Puasa dan Lebaran Identik dengan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok - Ternyata Ini Sebabnya!

Puasa dan Lebaran Identik dengan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok - Ternyata Ini Sebabnya!

1.4K
Harga kebutuhan pokok selalu meroket naik saat bulan puasa dan menjelang Lebaran. Fenomena alam, ataukah buatan manusia?

Sembari menahan lapar karena puasa, saya tiba-tiba saja teringat kata-kata ibu saya di kampung tempo hari. Beliau bilang, bulan puasa dan Lebaran harga-harga naik. Siap-siap saja!

Tak pelak, hal ini membuat saya berpikir. Iya ya, setiap kali bulan puasa dan juga menjelang Lebaran, harga-harga kebutuhan pokok selalu saja naik.

Kenapa? Ada apa memangnya dengan bulan puasa dan Lebaran, sehingga bisa menaikkan harga-harga?


BACA JUGA


Ramadhan 2017 Ini Pastikan Mama Tidak Melakukan 4 Hal Penjebol Dompet Berikut Hingga Lebaran Tiba!

Ramadhan 2017 Ini Pastikan Mama Tidak Melakukan 4 Hal Penjebol Dompet Berikut Hingga Lebaran Tiba!

Ramadhan 2017 sudah tiba! Inilah saat di mana pengunjung masjid dan musala meningkat signifikan sejalan dengan peningkatan pengunjung mal ...

Read more..


Jangan ada yang menjawab karena inflasi ya, Ma! Ingat inflasi artinya sama dengan kenaikan harga. Jadi, kalau dijawab inflasi, ya sama saja cuma kasih sinonim saja.

Dan, sepertinya ini dia yang menjadi penyebab harga-harga naik di bulan Puasa dan menjelang Lebaran. Yuk, Ma, kita simak bareng.


Inilah penyebab kenaikan harga di bulan puasa dan Lebaran


1. Hawa nafsu tak tertahan


Ekonomi akan selalu sama, di mana-mana hukum demand and supply, atau permintaan dan penawaran, selalu berlaku.

Terkadang manusia yang berpuasa itu lupa akan konsep dasar puasa itu sendiri. Well, kita nggak akan ngobrolin agama di sini sih, tapi saya ingat betul bahwa ustaz pernah bilang, bahwa inti puasa adalah menahan hawa nafsu.

Tapi, cobalah Mama main ke mal saat menjelang magrib. Hampir semua restoran penuh! Semua menu dipesan pula. Ada bertumpuk-tumpuk piring di meja. Waiter/waittress dan chef-nya super sibuk!

Atau, barangkali ini nggak perlu jauh-jauh amat kita melihat. Coba lihat meja makan kita. Kalau biasanya cuma satu menu dihidangkan setiap kali sesi makan tiba, sekarang bisa 3-4 menu buka puasa dan sahur dalam sekali hidangan.

Nah, permintaan dari para ibu rumah tangga dan restoran yang menumpuk inilah yang menjadi penyebab harga barang naik.

Yah, bukan berarti buruk. Masifnya konsumsi ini juga menggerakkan sektor ekonomi. Jadi sepanjang inflasi terjadi dan terkontrol, tidak akan memberi dampak buruk bagi keuangan negara.

Nanti juga turun sendiri harga barangnya, so, Mama nggak perlu panik begitu yes?


BACA JUGA


Lebaran Jangan Sampai Membuat Dompet Mama Tekor - 9 Jurus Ini Bisa Bantu Mama!

Lebaran Jangan Sampai Membuat Dompet Mama Tekor - 9 Jurus Ini Bisa Bantu Mama!

Lebaran memang membuat kita harus mengeluarkan uang secara ekstra yes? Lakukan 9 langkah smart berikut supaya dompet Mama nggak tekor selama ...

Read more..


2. Permainan segelintir orang?

Berikut adalah kutipan dari situs berita nasional. Mari kita simak, Ma.

Menurut saya, Menteri Penerangan di era Orde Baru, Harmoko, bisa dibilang telah memberi contoh yang bagus untuk membatasi ruang gerak pemain besar memainkan harga.

Dulu, saat saya masih kecil, Pak Harmoko ini sering tampil di TVRI untuk mengumumkan harga standar bahan pokok, seperti harga cabai merah keriting, kol, minyak goreng dan semacamnya. Nah, ini sebenarnya langkah yang bagus.

Kenapa?

Karena dari pengumuman yang dibacakan oleh Pak Harmoko, masyarakat jadi tahu berapa harga bahan pokok yang seharusnya dibeli. Tengkulak jadi mesti berpikir dua kali kalau mau menaikkan harga seenak perutnya.

Dalam beberapa kisah meroketnya harga, kebutuhan pokok seperti cabai, beras, gula, bahkan juga jengkol yang harganya pernah melebihi dari harga daging, kasusnya selalu sama. Selalu ditemukan permainan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Sama seperti bandar saham, Ma. Di bisnis bahan pokok juga ada bandarnya. Justru pemainnya bisa lebih besar karena berhubungan dengan perut rakyat banyak.

Tapi, untungnya, saat ini pemerintah sudah menerbitkan aturan resmi yang menjamin ketersediaan, stabilitas dan kepastian harga dari beberapa komoditas bahan pokok strategis. Aturan tadi adalah Permendag No 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.

Nah, Mama bisa langsung mengunduhnya dari website resmi Kemendag, Ma, dan silakan dibaca yah jika Mama penasaran.

Panjang ya, Ma? Hahaha.


3. Ekspektasi pendapatan yang meningkat


Yes! Satu kata tiga huruf yang paling dinanti menjelang Lebaran: THR!

Ironisnya, semua orang berpikir bahwa setiap warga Indonesia akan mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR), tanpa kecuali. Iya, semua! Kalau bukan dari kantor, ya THR dari keluarganya.

Well, iya sih, saat masih sekolah saya juga suka meminta-minta THR dari orang tua. Hahaha.

Para pedagang juga begitu. Mereka berpikir, ini para calon pembeli pasti pada punya duit berlebih saat menjelang Lebaran. Ditambah lagi dengan perilaku masyarakat yang makin konsumtif mendekati akhir bulan puasa. Beli baju baru, gadget baru, mobil baru, rumah baru ....

Jadilah harga-harga semakin naik.

Bulan puasa dan Lebaran juga menjadi momen bagi pekerja di luar negeri untuk pulang kampung ke Indonesia. Dan biasanya, mereka juga membawa uang yang tak sedikit. Capital inflow yang terjadi lumayan besar dan mampu mengerek harga.


BACA JUGA


Ini Dia 3 Usaha di Bulan Ramadan yang Laris dan Selalu Ramai

Ini Dia 3 Usaha di Bulan Ramadan yang Laris dan Selalu Ramai

Banyak Mama tiba-tiba punya usaha di bulan Ramadan. Apa saja yang laris dan selalu ramai dicari orang di bulan penuh rezeki ini

Read more..


Sisi baik, bahwa kenaikan harga barang atau inflasi sebenarnya merupakan indikasi bisnis yang bergerak dengan baik.

Mari kita lihat, ada berapa banyak bisnis musiman yang selalu marak di bulan puasa dan Lebaran?

Salah satu mantan pacar saya juga suka membuat kue Lebaran dan menjualnya 10 hari sebelum Hari Raya tiba. Lakunya luar biasa! Saya saja dulu sering jadi kurir nganterin kue. Duh, nasib! *sigh* Kok jadi curhat?

Kawan-kawan kantor saya juga banyak yang mendadak jualan baju, makanan dan kue kering Lebaran.

Makanya, sangat tepat kalau bulan Ramadan dan momen Lebaran, pada khususnya, menjadi waktu yang pas selain untuk mendulang pundi-pundi rupiah, selain untuk beribadah. Sejatinya, asal mau gerak sedikit di bulan Ramadan, pasti Tuhan akan memberkahi usaha Mama. Betul?

Selamat Lebaran ya, Ma!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Puasa dan Lebaran Identik dengan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok - Ternyata Ini Sebabnya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Andhika Diskartes | @andhikadiskartes

Ekonom dan Investor berambut gondrong. Shot me at http://diskartes.com Stylish at http://thefashionformen.com

Silahkan login untuk memberi komentar