Setelah 3 Kali Gagal Menyapih Anak, Akhirnya Kami Berhasil Melakukannya dengan Cara Ke-4. Mama Bisa Coba Juga!

Setelah 3 Kali Gagal Menyapih Anak, Akhirnya Kami Berhasil Melakukannya dengan Cara Ke-4. Mama Bisa Coba Juga!

1.7K
Menyapih anak dengan metode weaning with love ternyata menjadi cara yang cukup ampuh dan efektif dalam proses penyapihan. Bicara dari hati ke hati antara Ibu dan anak dengan bahasa cinta terbukti memperlancar proses menyapih anak.

Halo, Mama! Saya mau share berita bahagia. Yes! Akhirnya saya berhasil menyapih anak. Hahaha. Berita gembira banget nih buat semua mama yang punya permasalahan yang sama dengan saya. Setelah berbagai drama penyapihan terjadi, berbagai cara tak mempan, juga tetesan air mata tercurah. Aduh, lebaynya.

Hahaha. Yah, kalau Mama yang sudah ngalamin sih pasti sudah tahu deh senengnya kayak apa, kalau berhasil menyapih anak itu.

Jadi gini, Ma, anak saya memang sudah berusia 26 bulan. Dan, sesuai dengan teori, sejak usianya 24 bulan alias 2 tahun, saya pun melancarkan program penyapihan padanya.

Namun, olala! Ternyata praktik memang tak pernah seindah teori ya, Ma. Dalam hal menyapih anak pun sama saja. Kalau dipikir-pikir ya, ngasih ASI-nya butuh perjuangan. Setelah anak sudah lancar ASI, eh disuruh berhenti. Hahaha. Semacam sayang.


BACA JUGA


Cara Menyusui Bayi Secara Exclusive Pumping - Salah Satu Cara untuk Memenuhi Hak ASI Bayi Kita

Cara Menyusui Bayi Secara Exclusive Pumping - Salah Satu Cara untuk Memenuhi Hak ASI Bayi Kita

Apa pun cara menyusui bayi yang kita gunakan, namun tujuannya hanya tetap satu, yaitu memenuhi hak anak untuk mendapatkan nutrisi yang baik ...

Read more..


Punya dua anak, saya pun punya pengalaman menyapih anak yang berbeda. Kakaknya cukup mudah proses penyapihannya, karena nggak full ASI karena saya masih bekerja. Jadi semuanya lancar jaya, saat kebetulan saya titipkan pada eyangnya yang tinggal jauh jaraknya dari rumah. No drama.

Berbeda dengan si bungsu, Ma. Saat ini saya sudah full time tinggal di rumah. Saya pun bisa menyusui penuh sampai lebih dari 2 tahun. Lalu, saat waktunya harus menyapih anak, jengjeng! Saya pun kesulitan. Yah, salah saya sendiri sih, nggak tega kalau lihat si bungsu cranky, ketagihan ASI.

Berbagai saran untuk menyapih anak dari Mama lain sudah saya coba. Ini beberapa di antaranya.


Beberapa cara untuk menyapih anak yang sudah saya lakukan


1. Metode Plester


Sesuai saran seseorang yang berhasil melakukannya, maka saya pun ikuti pula, Ma. Yaitu mengatakan kalau nenen saya sakit pada si kecil.

Dan, demi supaya kelihatan kalau sakit beneran, maka payudara saya tutup bagian putingnya. Saat si bungsu mengetahui kalau nenen mamanya sakit, ia cukup histeris, Ma. Tak mengira nenen kesayangannya terluka. Duh. Terbayang sudah kesukaannya akan terganggu. Ia pun menangis sedih. Disodorin payudara pun nggak mau.

"Nenen Mama sakit! Nenen Mama sakit!"

Begitu tangisnya. Ah, saya pun jadi ikut sedih karena terpaksa harus membohonginya.

Tapi saya masih mencoba bertahan, sampai menjelang malam bisa terlalui tanpa nenen. Tapi, si bungsu jadi sedikit sekali minum susu formulanya. Beberapa kali ia mengecek, untuk memastikan jika plester itu masih ada.

Dan kemudian drama itu benar-benar terjadi tengah malam. Tangisnya meledak. Hingga saking 'sakaw'-nya, ia pun berusaha membuka nenen mamanya. Meskipun masih diplester, ia pun tetap nenen.

"Asin ... asin ...," katanya. Tapi ia tetap lahap nenen sampai tertidur lagi.

Ah, gagal sudah menyapih anak dengan metode plester yang saya coba.


2. Metode Lipstik


Metode menyapih anak berikutnya, tak kalah heboh.

Warna merah terang dari lipstik kan bisa memberi efek seperti warna darah ya, Ma. Bagi anak-anak, darah pasti akan diidentikkan dengan luka dan sakit.

Berbekal dugaan seperti itu, maka saya pun mencoret-coret area payudara saya dengan lipstik. Bagaimana reaksi si bungsu? Sama, Ma, dengan saat melihat payudara mamanya diplester. Ia menjerit-jerit cukup histeris.

Untuk sementara waktu, ia tak mau nenen karena mungkin nggak mau menyakiti mamanya. Tapi lagi-lagi nih, Ma, metode ini gagal total di malam hari. Meski masih "berdarah", ia tetap hajar bleh.

Maka dengan ini, saya nyatakan metode menyapih anak dengan lipstik juga gagal total.

*ketok palu*


3. Metode Pahit


Selain 2 metode di atas, saya juga mendapat masukan, bahwa jika payudara diberi rasa pahit maka bisa memberikan efek jera saat kita sedang berusaha menyapih anak. Sumber rasa pahit tersebut bisa didapat dari brotowali, biji mahoni, daun pepaya dan beberapa bahan lain.

Metode ini juga nggak luput saya coba, Ma.

Saya coba membuat rasa pahit itu dengan daun pepaya. Apa reaksi si bungsu? Iya, ia bilang kalau nenennya pahit, tapi kemudian, ia masih tetap nenen dengan lahap.

Wah, nggak mempan.

Berikutnya, saya coba olesi payudara saya dengan getah biji mahoni. Saran ini saya dapatkan dari mbak tukang sayur keliling yang sukses menyapih anak dengan cara yang sama. Berhasilkah, Mama? Ternyata, tidak! Si bungsu memang merasakan pahit, tapi nggak ngefek. Ia tetap nenen dengan lahap.

Hvft! Gagal maning, gagal maning!


4. Metode Komunikasi


Saya pun bingung. Segala macam cara menyapih anak sudah saya lakukan. Tak ada yang berhasil. Si bungsu malah semakin menjadi-jadi, maunya nenen terus nggak kenal waktu.

Hmmm ... harus segera ketemu jalan keluar. Kalau enggak, rencana saya menyapih anak nggak pernah berhasil.

Kemudian saya mencoba untuk mulai mengurangi frekuensi menyusui. Dari siang sampai malam, saya sengaja tidak menyodorkan nenen pada si bungsu. Saya beri ia susu formula lebih sering, meskipun dalam porsi yang sedikit.

Selain itu, saya pun mengajaknya mengobrol dari hati ke hati.

"Adik mau tambah pinter kan? Nggak usah nenen lagi ya! Nenen Mama sakit, pahit, sudah nggak enak lagi. Nenen ini cuma buat adik yang masih oek oek aja. Teman Adik juga sudah nggak nenen lagi lho. Kan malu, Dik, kalau masih nenen."

Apa tanggapannya? Ia hanya tertawa-tawa.

Melihat reaksinya demikian, saya tetap waspada. Selama ini paling drama adalah saat malam hari. Saya kembali khawatir, kalau-kalau nanti malam si bungsu akan kembali rewel jika tidak saya susui.

Susu formula saya berikan dengan sedotan dan gelas. Lumayan juga minumnya. 2 jam kemudian saya beri lagi, dengan porsi yang lebihkecil. Menjelang tidur, kembali saya sodorin susu formula lagi. Habis lagi.

Dan, ternyata, Ma ... Si bungsu pun pulas tidur sampai pagi tanpa nenen.

Aaakkk!!! Betapa bahagianya hati saya!

Ini sungguh prestasi yang luar biasa!

Maka, program menyapih anak ini pun saya lanjutkan hingga keesokan harinya. Saya lebih memperhatikan makan dan minum susunya. Pokoknya jangan sampai kelaparan hingga ingat nenen lagi.

Saya tak lupa pula memberinya pujian setiap kali susu formulanya habis. Saya minta dukungan juga dari papanya dan juga kakaknya untuk mensukseskan program penyapihan ini.


BACA JUGA


5 Tips Menyapih Anak dari ASI Eksklusif Supaya Si Kecil Nggak Rewel, Mama juga Nggak Galau

5 Tips Menyapih Anak dari ASI Eksklusif Supaya Si Kecil Nggak Rewel, Mama juga Nggak Galau

ASI Eksklusif telah menemaninya bertumbuh. Nggak heran jika si kecil dan juga Mama jadi baper saat memisahkan mereka dari ASI Eksklusif ini ...

Read more..


Ah, senangnya. Sekarang si bungsu malah jadi makan lebih banyak, minum susunya juga selalu habis tandas.

Saya jadi punya kesimpulan nih, Ma, bahwa ketika melibatkannya dalam komunikasi yang baik, termasuk dalam usaha menyapih anak ini, maka si kecil pun akan mengerti dan memahami. Berani jujur tanpa harus berbohong justru akan membuka pola pikirnya.

Pada umumnya, anak berusia 2 tahun jika masih ingin menyusu, biasanya lebih karena kepuasan, bukan lagi karena kebutuhan. Ikatan batin dengan mamanya, rasa nyaman dan juga aman bisa didapatkannya saat berada dalam buaian. Karena itu, Ma, kita harus tanggap akan kebutuhannya ini. Berikan rasa nyaman, aman dan kehangatan itu padanya tanpa menyusui. Salah satunya dengan memberinya banyak pelukan setiap saat.

Nah, bagi Mama yang ingin sukses menyapih anak, ingat ya, Ma:

  • Harus tega, meskipun anak rewel minta menyusu
  • Harus tegas pada tujuan awal menyapih anak
  • Harus konsisten, meskipun anak merengek
  • Harus ingat tujuan baik menyapih anak adalah demi kemandiriannya
  • Harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan si kecil
  • Harus dalam keadaan mental yang sama-sama siap

Jadi metode Weaning With Love (WWF) ini memang terbukti lebih ampuh dari metode yang lain bagi saya, Ma. Si kecil akan tetap merasa dicintai, pun Mama akan lebih nyaman berkomunikasi dengannya.

Nah, tetap semangat ya, Ma! Yes, you can do it!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setelah 3 Kali Gagal Menyapih Anak, Akhirnya Kami Berhasil Melakukannya dengan Cara Ke-4. Mama Bisa Coba Juga!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Juliastri Sn | @juliastrisn

A mom of 2, suka menulis di blog www.juliastrisn.com. Entrepeneur di bidang otomotif. Beberapa tulisan pernah dimuat di majalah wanita dan majalah parenting terkemuka di Indonesia.