Setelah Didera Badai Perselingkuhan, Akankah Kita Bisa Kembali Menjalani Kehidupan Pernikahan dengan Normal?

Setelah Didera Badai Perselingkuhan, Akankah Kita Bisa Kembali Menjalani Kehidupan Pernikahan dengan Normal?

9.5K
Sometimes good things fall apart so better things can fall together.

Sekali melakukan kesalahan, maka sampai kapan pun kesalahan itu akan selalu diingat meski katanya sudah dimaafkan. Semacam tompel di wajah. Susah dihilangkan. Butuh waktu, tenaga, dan pikiran untuk benar-benar bisa menghilangkannya.

Apalagi kalau kesalahannya adalah terlibat perselingkuhan. Mengerikan!

Kesetiaan memang merupakan hal yang paling diuji saat kita menjalani bahtera rumah tangga. Penyebab tergodanya si kesetiaan ini cukup banyak, bisa rasa bosan, haus akan petualangan, emosi sesaat dan masih banyak lagi. Namun, yang pasti memang selalu ada penyebab dari segala peristiwa. Dan biasanya sih, untuk memperbaiki kesalahan itu kita harus berbalik dulu ke pangkal penyebabnyanya. Mencari awal dimulainya kesalahan, agar kita bisa tahu cara mencegahnya sebelum terjadi lagi. Setuju?

Tentu saja ini bukan hal yang mudah, namun Rocking Mama mencatat setidaknya ada hal-hal berikut ini yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh sepasang suami istri yang sepakat untuk kembali bersama setelah perselingkuhan, yang dirangkum dari berbagai pendapat para ahli.


1. Honesty first


Kejujuran memang harus menjadi poin pertama yang harus kembali dibangun jika memang sepasang suami istri ingin bersama lagi setelah perselingkuhan, karena ketidakjujuran hampir selalu menjadi pangkal permasalahan dalam setiap kasus perselingkuhan.

Jadi, kalau memang ingin bersama lagi, kita benahi dulu dari titik ini.

Pertama, pihak yang berselingkuh harus dengan jujur menjelaskan sebab mengapa mereka berselingkuh. Sepahit apa pun fakta, harus diutarakan.

Ya, sepahit apa pun.

Jika memang mereka tak merasa bahagia bersama pasangannya, ceritakan mengapa sampai tak merasa bahagia.

Memang tak mudah untuk mengakui rasa sakit, apalagi setelah kejujuran itu didengar. Namun, setidaknya satu perkara telah selesai.


2. Jangan ragu untuk marah


Memberi maaf memang berat. Apalagi kalau sudah diselingkuhin.

Beberapa survey dan penelitian membuktikan, bahwa keinginan untuk menyelamatkan mahligai pernikahan sebagian merupakan manifestasi dari ketakutan kehilangan pasangan. Kalau memang ini yang terjadi pada rumah tangga kita, maka, sorry to tell you, hal ini malah akan membahayakan pernikahan kita.

Mengapa?

Karena hal ini akan membuat pihak yang diselingkuhi akan memberikan maaf sebelum sempat “meledak”. Padahal yang begini ini, ibaratnya seperti kita sedang menyimpan bara api dan bom waktu. Suatu saat, ketika sudah mencapai titik klimaks, bom waktu akan meledak. Dan kalau sudah meledak, biasanya efeknya lebih destruktif.

Inilah yang disebut sebagai “cheap forgiveness”. Dengan melakukan cheap forgiveness ini, tanpa kita sadari, kita sedang menipu diri sendiri. Kita memaafkannya karena kita pikir kita tak bisa hidup tanpa pasangan kita, padahal sebenarnya kita masih terluka. Hal ini akan membuka peluang perselingkuhan dan luka tersebut akan terulang kembali.

So, kalau ingin menyelamatkan pernikahan, ungkapkan kemarahan terlebih dulu pada pasangan yang sudah berselingkuh sebelum kemudian memaafkannya. Kalau kita berhasil mengeluarkan semua emosi, maka itu akan lebih menyembuhkan.


3. Berani mempertanggungjawabkan dan juga menerima pertanggungjawabannya


Pihak yang berselingkuh dan kemudian mencoba untuk kembali pada pasangan niscaya akan memiliki rasa bersalah yang barangkali cukup besar yang tersimpan di dalam hatinya. Rasa bersalah ini akan menjadi luka tersendiri. Mungkin sebagian kita akan menganggap itu layak dia terima. Tapi, pihak yang berselingkuh tersebut juga berhak untuk bebas dari luka yang ditimbulkan dari rasa bersalahnya.

Bagaimana caranya?

Sebagian orang justru ‘lari’ dengan jalan memilih berpisah dari pasangannya. Hanya sedikit yang mau mengakui perselingkuhan dan kemudian kembali ‘pulang’. Saat pasangan kita memutuskan untuk kembali, hal tersebut haruslah kita apresiasi setinggi-tingginya karena berarti dia mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagaimanapun, perselingkuhan pasti bukan karena disebabkan oleh satu pasangan saja. Ini seperti efek domino. Yang satu akan memicu permasalahan yang timbul kemudian. Karena itu, pemulihan hubungan ini bukan hanya berada di pundak salah satu pasangan saja, tetapi keduanya.


4. Beri bukti, bukan janji


Ya, sepertinya itu ungkapan yang klise sekali ya. Kayak kampanye politik saja.

Tapi sepertinya ungkapan ini benar banget. Bukti memang lebih besar artinya daripada janji. Janji bisa segera dilupakan. Tapi dengan membuktikannya, tentunya akan berbeda.

Namun, sebuah janji tetaplah penting. Janji menjadi kuat saat kedua belah pihak sama-sama melakukannya. Setelah kedua belah pihak saling terbuka mengenai luka masing-masing, maka sebaiknya kemudian diikuti dengan saling memberi pernyataan atau janji saling setia, dan kalau perlu dalam bentuk tertulis.

Kalau dulu kita saling mengirim surat cinta, sekarang kita juga bisa melakukannya. Tulis saja surat cinta satu sama lain, perbarui niat untuk saling membahagiakan.

Lalu, buktikan.


5. Cari bantuan


Menjalani kehidupan berumah tangga itu memang sulit, bahkan jika tanpa ada kasus perselingkuhan sekalipun. Menikah memang gampang, berumah tangga itu sulit. Nggak ada sekolahnya, nggak ada kursusnya, juga nggak ada manual book-nya. We all learn by doing.

Karena itu ada baiknya saat sedang menghadapi permasalahan yang serius dalam berumah tangga ini, kita mencari bantuan dari orang lain. Misalnya, pemuka agama, atau kita juga bisa mencari seorang konsultan perkawinan. Bahkan sebenarnya kita pun bisa mengobrol dan bertukar pikiran dengan mereka yang juga pernah mengalami hal yang sama. Jika memang hubungan kita dengan mereka cukup dekat, kita bisa menanyakan kronologis bagaimana mereka berhasil melalui badai dalam rumah tangganya tersebut.


6. Pastikan tak ada pihak ketiga


Saat kita dan pasangan sudah benar-benar berniat untuk memperbaiki diri masing-masing dan kembali satu sama lain, pastikan tak ada pihak ketiga yang turut campur dalam resolusi berdua.

Pihak ketiga di sini tidak hanya melulu orang lain. Tapi juga keluarga, kerabat, teman dan sahabat. Tak perlu terlalu memikirkan apa kata mereka, percayalah pada diri sendiri dan pasangan untuk kali ini. Fokuslah pada usaha-usaha perbaikan hubungan, dan terutama usaha untuk mengembalikan kepercayaan. Ini saja sudah menyita energi yang sangat besar lho.

Jadi, tak perlu terlalu memikirkan omongan orang lain dulu.


7. Cinta, cinta, dan cinta


Ingat, bahwa dulu kita bersatu atas nama cinta, maka biarkanlah cinta yang kembali mempersatukan.

Ah, sounds so cheesy. Tapi, harus dicoba! Dan, kita pasti bisa. Kalau perlu, coba ulangi lagi masa-masa romantis pacaran dulu. Pedekate lagi, kencan lagi. Coba cari getar-getar itu. Jangan menyerah. Setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan kan? Namun juga pasti ada kebaikan pada diri setiap orang. Maka, selalu berpikir positif, itu kuncinya.


Hal yang paling dicari di setiap hubungan adalah rasa aman dan rasa dicintai. Jika masing-masing memiliki rasa tersebut, yakin deh, semua akan baik-baik saja.

Kembali bersama setelah peristiwa perselingkuhan merupakan keputusan yang terbesar yang diambil oleh setiap pasangan, karena perselingkuhan itu pasti akan meninggalkan trauma mendalam bagi kedua belah pihak yang mungkin akan susah disembuhkan.

Namun bukan berarti tak ada harapan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setelah Didera Badai Perselingkuhan, Akankah Kita Bisa Kembali Menjalani Kehidupan Pernikahan dengan Normal?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar