Saya Tak Akan Lagi Meminta Maaf Karena Tak Sempat Beberes Rumah yang Berantakan!

Saya Tak Akan Lagi Meminta Maaf Karena Tak Sempat Beberes Rumah yang Berantakan!

7.5K
Di balik rumah yang berantakan, selalu ada anak-anak yang sehat dan ceria.

Pernah nggak sih, Ma, merasa nggak enak pada tamu yang datang, dan rumah sedang dalam kondisi yang sangat berantakan? Kemudian saat tamu Mama masuk, Mama harus menyambutnya sambil membenahi beberapa barang? Atau bahkan, saat tamu hendak duduk saja, dia harus membantu Mama menyingkirkan beberapa benda entahlah dari sofa tamu Mama?

Saya pernah, Ma (saya nggak mau bilang sering ah. Malu. Hihihi.) Dan, iya, rasanya ya lumayan malu sih, Ma. Kalau Mama, biasanya terus bilang apa kepada tamu Mama? Maaf, rumahnya berantakan?

Iya, biasanya sih gitu ya. Saya juga.

Tapi, Ma, ada satu kejadian di mana kemudian saya bertekad untuk tak lagi bilang, "Maaf, rumahnya berantakan.". Kejadian di mana saya malah bersyukur karena rumah saya berantakan, dan saya makin ikhlas saja beberes rumah setiap hari.

Begini, Ma.

Suatu ketika ada seorang teman menghubungi saya dan bilang akan main ke ruma. Saat itu saya kebetulan memang sedang di rumah sih, dan seperti biasa juga, saya lagi sibuk ini itu pekerjaan rumah. Saya sebenarnya nggak keberatan menerima tamu, justru senang akan didatengin. Maklum, ibu rumah tangga. Kalau ada kesempatan bisa curhat dan curcol sedikit sama sahabat kan selalu senang, iya kan, Ma?

Tapi kemudian saya melihat ke sekeliling saya. Kkondisi rumah saya begitu berantakan. Duh, saya tiba-tiba saja merasa nggak enak. Takut membuat teman saya itu risih nanti.

Refleks, saya pun bilang padanya, "Tapi, maaf ya, rumahku berantakan banget nih. Maklum si ini tadi main ini itu ...", dan seterusnya. Saya pun menceritakan kehebohan anak-anak saya yang memang lagi aktif-aktifnya bermain.

Dan, Mama, tahu nggak sih, apa jawaban teman saya itu? Dia hanya menjawab singkat saja, Ma.

"Aku malah pengin rumahku ada yang berantakin."

Saya tertegun.

Dan saya pun baru teringat, bahwa teman saya tersebut belum juga dikaruniai anak bahkan setelah beberapa tahun menikah.

Ya ampun, Ma, tiba-tiba saja saya merasa sangat menyesal! Saya speechless, tak tahu lagi harus ngomong apa. Saya merasa bersalah sekali padanya.

Ya Allah, betapa tak bersyukurnya saya.

Saya tahu, betapa sensitifnya perempuan yang belum juga dikaruniai anak hingga beberapa tahun pernikahannya. Bahkan meski sebenarnya tak ada permasalahan apa pun pada diri perempuan, namun mereka umumnya akan menyalahkan diri sendiri karena kondisi tersebut.

Seperti teman saya itu, Ma. Dia pernah bercerita, bahwa tak ada masalah apa pun, baik pada dirinya maupun suaminya.

"Ya, barangkali memang belum dikasih aja."

Begitu ceritanya beberapa waktu yang lalu, yang kemudian diikuti dengan helaan napas panjang.


Baca juga: Ini Dia 1 Alasan Besar Mengapa Kita Harus Berhenti Bertanya, Sudah Hamil apa Belum!


Terus, kebayang nggak sih, Ma, perasaannya gimana saat kita bilang "Maaf, rumahku diberantakin anak-anak." pada perempuan-perempuan seperti teman saya itu? Apalagi kalau ternyata mereka memang mengalami masalah pada kandungannya, atau bahkan yang positif mandul. Kalau saya, kebayang banget deh, kalimat tersebut akan bikin mereka mungkin berpikir, "Nggak bersyukur banget, padahal sudah diberi anak oleh Tuhan!".

Ah, pelajaran berharga dari sebuah kalimat "Maaf, rumah saya berantakan." kan, Ma?


Yah, sebagai seorang mama dari 3 anak yang usianya sedang dalam masa aktif semua (5 tahun, 2 tahun, dan newborn baby), yang saya asuh tanpa bantuan babysitter, kondisi rumah yang berantakan adalah pemandangan saya sehari-hari.

Banyak orang yang bilang, bahwa saat kita punya anak usia balita dan dalam masa pertumbuhan, itu ya wajar rumahnya berantakan. Mau nggak diberesin ya, gimana ya? Sepet aja kan ya, di mata. Tapi kalau sudah diberesin, semenit kemudian semua barang yang sudah rapi, tiba-tiba saja sudah berhamburan lagi di mana-mana macam kena gelombang laut.

Kadang rasanya juga kok ya, bego amat sih ya. Padahal sudah ngerti banget, lasaknya anak-anak kayak gimana. Ya, ngapain di beresin kan? Harusnya ya, biarin aja berantakan. Biar nggak capek berulang kali beberes. Saya pikir-pikir ada benernya juga ya? Hahahaha.

Tapi meski demikian, ya tetap saja kita kadang nggak enak kalau tamu datang, dan melihat semua yang berantakan itu. Padahal mungkin si tamu sendiri sebenarnya juga paham-paham aja dengan kondisi kita. Apalagi kalau nggak ada asisten di rumah.

Ah, rumah berantakan ternyata membuat saya belajar banyak hal.


1. Bersyukur


Ya, seperti kejadian di atas yang saya ceritakan itu, Ma, saya jadi diingatkan untuk selalu mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Tuhan pada saya.

Saya punya dua anak usia aktif dan satu bayi mungil yang selalu saya dekap dengan hangat.

Di luar sana ada banyak orang pengin banget punya anak, namun belum bisa mendapatkannya karena banyak sebab. Atau, ada juga yang pengin banget rumahnya diberantakin anak-anaknya, tapi apa daya belum punya rumah sendiri. Masih numpang di pondok mertua indah, jadi nggak berani berantakin terlalu banyak.

Dan masih banyak hal lain yang harus saya syukuri dari kondisi rumah saya yang berantakan.


Baca juga: 15 Trik Agar Tetap Waras di Tengah Kesibukan Sebagai Seorang Rocking Mama


2. Rumah dan isinya adalah kita


Rumah adalah tanggung jawab kita. Juga segala isinya. Tamu yang akan datang dan masuk pasti juga karena sudah kita persilakan masuk. Dalam kata lain, mereka telah kita izinkan untuk "melihat seperti apa sebenarnya kita". Karena kondisi rumah sudah pasti mencerminkan karakter penghuninya.

Jika kita punya anak-anak yang aktif, tamu pasti sudah tahu. Jika kita nggak ada ART atau babysitter, mereka pun pasti akan tahu juga. Sehingga mereka pasti juga akan paham bagaimana kondisi rumah kita jika berantakan.

So, nggak akan ada untungnya bagi kita untuk memperlihatkan sesuatu yang nggak kita banget di rumah sendiri pada tamu. Rumah adalah kita, tempat kita dan keluarga memulai dan mengakhiri hari. So, let it be ours!

Sepakat, Ma?

Just be ourself in our home!


Baca juga: Rumah yang Penuh Keberuntungan? Coba Lengkapi dengan 7 Home Decor Berikut!


3. Kerapian itu mematikan



Pernah dengar quote ini, Ma?

Good moms have sticky floors, messy kitchen, laundry piles, dirty ovens, and happy kids.

Ya begitulah, Ma. Rumah yang berantakan, lantai kotor, dapur dengan cipratan minyak di mana-mana, tumpukan cucian, dan anak-anak yang berteriak-teriak heboh, adalah rumah yang lengkap! Rumah yang hidup! Rumah berpenghuni, dan penghuninya bahagia!

We live in our home!

Kerapian hanya akan mematikan "kehidupan" dalam rumah. Kayak rumah yang nggak pernah dihuni aja. Hihihi.

Setuju kan, Ma? *maksa*


Baca juga: Kesal Rumah Berantakan? Ayunkan Tongkat Peri Mama, dan Lakukan 11 Cara Jitu dan Cepat Bereskan Rumah Ini!


4. Menikmati selagi ada


Dan bagi yang rumahnya berantakan karena toddler, yakin sajalah bahwa suatu saat kita akan sangat merindukan masa-masa rumah kita diberantakin lagi. Saat anak-anak sudah beranjak dewasa, dan hanya tinggal berdua dengan suami. Saban hari kita pasti akan merindukan kehebohan ini.

Ya, ngeliat rumah yang pada akhirnya berhasil juga rapi jali bersih setiap waktu, pasti akan memunculkan rasa rindu pada anak-anak di masa mereka kecil dulu.

Nah, kalau rasa itu sudah mulai hadir, mungkin itu tandanya kita sudah mulai menginginkan kehadiran cucu tuh, Ma. Hahaha. Terus nanti kita mungkin bisa kembali merasakan kehebohan itu saat cucu-cucu kita pada datang nengokin kita, bersama orangtuanya. Eaaaaa ... hihihi.


5. Don't push ourself!


Ya, kita pasti sudah berusaha melakukan tugas kita, sebagai perawat rumah, dengan baik, Ma! Nggak perlulah kita meminta maaf karena kita masih belum bisa beresin rumah kita yang berantakan. Nggak usah dibahas dengan orang lain kalau memang nggak perlu kan?

Masing-masing mama punya prioritas sendiri-sendiri yang sesuai dengan kondisi rumah tangga masing-masing. Pastinya hal tersebut juga sudah dibicarakan dengan suami masing-masing. So, saat kita sudah melakukan apa yang menurut kita terbaik, nggak perlu mikirin apa kata orang atau apa yang akan dikatakan oleh orang lain.


Baca juga: Bingung Memilih ART? Saran-Saran Rocking Mama Ini Bisa Bantu Mama!


So, menurut saya, Ma, tak perlu meminta maaf saat ada tamu dan rumah kita masih dalam kondisi yang berantakan. Kalimat itu, mungkin memang terdengar santun, tapi nggak ada manfaatnya baik untuk orang lain maupun pada diri kita sendiri. Bahkan mungkin berpotensi orang lain jadi tersindir. Daripada menimbulkan situasi nggak enak kan, Ma?

Hidup rumah berantakan!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Tak Akan Lagi Meminta Maaf Karena Tak Sempat Beberes Rumah yang Berantakan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ruli Retno Mawarni | @ruliretno

Supermom for 3 kids, lifestyle & travel blogger, content writer, www.ruliretno.com Cp : ruliretno@gmail.com

Silahkan login untuk memberi komentar