Rey Utami dan Pablo Putera Benua, serta Jodoh-Jodoh Anak Kita yang Ada di Tangan Mereka Sendiri

Rey Utami dan Pablo Putera Benua, serta Jodoh-Jodoh Anak Kita yang Ada di Tangan Mereka Sendiri

27.2K
Rey Utami dan Pablo Putera Benua, menikah setelah 7 hari perkenalan mereka melalui aplikasi Tinder di smartphone masing-masing. Apa pendapat Mama mengenai mereka dan pernikahan kilat tersebut?

Sudah baca berita terhangat beberapa hari ini belum, Ma? Kisah seorang perempuan yang menemukan jodoh via Tinder (sebuah aplikasi Android), yang pada hari kedua sudah dibelikan mobil mewah, hari ketiga dibelikan jam tangan seharga Rp 4 miliar, dan menikah di hari ketujuh? Ya, Rey Utami dan Pablo Putera Benua hanya membutuhkan waktu seminggu saja untuk 'pacaran' dan kemudian menikah.

Hmmm, apa nih pendapat Mama?

What if, Rey Utami dan Pablo Putera Benua (salah satunya) adalah anak Mama, yang suatu hari tiba-tiba datang memperkenalkan pacarnya, dan kemudian berkata bahwa mereka akan menikah satu minggu kemudian karena katanya dia sudah yakin bahwa orang yang dikenalkan inilah jodohnya?

Sepertinya, itu merupakan adegan paling horor bagi setiap orang tua. Tahu-tahu, tanpa kenal lama sebelumnya, si anak menyodorkan seseorang untuk menjadi pasangan seumur hidup? It will be like ... really? Sudah tahu apa kamu tentang dia, Nak? Baru tujuh hari loh! Barangkali begitu pertanyaan yang terlintas di benak para Mama ya.

Barangkali bagi sebagian besar orangtua akan keluar insting protektifnya kalau menghadapi kasus serupa. Sedangkan bagi anak, kalau sifat protektifnya orangtua keluar, ya biasanya malah justru 'memberontak'. Ya, memang begitu kondisinya, antara orangtua dan anak. Menangani anak meski sudah dewasa, rasa-rasanya ya tetap saja seperti menangani toddler. Dibilangin 'jangan', ya malah makin menjadi. Hanya persoalannya saja yang berbeda. Kalau didiamkan saja, meski anak juga sudah bisa mandiri, kita tetap merasa bertanggung jawab. Akhirnya merasa bersalah juga, walaupun rasa itu kecil sekali dan disimpan di kamar hati paling dalam pun (tsah!) pasti ada.

Ah, saya toh juga pernah ngerasain gimana rasanya jadi anak. Sampai sekarang pun saya juga masih menjadi seorang anak. Hanya saja, berharapnya sih sekarang saya anak yang lebih 'matang' cara berpikirnya. Kalau dibilangin 'jangan' oleh orangtua, sekarang biasanya sih ya saya jadi kepikiran juga.


Rey Utami dan Pablo Putera Benua ber-honeymoon ke Bali. Foto via IG Rey Utami

Saya sendiri nggak yakin 100% apa yang akan dan bisa saya lakukan jika anak saya kelak melakukan hal yang sama dengan Rey Utami dan Pablo Putera Benua. Namun satu hal yang saya yakin, jodoh itu bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Jodoh adalah permasalahan soal hidup. Kita bakalan menghabiskan seumur hidup kita ditemani olehnya. Apa ya bisa asal tunjuk dan pilih? Masalah cinta dan kebutuhan hidup ke depan saja nggak cukup. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Perbedaan budaya dan latar belakang keluarga saja kadang sudah bisa bikin situasi makin rumit. Pernikahan bukanlah soal senang-senang sudah punya istri ataupun suami, lalu bisa halal melakukan hubungan intim. It's about life.

Setidaknya, saya (pribadi dan meski harus saya tanamkan secara hati-hati pada kedua anak saya) menginginkan supaya mereka nantinya hanya punya satu jodoh untuk seumur hidupnya.

Karena itu, IF suatu hari kelak anak saya sudah besar dan sudah serius ingin berjodoh dengan seseorang, maka I have to find out things about her future husband. Saya tahu ini masih kejauhan, tapi saya sendiri tak bisa menahan diri untuk berandai-andai jika saya berdiri di sepatu mama Rey Utami (karena anak saya anak perempuan meski masih bau ingus), yang tiba-tiba disodori seseorang yang belum lama dikenalnya untuk dinikahi.

Barangkali, saya akan memulainya dari hal-hal kecil berikut ini, yang (semoga) bisa membawa saya mengetahui hal-hal besar mengenai calon suaminya kelak.


1. Googling namanya


Rey Utami dan Pablo Putera Benua - kebetulan keduanya adalah sosok terkenal, jadi cukup mudah ditemukan namanya di dunia maya. Foto via IG Rey Utami

Ya, we never know right?

Sebagai permulaan, saya akan googling namanya. Kasus Rey Utami dan Pablo Putera Benua adalah contoh peristiwa yang membuat hal ini yang pertama muncul di benak saya. Let's say, kalau saya adalah mama dari Rey Utami, saat pertama kali Tinder 'mempertemukan' anak saya dengan Pablo Putera Benua maka next thing I would do adalah googling namanya.

Saya memang melakukannya sih. Hasilnya? Hmmm ... silakan Mama googling sendiri ya. Hehehe. Saya nggak akan membahasnya lebih lanjut. Just a reminder, jangan hanya googling di halaman pertama saja. Karena artikel di halaman pertama Google itu justru bisa dibikin supaya berada di halaman satu. If you know what I mean. Hehehe.

Dalam kasus ini, kebetulan Rey Utami dan Pablo Putera Benua adalah sosok yang cukup dikenal. Satunya adalah seorang presenter acara TV, yang lainnya adalah seorang politikus di Medan, sehingga dengan mudah dicari beritanya.

Namun sayang, kebenarannya berita-berita yang ada juga sangat kabur. Antara satu berita dan berita yang lain seperti terlalu banyak kontradiksinya. So, saya tidak bisa memastikan mana berita yang benar bahkan setelah semalam suntuk saya ngepoin banyak sumber berita.

Memang yang namanya media itu akhir-akhir ini lebih banyak menyajikan berita hoax, tapi kalau berita yang ada itu lebih banyak negatifnya ketimbang enggaknya, well, pastinya akan membuat sinyal tanda bahaya dalam insting seorang mama terjaga. Betul nggak, Ma? Memang seharusnya kemudian kita nggak boleh judging orang hanya dari apa yang ada di dunia maya yang kadang sangat bias, tapi seenggaknya kita bisa sedikit waspada dan bisa hati-hati berpikir serta mempertimbangkan langkah apa berikutnya yang harus kita lakukan.


2. Stalking akun media sosialnya


Rey Utami dan Pablo Putera Benua - where are your parents, guys?

Setelah googling, maka biasanya akan ketemu deh akun media sosialnya. Anak-anak sekarang, siapa sih yang nggak punya akun media sosial? Meski tak seterkenal Rey Utami dan Pablo Putera Benua, biasanya sih tetap saja pada main media sosial, seperti Twitter, Facebook, Ask.fm, Instagram dan lain sebagainya.

Maka, seharusnya dengan mudah kita temukan akun-akun mereka bertebaran di mana-mana. Anak-anak generasi Z seharusnya juga beruntung, karena mama-mama mereka, generasi X dan generasi Y, juga sudah melek teknologi. Betul, Ma? Hahaha.

Lalu apa yang harus kita perhatikan kalau sudah mendapatkan akun media sosial si pacar anak kita? Ada beberapa hal yang bisa kita catat:

  • Perhatikan seberapa sering dia posting di media sosial tersebut. Banyak anggapan, bahwa semakin sering orang posting di media sosial, maka semakin lebar pula gap antara kehidupan nyata dengan virtual life-nya. Beberapa penelitian sudah membuktikan, bahwa orang-orang yang menghabiskan waktu terlalu banyak di media sosial bisa berisiko terancam kesehatan mentalnya.

"Children who spend more than three hours each school day on social media sites like Facebook and Twitter are more than twice as likely to suffer poor mental health, official figures have shown." ~ Telegraph UK

  • Perhatikan apa hobinya. Biasanya dari media-media sosial itu bisa kita lihat, Ma, hal-hal apa yang digemari oleh seseorang. Taruhlah dia suka nge-tweet kalimat-kalimat berpuisi indah, berarti bisa diduga kalau dia suka akan hal-hal yang berbau romantis, atau suka baca buku. Kalau di Instagram-nya suka foto-foto #OOTD, Mama juga pasti sudah bisa menebak bahwa orangnya cukup melek fashion dan tahu bagaimana agar terlihat menarik. Perhatikan sampai sedetail-detailnya. Memang media sosial menyediakan 'sarana' bagi orang untuk pencitraan, tapi percayalah, akan ada waktunya orang akan ketrucut, kalau orang Jawa bilang, artinya kurang lebih keceplosan mengenai hal-hal tertentu yang membuat kita tahu, bagaimana dia sebenarnya.
  • Perhatikan ke mana saja dia suka bepergian. Kadang anak-anak muda dengan 'sombong'nya foto-foto di berbagai tempat yang dia kunjungi. Entah itu di kantor, di kafe, atau lagi traveling. Ya, generasi sekarang suka sekali sharing detail-detail mengenai hidup mereka bukan? Maka mari kita manfaatkan untuk mencari tahu lebih dalam.
  • Jika Mama masih ada waktu, stalking juga teman-temannya. Misalnya kalau di Instagram, kan sering juga ada komentar-komentar yang mampir. Bacalah komentar-komentar tersebut. Jika ada yang cukup menarik perhatian, coba telusuri juga media sosial si komentator. Just to see, bagaimana interaksinya dengan si calon pacar anak kita.


3. Mintalah untuk bertemu


Setelah cukup bekal pengetahuan, maka sekarang saatnya bertemu. Ada beberapa hal juga yang sepertinya harus menjadi pertimbangan kita saat menghadapi si calon pacar anak-anak kita, Ma, yaitu kenyamanan mereka. Begitu mereka merasa nyaman dengan kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mencari tahu lebih jauh (sekaligus mencocokkannya dengan 'data' yang sudah diperoleh sebelumnya).

Tanyakan dulu pada diri kita sendiri, apa yang membuat kita pengin bertemu dengan si pacar anak kita? Kalau kita punya kecenderungan pengin ketemu untuk "menolak", maka pastilah penolakanlah yang akan selalu kita katakan dalam setiap pembicaraan nanti. Dan ini akan membuat semua orang tak nyaman.

Meski menjumpai adanya 'ketidakberesan' pada investigasi online kita sebelumnya, tetaplah menemuinya secara open mind. Percayalah, insting Mama tak pernah bohong. Maka, dengarkanlah suara hati Mama sepanjang pertemuan tersebut.

Buatlah topik-topik diskusi ringan, misalnya tanyakan mengenai hobinya. Biasanya anak-anak muda paling suka kalau sudah berdiskusi mengenai hal yang menjadi minatnya. Kalau dia sudah lebih santai, maka obrolan Mama akan makin mengalir dan pastinya akan lebih mudah untuk menggali dan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai diri si calon pacar.


4. Berdoa yang terbaik


Inilah yang paling baik yang bisa kita lakukan sejak sekarang, Ma. Betul? Orangtua mana yang nggak mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya? Ini termasuk juga masalah jodoh.

Maka, meski anak-anak sekarang masih bau ingus, saya selalu menyelipkan doa-doa agar saat mereka besar nanti, mereka tahu mana yang baik dan mana yang tidak buat mereka. Mereka tahu bagaimana cara memilih dan memutuskan. Ini termasuk di dalamnya adalah soal pendidikan, karier, dan juga, jodoh.

Saya toh nggak bisa ngapa-ngapain. Hanya bisa mendampingi saja kan?


Terus terang, kasus Rey Utami dan Pablo Putera Benua, meski belum menunjukkan tanda-tanda ke arah negatif, namun proses menuju pernikahannya begitu cepat. Hal ini mau tak mau membuat saya jadi kepikiran dan jadi gelisah juga. Memang bisa ya, memutuskan menikah secepat itu? Sedangkan pacaran yang sudah lama saling mengenal saja, kadang suka kaget sendiri setelah menikah dan hidup bersama.

Saya tahu, mungkin sebagian mama menganggap, bukankah lebih baik nggak usah pacaran karena pacaran itu bisa mengundang godaan nafsu? Tapi menurut saya, bagaimanapun, proses pengenalan lebih mendalam itu perlu bukan? Masa iya, kita bisa langsung tahu luar dalam seseorang hanya dalam waktu 7 hari? Barangkali kita juga belum tahu, dia kalau marah bagaimana? Jangan-jangan suka main tangan? Atau kalau dia marah, terus pergi berhari-hari nggak pulang? Justru hal-hal yang demikian yang harus kita cari tahu kan?

Seandainya memang ada kebiasaan buruk (karena setiap orang pasti punya), dengan mengenalnya lebih dalam pastinya kita juga sudah tahu bagaimana cara menghadapinya kan?

Buat anak-anak remaja yang mungkin sekarang membaca artikel ini, dan kemudian berpikir, "Ih, Mama, kayak nggak pernah pacaran aja, nggak pernah muda saja? Nggak pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta, yang berbunga-bunga banget dan bikin ngebet pengin nikah."

Percayalah, Nak. Kami pernah muda. Kami pernah merasakan apa yang kamu alami. Kami juga pernah bodoh, dan salah melangkah. Karena itu, kami tidak ingin kamu melakukan hal yang sama.

So, stay close with your kids, Mama! They always need your attention, mengenai apa pun yang sedang mereka alami, temui dan dapatkan.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rey Utami dan Pablo Putera Benua, serta Jodoh-Jodoh Anak Kita yang Ada di Tangan Mereka Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian rocking mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com