Sepertinya enggak sih, sudah sejak dulu.


Baca juga: Apa, Nak? Kamu Ingin Menikah di Usia 17 Tahun? Ini Dia Jawaban-Jawaban Kami, Orangtuamu!


2. “Remaja sekarang itu adalah remaja labil yang haus perhatian!”


Di lagunya yang berjudul Pernah Muda, Bunga Citra Lestari bilang begini:

Bilang papamu/ berhenti urusi/ semua urusan/ kau dan aku

Biarkanlah saja dulu/ kita jalan berdua

Mereka pun pernah muda/ Saatnya kau dan aku sekarang

Kalau mendengar kalimat seperti itu dilontarkan anak muda kepada kita, kadang memang suka jengkel, ya. Yang terpikir adalah justru karena kita pernah muda, maka kita tentu tahu bagaimana rasanya menjadi muda.

Apa betul Mama masih ingat, seperti apa rasanya jadi remaja?

Saya punya pengalaman personal soal ini. Sejak kecil, saya bukan orang yang supel. Ketika SMP, saya masuk ke sekolah swasta favorit. Sepanjang masa SMP dan SMA, saya kerap di-bully. Dan karena segala macam alasan, saya tak bisa bercerita pada siapa-siapa. Kebanggaan saya waktu itu cuma satu: prestasi akademis saya. Tapi itu pun ternyata tak cukup – prestasi akademis tak bisa menjamin kita bisa disukai dan diterima.

Maka jalan “penyelamat” yang saya sambar demi merasa berharga adalah menggantungkan diri pada seorang lelaki, pacar serius saya yang pertama. Bagi saya saat itu, lelaki itu adalah satu-satunya orang yang mau menerima saya apa adanya. Biarpun ternyata dia sangat posesif. Biarpun ternyata dia selalu berusaha mengontrol saya. Biarpun ternyata dia sering melakukan sex abuse. I still clung to him like a safety rope. Sampai ketika ia memutuskan saya, saya begitu terpukul dan melakukan percobaan bunuh diri. Usia saya waktu itu 17 tahun.

Faktanya, jika kita sama-sama mengingat kembali masa remaja kita, menjadi remaja sama sekali bukan sesuatu yang mudah. Masa remaja adalah masa ketika segalanya berubah. Dan perubahan adalah sesuatu yang menakutkan.

Di masa remaja, otak masih berkembang sampai paruh awal usia 20-an. Seksualitas mulai mekar, dan nafsu seksual adalah sesuatu yang sangat intens pengaruhnya. Faktor-faktor eksternal pun berubah. Kemandirian bertambah seiring dengan bertambahnya tuntutan dari luar. Keinginan untuk diterima oleh teman-teman sebaya adalah kehausan yang mahadahsyat – untuk bisa menjadi gaul, diterima (dan dikagumi) oleh teman-teman sejenis kelamin, dicintai (dan diingini) oleh teman lawan jenis kelamin. Kita selalu merasa harus membuktikan sesuatu, membebaskan diri dari “kekangan” masa kanak-kanak. Kita mencari-cari cara agar tidak diremehkan, baik oleh teman sebaya maupun generasi yang lebih tua. Hal-hal seperti itu menjadi dorongan yang terus-menerus dalam hidup seorang remaja.

Betul, Ma. Ternyata, hidup sebagai remaja itu tak selalu seindah film "Ada Apa dengan Cinta?".


Baca juga: Surat untuk Papa, dari Mama yang Belum Bisa Move On dari Nicholas Saputra aka Rangga


3. "Moral remaja sekarang sudah rusak!"


Mama pernah mendengar tentang konsep “otoritas tubuh”? Dalam KBBI edisi daring, lema “otoritas” berarti “kekuasaan; wewenang” atau “hak untuk bertindak”. Maka otoritas tubuh berarti kekuasaan, wewenang, dan hak yang dimiliki seseorang atas tubuh. Dalam hal ini, tubuhnya sendiri.

Otoritas tubuh, selain berupa hak kepemilikan tubuh secara fisik, juga merupakan hak untuk bebas dari label-label atau nilai-nilai yang ditempelkan kepada kita dan tubuh kita. Misalnya, seorang perempuan disiuli di jalan oleh segerombolan pemuda, dipanggil-panggil, diteriaki, “Hei, cantik, senyum, dong!”, dan sebagainya. Dalam kasus ini, tubuh sang perempuan sedang “dinilai” sebagai obyek berbau seksual oleh laki-laki, dan itu melanggar otoritasnya atas tubuhnya sendiri.

Ada satu jenis pelanggaran otoritas tubuh yang dinamakan “slut-shaming”. Menurut Wikipedia, “slut-shaming” adalah sebentuk stigma sosial yang dikenakan kepada seseorang, biasanya perempuan, yang dianggap menyalahi aturan-aturan tradisional atau konvensional soal perilaku seksual. Bentuknya macam-macam. Bisa menilai dari pakaian, perilaku, sikap tubuh, aktivitas seksual, atau bahkan keputusan untuk menggunakan kontrasepsi.

Pengertian “gampang” dari slut-shaming adalah, “Kalau si A memakai/bertingkah begini atau begitu, dia pasti perempuan gampangan.” Alih-alih mengajarkan respek pada setiap orang dan pilihan-pilihan yang mereka ambil atas tubuh atau hidup mereka, slut-shaming mengajarkan untuk merendahkan dan menghakimi orang lain berdasarkan subyektivitas dan hal-hal yang superfisial saja.

Sedihnya, Ma, slut-shaming seringkali tampak benar, wajar, atau logis untuk dilakukan. Hanya karena semua orang lain juga melakukannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, slut-shaming sering dilakukan – bahkan oleh kaum perempuan kepada sesama perempuan. Misalnya, kita melihat berita tentang seorang selebriti yang sering mengenakan pakaian terbuka. Tak jarang keceplosan dari mulut kita komentar negatif tentang tubuh, pakaian, relasi pribadi, atau bahkan moral sang selebriti. Atau, di jalan kita berpapasan dengan mahasiswi yang mengenakan pakaian ketat. Kadang bisa terlintas dalam pikiran kita, jangan-jangan mahasiswi ini punya “kerja sampingan”.

Tahukah, Ma, dengan menilai dan menghakimi seseorang (baca: remaja) sedemikian rupa sebagai orang yang rusak moralnya, atau buruk tingkah lakunya, kita sedang melakukan slut-shaming terhadapnya (apalagi kalau hanya bermodal media sosialnya, tanpa kita tahu kehidupan yang sebenarnya telah dijalani).

Kita tidak bisa kenal orang-orang yang hanya kita tahu lewat dunia maya. Siapa pun itu, selebgram, selebtweet, seleblog. Kita tidak tahu seperti apa hidupnya, keluarganya, perasaannya, bebannya. Kita tidak tahu mengapa ia memilih untuk melakukan apa yang sekarang ia lakukan. We never stand in their shoes!

Tapi dengan bebas, kita merendahkan dan mempermalukan dia.

Dan pelajaran apa, Ma, yang bisa dipetik remaja-remaja kita dari sikap merendahkan orang lain yang kita contohkan, orangtua mereka? Penghakiman sepihak!


Baca juga: Lindungi Anak-anak Mama dengan Memikirkan Lebih Dulu 7 Hal Berikut Sebelum Posting di Media Sosial!


4. “Jangan Sampai Seperti si Anu! Dia Itu Contoh yang Buruk!”


Hukum sebab akibat itu memang nyata. Tidak ada pilihan yang tidak membawa risiko.

Tapi, seperti yang banyak terjadi saat masyarakat kita sibuk mengomentari kasus-kasus pelecehan seksual, seringkali terlalu mudah bagi kita untuk melakukan hal-hal yang salah kepada seseorang lalu mencari pembenarannya – dalam bentuk, “Dia pantas, kok, dibegitukan.”

Menyukai atau tak menyukai seseorang adalah hak kita. Perbedaan pandangan itu wajar, sehat, dan akan selalu ada. Masalahnya adalah apabila kita mulai melakukan hal-hal yang melanggar hak-hak seseorang atau mendiskriminasinya, hanya karena kita tidak menyukainya – atau karena kita merasa lebih baik dari dia.

Ketika saya remaja dan sedang berusaha memikirkan tentang banyak hal dalam hidup, saya paling merasa jengkel jika ibu saya sendiri berusaha untuk mengatur saya tanpa memberikan saya hak bicara atau hak membela diri. Rasanya komunikasi hanya berjalan satu arah dan cuma ibu saya yang benar, sementara saya sekadar sebagai penerima yang tak punya hak berpendapat.

Sungguh, Ma, itu bukan perasaan yang menyenangkan.

Pasti akan lebih menyenangkan, Ma, apabila kita mengajak remaja kita untuk berdiskusi tentang hidupnya – alih-alih hanya menghakimi dan menjadikannya sebagai “contoh buruk” untuk dibeberkan dalam ceramah satu arah. Yang nyata bagi kita sekarang adalah remaja-remaja kita, anak-anak kita. Fokuslah pada mereka. Tak perlu mengambil "nama" seseorang untuk menjadikannya sebagai contoh buruk.

Kita bisa mulai bertanya, misalnya dalam kasus Awkarin yang baru lalu. Tanyakan saja pada mereka, kenapa mengidolakan Awkarin? Apa arti Awkarin menurut mereka? Kenapa mereka menjadikannya #RelationshipGoal? Apa, sih, pengertian relationship menurut mereka? Apa, sih, pengertian relationship goal menurut mereka?

Dari upaya bertanya dan berdiskusi itu, mungkin kita baru bisa mulai memahami apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Lebih asyik daripada dihantui segala kekhawatiran tidak jelas, kan, Ma?

Kadang kita lupa, Ma, bahwa remaja berhak, mampu, dan harus diberi kesempatan untuk berlatih berpikir, berpendapat, bernalar, menemukan sendiri apa saja pilihan yang tersedia bagi mereka dan apa risiko yang menyertai setiap pilihan itu, lalu memutuskan pilihan mereka. Kadang apa yang menurut kita (atau yang kita paksakan sebagai) baik, belum tentu baik pula untuk mereka.


Baca juga: Wahai, Papa Muda, Galau Mengasuh Anak? Coba Tiru Semangat Taylor 'MMMBop' Hanson Membesarkan 5 Buah Hatinya!


Menjadi Seorang Remaja itu Sudah Berat!


Saya tidak pernah menyesali masa-masa “gelap” yang pernah terjadi di masa remaja saya. Bukan karena saya ingin membanggakannya ke mana-mana. Tapi saya memutuskan untuk menerimanya, membedahnya, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang ikut membentuk siapa saya saat ini.

Apakah apa yang dulu saya lakukan adalah suatu kesalahan? Mungkin. Tapi, bagaimana jika tanpa hal-hal itu, saya tidak bisa menjadi saya yang sekarang?

Saya pikir ada dua hal penting yang harus kita ajarkan pada remaja-remaja kita sekarang.


1. Hak mereka

Bahwa setiap orang berhak dan boleh memilih apa yang diyakininya terbaik bagi tubuh dan hidupnya, sejauh tidak merugikan atau melanggar hak orang lain. “Setiap orang” di sini adalah termasuk diri mereka sendiri ya, Ma.

Contoh praktis menghargai ini adalah lewat pendidikan seks. Misalnya, ada orang yang (mungkin tanpa sengaja, dan tanpa tendensi tertentu) membagikan foto berciuman atau berpelukan dengan pacarnya. Alih-alih langsung menghakiminya sebagai tidak bermoral, kita bisa mengajarkan pada remaja kita, bahwa mereka tidak HARUS berciuman atau bersedia dipegang sana-sini atau berhubungan seks hanya agar merasa diterima oleh seorang lawan jenis. Mereka juga tidak boleh memaksa orang melakukannya. Sebab, sekali lagi, tubuh mereka adalah milik dan tanggung jawab mereka.


2. Bagaimana cara mempertimbangkan sesuatu sebelum memutuskan

Kedua, bahwa setiap pilihan harus dibuat dengan pertimbangan yang sematang mungkin, karena tidak ada pilihan yang tidak membawa risiko. Kita harus belajar mengenali risiko yang dibawa setiap pilihan. Kalau kamu lakukan A, kemungkinan akan terjadi B. Siapkah kamu menerima dan mengatasi B?

Ini bukan soal hukum karma. Ini soal belajar bernalar, bertanggung jawab, dan bijak – tanpa harus merendahkan siapa-siapa ketika kita mengajarkannya.


Baca juga: Inilah 4 Inspirasi Tentang Memulai Hidup Baru Berkaca dari Kegagalan Keluarga Ana dan Fia British Got Talent


Ah, Ma, memang betul apa kata Kahlil Gibran. Sesungguhnya, pada akhirnya remaja-remaja kita sama sekali bukanlah milik kita. Mereka tak pernah menjadi milik kita. Melahirkan, merawat, membiayai, atau sekadar berusia lebih tua dari mereka tak pernah berarti kita memiliki tubuh, hati, atau pikiran mereka. Mereka bukan investasi masa depan atau tropi yang bisa kita pamerkan.

Pada akhirnya, remaja-remaja kita akan menentukan nasib mereka sendiri. Satu-satunya yang bisa kita usahakan adalah menanamkan kepada mereka tiga modal paling penting dalam hidup. Cinta kasih, penggunaan nalar, dan bagaimana bersikap adil, bahkan sejak dalam pikiran.

Selamat memperingati International Youth Day! Semoga remaja kita tumbuh menjadi pribadi yang dimanusiakan!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Putri Widi Saraswati | @putriwidisaraswati

INTJ. Feminis amatir, pencinta buku, penulis angot-angotan, dokter saat dibutuhkan. Belum jadi mama - but would like to be, someday.

Silahkan login untuk memberi komentar