Selamat Hari Anak Nasional! Ini Dia 5 Tantangan Terbesar Anak-Anak Zaman Sekarang

Selamat Hari Anak Nasional! Ini Dia 5 Tantangan Terbesar Anak-Anak Zaman Sekarang

3.4K
Makin tua zamannya, tantangan yang harus dihadapi oleh anak pun makin berat. Tugas kita juga makin berat. Tapi yakinlah, Ma, kita pasti bisa!

Hai, Mama! Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2017!

Dunia anak-anak memang amazing, isn't it? Penuh tawa, petualangan dan cinta. Kalau boleh, saya juga mau lho mengulangi lagi masa-masa kecil saya. Kayaknya dulu benar-benar apa-apa dibuat senang deh. Problemnya paling-paling hanya mainan rusak, atau teman yang sakit jadi nggak bisa main rame-rame di lapangan. Udah itu aja.

Tapi, makin ke sini, saya makin menyadari bahwa ada semakin banyak tantangan yang harus dihadapi oleh anak-anak kita, yang mungkin tak kita (atau saya) hadapi kala saya masih kecil dulu.


BACA JUGA


6 Tantangan Orangtua Inilah yang Mengancam Anak-Anak Kita demi Status Gaul dan Kekinian. Waspadalah!

6 Tantangan Orangtua Inilah yang Mengancam Anak-Anak Kita demi Status Gaul dan Kekinian. Waspadalah!

Seakan belum cukup dengan kerja keras memenuhi kebutuhan anak sehari-hari, tantangan orangtua bertambah lagi seiring majunya zaman dan ...

Read more..


Yes, ini dia 5 tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh anak di zaman sekarang

1. Bullying


Sebenarnya kasus bullying sih sudah ada sejak dulu ya. Hanya saja memang belum sekerap sekarang. Banyak perploncoan di zaman saya sekolah dulu yang ngeri juga. Tapi karena belum ada media sosial, jadi nggak terekspos deh.

Dan kini, makin sering kita mendengar berita anak menjadi korban bullying ataupun sebagai pelakunya. Bullying ini bisa muncul dalam bentuk kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, menampar, dan menonjok. Juga bisa dalam bentuk verbal, misalnya mengejek atau mengancam.

Anak yang menjadi korban bully biasanya lebih kecil, lebih muda, lebih lemah atau yang lebih pasif. Biasanya mereka adalah anak-anak yang punya kepercayaan diri yang rendah, canggung, penakut, dan mudah menangis.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh King's College London, Inggris, mereka yang semasa kecilnya kerap menjadi korban bullying berisiko mengalami depresi, gangguan kecemasan, serta memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Ia juga cenderung memiliki kesehatan mental dan fungsi kognitif yang lebih buruk.

Nggak sedikit, Ma, korban bullying yang nggak mau mengaku karena malu dan takut dengan reaksi orang tuanya.

Pastinya, Mama nggak mau kan, kalau si kecil sampai menjadi korban atau pelaku bullying. Maka, inilah beberapa hal yang bisa Mama lakukan.

  • Besarkan anak dalam cinta, dengan menunjukkan cara berbicara dan berperilaku yang baik saat Mama sedang berinteraksi dengan Papa, orang tua, asisten rumah tangga, dan semua orang. Ia akan meniru Mama dan menerapkannya pula dalam kesehariannya.
  • Jaga kedekatan dengan si kecil, dengan mendengarkan setiap keluhannya, dan menghargai pendapatnya. Cara ini akan mendorong anak untuk tak segan bercerita apa saja kepada Mama, sehingga saat ia menjadi korban bullying atau malah melakukannya, Mama bisa segera mengetahui dan bertindak cepat.
  • Asah rasa percaya anak, dengan memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan. Misalnya, biarkan ia memilih ekskul yang diikutinya, memilih makanan, minuman dan bajunya sendiri sesuai seleranya. Pun mengenalkannya pada berbagai lingkungan baru, mengajaknya berkenalan dengan teman-teman Mama, maupun dengan anak-anak sebayanya. Pelaku bullying selalu mencari korban yang terlihat penakut, pemalu, dan nggak punya teman.


2. Semua yang serba instan


Kecepatan si kecil beradaptasi dengan berbagai gadget milik Mama atau Papa memang sangat mengagumkan ya, Ma. Namun, bisa jadi nih, karena terlalu terbiasa hanya menyentuh layar, misalnya melihat Mama hanya sentuh sana sini dan kemudian makanan datang dengan sendirinya, ia pun jadi nggak sabar dengan proses.

Padahal sesuatu itu membutuhkan proses yang membuatnya perlu sabar dan belajar. Agar ia nggak bersikap serba instan, maka lakukanlah beberapa hal berikut, Ma.

  • Mengenalkan pada proses-proses sederhana, misalnya bagaimana proses beras hingga bisa menjadi nasi, atau mengajaknya memasak bersama Mama. Dengan demikian, ia akan mengamati dan mengerti bahwa ada proses panjang sebelum makanan kesukaannya bisa dimakan.
  • Jangan dengan mudah mengabulkan semua permintaannya. Berikan kesempatan padanya untuk berusaha lebih dulu. Misalnya, si kecil pengin sepatu baru, maka ajaklah ia untuk menabung dengan menyisihkan uang sakunya.
  • Menghargai proses, bukan hanya menilai hasil akhirnya. Misalnya, saat ia membereskan mainan, meski mungkin tak serapi kalau Mama yang membersihkan, tetaplah berikan pujian padanya.


3. Perilaku konsumtif


Mama baru saja membelikannya mainan, dan kini si kecil sudah merengek lagi minta yang lebih baru.

Aduduh. Ini dia nih. Rasa ketertarikan anak pada satu benda yang membuatnya senang sudah mulai ada sejak ia masuk prasekolah, Ma. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa jadi si kecil melihat Mama membeli ini dan itu, atau bisa juga karena tayangan iklan, dan juga pengaruh teman sebayanya.

Anak sudah mulai ada rasa nggak mau kalah dengan teman, Ma, di usia ini. Sehingga ia pun ingin memiliki sesuatu yang dipunyai oleh temannya, meski ia tak butuh.

Sebaiknya, Mama tetap mengendalikannya, Ma. Tolaklah kalau memang sudah berlebihan. Pastinya karena Mama nggak ingin punya anak yang tak bisa mengendalikan diri bukan? Menjadi anak yang nggak tangguh, malas berusaha, mudah putus asa, dan kurang menghargai hal-hal yang dimilikinya.

Ada beberapa hal yang bisa Mama lakukan:

  • Membatasinya nonton televisi agar ia nggak terpapar iklan-iklan yang dapat memicunya menjadi konsumtif.
  • Memberikan contoh langsung, misalnya, Mama masih memiliki sepatu baru atau tas baru yang belum dipakai, ya, jangan membeli tas atau sepatu baru lagi.
  • Luangkan waktu yang berkualitas dengannya, sehingga Mama akan terhindar dari rasa bersalah. Biasanya sih, karena banyak kehilangan kesempatan berkualitas bersama si kecil akan menimbulkan rasa bersalah pada diri Mama. Rasa bersalah itu kemudian dilampiaskan dengan memanjakan si kecil dengan berbagai barang baru dan mahal.


BACA JUGA


Mama Tetaplah yang Terbaik, Meskipun Mama Melakukan 7 Dosa Parenting Ini!

Mama Tetaplah yang Terbaik, Meskipun Mama Melakukan 7 Dosa Parenting Ini!

It's not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it

Read more..


4. Mager alias malas gerak


Teknologi yang mengasyikkan dan memudahkan membuat si kecil nggak terstimulasi untuk bergerak. Padahal ini penting banget untuk mengasah motorik kasarnya.

Menurut penelitian, anak yang aktif bergerak juga cenderung memiliki prestasi yang lebih baik dibandingkan anak yang malas bergerak, Ma. Aliran darah di tubuh menjadi lebih lancar dan suplai oksigen ke seluruh jaringan, terutama otak, akan lebih optimal.

Selain itu, dengan bergerak aktif, si kecil juga akan tidur lebih nyenyak, bangun segar, mudah konsentrasi dan bisa menyerap informasi dengan cepat.

Lakukanlah beberapa hal berikut, Ma.

  • Batasi waktu untuk menonton televisi dan bermain games. Ajak mereka beraktivitas di luar rumah lebih sering.
  • Ajak si kecil menyelesaikan pekerjaan rumah yang ringan. Misalnya seperti, menyapu, menyiram tanaman, atau membersihkan dan membereskan mainannya sendiri.
  • Ajak anak berolahraga, kalau perlu jadikan agenda rutin mingguan untuk berolahraga bersama keluarga di hari Minggu.


5. Pornografi


Salah satu dampak teknologi informasi adalah besarnya kemungkinan anak mengakses situs-situs porno secara nggak sengaja. Padahal kemampuan mereka menyaring informasi masih rendah, dan belum bisa membedakan mana yang baik untuk mereka dan mana yang enggak.

Makanya, wajar jika kita, orang tua, khawatir mereka akan menirukan aksi yang mereka lihat tersebut.

Tak hanya itu, predator-predator anak juga mengintai di mana-mana. Orang-orang jahat ini menjadikan anak sebagai objek "kelainan" mereka. Masih ingat kan, Ma, kasus Facebook Group yang mewajibkan membernya untuk menceritakan eksploitasi seksual terhadap anak yang mereka lakukan untuk bisa bergabung? Mengerikan!

Lakukan ini untuk menghindarinya, Ma.

  • Ketahui kegiatan anak sehari-hari, minta ia menceritakan kegiatannya, dengan siapa bermain, dan apa yang mereka lakukan.
  • Awasi penggunaan gadget atau jenis tontonannya. Untuk tambahan perlindungan, gunakan fitur parental control di semua gadget yang kerap digunakan oleh si kecil.
  • Kenalkan anak pada pendidikan seksual sejak dini. Misalnya, dengan mengajarkannya mengenal anggota tubuh beserta fungsinya. Jelaskan juga bahwa ada beberapa anggota tubuh yang sifatnya sangat pribadi, nggak boleh dilihat apalagi disentuh oleh orang lain, kecuali oleh dokter atau orang tuanya demi alasan kesehatan.


BACA JUGA


Jadilah Mama yang Kuat Menghadapi Masalah Hidup dengan 7 Langkah Ini!

Jadilah Mama yang Kuat Menghadapi Masalah Hidup dengan 7 Langkah Ini!

Becoming a mother makes you realize you can do almost anything - one handed

Read more..


Ya, semakin tua zaman, sepertinya tantangannya juga semakin menggila. Tugas kita sebagai orang tua untuk melindungi anak semakin berat. Tapi yakin, Ma, kita pasti bisa melakukannya. Bagaimanapun anak-anak sudah dititipkan oleh Tuhan pada kita, sehingga jalan-Nya pun akan ditunjukan-Nya pada kita.

Setuju, Ma?

Sekali lagi, selamat Hari Anak Nasional! Semoga anak kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan bertanggung jawab ya, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selamat Hari Anak Nasional! Ini Dia 5 Tantangan Terbesar Anak-Anak Zaman Sekarang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar