Stay at Home Mama vs Working Mama - Inilah Cerita Kegalauan Saya Saat Memilihnya

Stay at Home Mama vs Working Mama - Inilah Cerita Kegalauan Saya Saat Memilihnya

2K
It's your life. It's your choice

Ini memang merupakan perdebatan klasik dan abadi di kalangan para mama. Saya tahu sekali bahwa ikut urun pendapat mengenai hal ini, hanya akan memperuncingnya, tapi saya nggak bisa menahan diri juga untuk tak sharing cerita saya saat saya sedang berjuang dalam dua pilihan.

Saya akan mulai cerita saya saat saya masih bekerja sebagai seorang part-timer di sebuah kantor konsultan arsitekur sebagai 3D artist. Pekerjaan saya menyita waktu sekali, dalam 1 minggu saya bisa terus-terusan bekerja sampai larut malam. Meski saya part-timer, dan pekerjaan bisa saya kerjakan dari rumah, tapi teteup, saya harus bolak-balik ke kantor untuk setor pekerjaan.

Saya punya bayi waktu itu, dan hal tersebut sangat membuat saya kelelahan, sehingga membuat saya menjadi tak profesional dalam pekerjaan sekaligus tak profesional sebagai seorang mama yang masih menyusui.

Tepat saat anak pertama berusia 6 bulan, akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja.

Saya merasa harus memilih. Dan, hal-hal di bawah inilah yang menjadi pertimbangan saya saat itu.


Mengapa saya perlu bekerja?



Ya, mengapa saya perlu bekerja? Apa yang bisa membuat saya bertahan dalam pekerjaan ini?

1. Alasan ekonomi

Kami, saya dan suami, ingin menambah penghasilan rumah tangga. Saat itu, kami baru saja membeli rumah secara mencicil pada bank. Saat melakukan wawancara sebelum kredit disetujui, kami sudah mempertimbangkan mempunyai dua pemasukan, dari saya dan dari suami.

Lalu, bagaimana kalau pemasukan sekarang hanya oleh salah satu dari kami saja? Pastinya kelayakan itu menjadi berkurang, bukan? Timbul pula kekhawatiran, apakah sanggup kami melunasinya?


2. Pendidikan saya

Saya adalah seorang lulusan arsitektur sebuah universitas ternama di Bandung. Sepertinya sudah selayaknya saya harus memberikan kontribusi pada dunia. Sayang banget tahun-tahun yang saya habiskan di bangku kuliah, kalau akhirnya ilmu yang saya dapatkan hanya disimpan di dalam laci.


3. Passion saya

Saya sangat enjoy melakukan pekerjaan saya. Begitu menantang dan menjanjikan. Saya bekerja part-timer, yang hanya mendapatkan tugas saat ada jadwal presentasi pada klien saja. Kalau dirata-rata, dalam satu bulan, saya hanya harus mengerjakan dua hingga tiga proyek dengan durasi sekitar satu minggu per proyek.

Hanya saja kalau lagi ada proyek, apalagi mendekati deadline, saya harus mengerjakannya hingga hampir 24 jam penuh! Iya, seru banget saat belum punya anak. Begitu sudah ada anak, apalagi kemudian menangis meminta jatah ASI-nya, itu cerita yang sama sekali lain. Ditambah gambar sudah ditunggu jadi dalam 3 jam ke depan.

Stres berat! Sebelumnya selama kurang lebih 4 tahun, saya juga sempat bekerja secara full time di sebuah biro konsultan arsitektur sebagai Arsitek. Kondisinya? Sama, stres juga.`


Baca juga: Anak-anak, Mama Tidak Akan Pernah Meminta Maaf karena Menjadi Seorang Working Mom


Mengapa saya perlu berada di rumah?


Mengapa saya harus ada di rumah bersama anak-anak? Apa yang bisa membuat saya meninggalkan pekerjaan yang saya sukai?

1. Bayi saya memerlukan saya

Makhluk kecil mungil yang pernah menghuni perut saya selama 9 bulan ini membutuhkan saya lebih dari siapa pun dan apa pun. Dia butuh ASI dan juga pelukan. Dia nggak tahu dan nggak mau tahu apa itu namanya deadline.

Ah, andai saja bayi bisa dikasih tahu, apa arti deadline dan kemudian diajari bersabar. *sigh*

"Tapi nanti Mama akan bisa kasih hadiah yang banyak dari gaji Mama lho. Mama bisa belikan dia baju keren yang mahal, atau mainan bayi canggih!"

Ya, tapi dia belum butuh apa pun yang bisa dibeli dengan uang. Dia hanya perlu ASI saja, dan pelukan dari mamanya. Itu saja.


2. Waktu istirahat yang begitu mahal

Ya, saya sangat butuh waktu untuk bisa menikmati hidup. Leyeh-leyeh sambil kipas-kipas menikmati uang suami sembari memeluk hangat bayi saya. Dan hal itu sama sekali tak bisa saya lakukan kalau saya bekerja. Saya begitu kelelahan. Seakan-akan buat napas saja susah.

Apa? Istirahat? Itu kemewahan buat saya.


3. Percaya pada suami

Ya, ini waktunya saya menguji kualitas papanya anak-anak, sanggupkah dia memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga? Sekaligus juga menguji diri sendiri, sanggupkah saya hidup seadanya? Saya pastinya harus menurunkan standar gaya hidup, karena sumber penghasilan keluarga kami berkurang.

Hal ini menjadi pendidikan mental yang luar biasa bagi kami berdua, sekaligus kembali merefleksi dan membangun ulang fondasi rumah tangga kami.


Baca juga: Jangan Pernah Katakan atau Tanyakan 13 Hal Berikut Ini pada Stay at Home Moms!


    Mana yang saya pilih? Masing-masing pilihan mempunyai tiga alasan yang sama kuat.

    Tanya suami?

    "It's your life. It's your choice."

    Itu jawaban darinya. Sudah menjadi kewajiban suami untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun hal ini tetap membutuhkan pengertian dari kita, istrinya, apakah sanggup menerima gaji suami seadanya. Selama sanggup, nggak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika suami nggak kerja, istri menuntut gaya hidup tetap tinggi.

    Jadi bagaimana?

    Mau tetap dekat anak, bisa leyeh-leyeh sepanjang waktu, tetap banyak duit, bisa menyalurkan ilmu tanpa stres dan tetap profesional? Nggak ada pilihan semacam itu. Kita hidup di Indonesia, bukan di Finlandia atau Skotlandia, yang pemerintahnya begitu memperhatikan mama yang baru saja melahirkan untuk tidak bekerja, tetap di rumah, dengan memberikan gaji setiap bulannya.

    Sounds bitter, but it's true.


    But we do need working mamas!


    Namun ada hal-hal yang memang tak bisa terhindarkan.

    Saat memeriksa kehamilan di dokter kandungan yang kebetulan juga adalah seorang mama (baru saja dikaruniai anak, kembar pula!), saya pun melihat betapa banyak orang yang menggantungkan diri dan memerlukan jasanya. Sungguh, saya nggak bisa membayangkan kalau dia meninggalkan pasiennya yang telah menunggu berjam-jam, demi memeluk anaknya.

    Oh no! Apalagi dengan begitu banyak mama yang harus ditolongnya!

    Memang ada banyak perempuan yang sangat dibutuhkan energinya. Ketua partai yang ditunggu konstituennya, walikota yang ditunggu jutaan warganya, pemimpin perusahaan yang ditunggu client dan karyawannya, guru yang ditunggu murid-muridnya, dan masih banyak lagi.

    Tak perlulah kita menanyakan pada perempuan-perempuan pejuang itu, alasan hingga mereka tega ‘mengorbankan’ keluarganya. Apalagi menghakimi mereka. Mereka telah menempatkan keluarganya pada urutan kedua demi kepentingan orang banyak.

    Yang perlu dipikirkan, terutama oleh saya sekarang adalah, selama kita cuma mengerjakan sesuatu tapi membebani, yang malah membuat kita stres, padahal yang kita dapatkan not worth it sama sekali, itu jelas jawabannya: "You have to quit. Now!"


    Baca juga: Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!


    Memutuskan berhenti bekerja



    Semua pertimbangan tadi akhirnya membawa saya memilih untuk berhenti bekerja untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

    Selepas berhenti bekerja, saya pun lantas tenggelam dalam kesibukan sebagai mama dari anak laki-laki saya. Kami bisa bermain berdua seharian, bisa tidur siang, menonton televisi, membaca buku, jalan-jalan. Paling-paling saya hanya mikir menu apa yang akan kita makan hari ini yang murah meriah.

    Hingga tiga tahun kemudian, lahirlah anak kedua kami, perempuan. Kini ada dua balita melengkapi hidup saya dan suami. Hingga nggak terasa sudah 7 tahun berlalu saya menjadi seorang stay at home Rocking Mama.

    Saya menikmati masa-masa di rumah bersama anak-anak saya. Namun saya tetap berempati saat melihat teman-teman yang panik gara-gara deadline pekerjaan mereka. Saya mengerti sekali. Saya pun paham ketika mereka ribut saat ART-nya tiba-tiba mogok bekerja. Meskipun saya tidak pernah mengalaminya.

    Pertanyaan-pertanyaan lain mengenai saya yang "hanya" nganggur di rumah? Nggak sayang ilmu? Nggak pengin beliin mainan untuk anak, karena saya selalu beralasan "nggak punya uang" pada mereka setiap kali mereka meminta mainan?

    Saya tidak peduli.

    Yang penting, saya bahagia. Saya yakin, keluarga kecil saya juga bahagia atas pilihan saya.

    Saya pun yakin setiap mama berhak bahagia. Apa pun pilihan mereka.


    Baca juga: Siapa Bilang Cuti Melahirkan Sama dengan Cuti Liburan? Ini Lho 9 Fakta Sebenarnya!


    Apa ceritamu, Mama? Share di kolom komen ya!




    Write for Us!

    Kamu baru saja membaca artikel "Stay at Home Mama vs Working Mama - Inilah Cerita Kegalauan Saya Saat Memilihnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

    Tulis ceritamu di sini !


    Shanty Arifin | @shantydewiarifin

    Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Fo

    Silahkan login untuk memberi komentar