Selera Makan Anak yang Baik Dibentuk oleh Selera Makan Kita Sendiri - Yuk, Biasakan Supaya Anak Nggak Jadi Picky Eater!

Selera Makan Anak yang Baik Dibentuk oleh Selera Makan Kita Sendiri - Yuk, Biasakan Supaya Anak Nggak Jadi Picky Eater!

3.9K
Selera makan dibentuk oleh budaya keluarga. anak dari orangtua yang picky eater memang biasanya akan cenderung jadi picky eater juga. So, apakah selera makan Mama sendiri sudah baik?

Hai, Mama! Belakangan ini cuaca lagi ekstrim ya. Lagi panas terik, tiba-tiba saja hujan langsung datang tanpa pemberitahuan. Petir, guntur, kilat nggak mau ketinggalan. Waspada ya, Ma, kalau sudah begini biasanya lantas banyak penyakit mulai mengancam juga. Jaga kesehatan. Dan, Mama pasti tahu, bahwa yang pertama yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan adalah dengan pola makan yang baik. Kadang kalau badan sudah nggak enak, cuaca nggak menentu, akhirnya bikin kita nggak selera makan.

Tapi, saya merasa beruntung lho. Keluarga saya termasuk keluarga yang bandel soal selera makan, begitu pun anak-anak. Nggak peduli panas atau hujan, ngunyah jalan terus! Nggak perlu harus bakso, mi ayam, atau siomay, menu telur ceplok kecap saja, mereka sudah begitu bahagia. Kalau camilan habis, saya beri saja krupuk udang dengan topping nasi hangat. Lho iya, Ma, itu ngemilnya anak-anak. Nasi. Hahaha.

Pernah juga ada yang nanya saat melihat Kakak yang lahap ngabisin rujak cingur, "Kok bisa sih, mereka mau saja dikasih makan macem-macem?" Saya sih senyum saja. Yah, mungkin yang nanya lupa, kalau buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Hahaha.

Yah, anak dari orangtua yang picky eater memang biasanya akan cenderung jadi picky eater juga. Begitu juga sebaliknya. Karena pola dan selera makan itu sebenarnya dibentuk oleh budaya keluarga.

Makanya kalau kepingin si kecil punya selera makan yang baik, doyan segala macam makanan, coba yuk, Ma, kita perbaiki dulu kebiasaan makan kita.


5 Hal untuk membentuk selera makan yang baik pada anak-anak


1. Terapkan pola makan sehat sejak hamil dan menyusui


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Perancis menunjukkan, bahwa janin sudah dapat mengenali aroma yang masuk pada hari-hari terakhir kehamilan mama. Ini menunjukkan bahwa pilihan makanan Mama bisa memengaruhi perkembangan sistem indra bayi, sehingga memengaruhi selera makan bayi bahkan sebelum dilahirkan.

“Selama kehamilan, bayi dapat menyerap zat-zat dari lingkungannya. Apa yang dimakan oleh ibu, dalam dosis tertentu, juga diteruskan kepada janin,” kata Dr Benoist Schaal dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Vancouver, Kanada. (sumber: detikdotcom)

Wow!

Keren ya, Ma? Ternyata janin sudah bisa mencicipi apa yang kita makan melalui air ketuban. Begitu juga dengan bayi ASI, apa yang Mama makan juga akan dapat dirasakan bayi melalui ASI.

Maka dari itu, penting bagi Mama untuk bisa membentuk pola makan yang baik sejak awal kehamilan dan menyusui. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayur, aneka ikan, dan mengurangi minuman manis.

Saya sendiri sudah membuktikan teori ini lho. Belajar dari si Kakak yang di masa balitanya cenderung picky eater karena saya pun masih suka pilih-pilih makanan, maka saat hamil dan menyusui si Adik, saya pun memaksakan semua jenis buah dan sayur. Hasilnya? Si Adik tumbuh menjadi anak pemakan segala. Apa saja yang ada di meja makan bakal disikat. Termasuk daun bawang!


2. Jangan remehkan MPASI rumahan



Saat si kecil sudah mulai belajar makan, maka usahakan berikan bahan makanan segar lebih dulu. Untuk metodenya sih terserah, Ma, mau konvensional atau BLW (Baby Lead Weaning). Mama mau mengenalkan makanan karbo dulu atau buah dulu, bebas. Yang penting biarkan si kecil mengenal rasa asli makanan segar, Jangan dulu diperkenalkan dengan yang sudah dicampur MSG, alias makanan kemasan.

Jika Mama menggunakan metode konvensional, coba deh, Mama blender atau saring masing-masing bahan secara terpisah, lalu secara berdampingan di piring makan si kecil, sehingga dia bisa belajar mengenali warna dan rasa setiap makanan. Latihlah selera makan si kecil dengan mengenalkan berbagai rasa asli makanan, misalnya ikan, daging, telur, dan sayur-sayuran.

Kok mesti dipisah-pisahin sih? Ya, ibaratnya nih, Ma, kita pesan makan gurami asam manis dan tumis kangkung. Emang mau gitu kalau dicampur aduk sekalian dalam satu piring sama kokinya? Nggak kan? Ya, demikian pula perasaan si kecil kalau makanannya kita campur aduk jadi satu. Selera makan si kecil mungkin jadi rusak.

Repot? Ya memang! Tapi, percaya deh sama saya, repotnya Mama sekarang akan berbuah manis di tahun-tahun selanjutnya. Nggak akan ada drama pakai menyembunyikan sayuran dalam nugget, atau harus mengolah wortel dan sawi menjadi mi. Cukup masakin sayur bayam bening atau capcay, sodorkan, dan si kecil akan makan dengan riang gembira.

Siapa sekarang yang nggak repot, hayo? Hehehe.

Mama bekerja, sehingga nggak punya waktu untuk mengolah MPASI rumahan?

Well, Rocking Mama sudah pernah menayangkan trik menyiapkan MPASI rumahan yang praktis bagi ibu bekerja lho. Yuk, Ma, dibaca lagi.


3. Bentuk “jam lapar” sejak dini



Seperti halnya jam tidur, si kecil perlu juga dikenalkan pada jam makan.

Tetapkan jadwal pemberian makan di jam yang sama sejak si kecil mulai belajar makan. Anak yang sudah terbiasa makan di jam tertentu setiap hari, dengan sendirinya akan merasa lapar pada jam yang sama. Selera makannya akan langsung memuncak.

Jangan lupa, untuk mengatur juga pemberian camilannya ya, Ma. Jangan memberi camilan saat mendekati jam makan. Kalau dia memaksa dan minta camilan padahal sudah waktunya makan, maka negosiasikanlah, Ma. Terapkan ilmu melatih disiplin pada anak yang sudah kita pelajari bersama-sama.

Berusahalah untuk selalu menemani si kecil makan, walaupun dia sebenarnya sudah bisa makan sendiri. Sambil menemaninya, Mama bisa menyisipkan cerita mengenai bahan makanan yang sedang dimakannya. Misalnya, ceritakan apa manfaat wortel untuk kesehatan matanya. Kalau matanya sehat, dia boleh lho jadi pilot atau astronot. Sesuaikan saja dengan cita-cita dan mimpinya.

Jika si kecil sudah tahu manfaat makanan yang disantapnya, Insya Allah, dia akan lebih semangat makan.


4. Jadilah role model


We are our kids' role model. Sepakat, Ma?

Dalam segala hal, kita adalah panutan bagi anak-anak. So, terserah kita, mau kasih role model seperti apa, mau baik, mau buruk, ya begitulah anak kita nanti.

Termasuk soal selera makan. Jika ingin anak selalu punya selera makan yang bagus, maka kita juga harus punya selera makan yang baik juga, sehingga layak ditiru. Well, mungkin karena itu juga sih sebabnya, mengapa anak-anak saya doyan makan apa saja. Mamanya ini nggak pernah berhenti makan apa pun. Hahaha.

Kadang saya merasa semacam tester bagi kedua anak saya. Apa pun yang saya makan, mereka percaya bahwa itu enak.

Jadi, Mama, sudah makan apa saja hari ini?


5. Ajak si kecil untuk selalu bergerak


Maksudnya adalah berolahraga ya, Ma.

Olahraganya apa saja, pilihlah yang si kecil suka. Lalu buatkan jadwal rutin, agar tubuhnya sehat, detak jantungnya meningkat, dan membakar kalori lebih optimal. Hal ini akan membuat nafsu dan selera makan si kecil akan semakin baik.

Biasanya sih, setiap selesai saya ajak jogging, anak saya jadi sanggup makan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya lho. Hahaha. Jadi, jangan lupakan hal penting ini ya, ajak si kecil berolahraga.


Nah, Mama, nggak susah kan tips dari saya ini untuk menerapkan 5 kebiasaan baik demi selera makan si kecil yang lebih baik? Kuncinya hanya dua, tertib dan disiplin.

Well, selamat makan, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selera Makan Anak yang Baik Dibentuk oleh Selera Makan Kita Sendiri - Yuk, Biasakan Supaya Anak Nggak Jadi Picky Eater!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yoanna Fayza | @yoannafayza

Silahkan login untuk memberi komentar