Super Mama, Checked! Lalu, Bagaimana Kalau Harus Menjadi Super Daughter (In Law)? Checked?

Super Mama, Checked! Lalu, Bagaimana Kalau Harus Menjadi Super Daughter (In Law)? Checked?

1.2K
Orang yang kehilangan mama telah kehilangan jiwa murni yang selalu memberkati dan melindunginya. -Kahlil Gibran

Membahas soal menjadi seorang mama memang nggak ada habisnya.

Sebagian perempuan menjadi seorang mama karena telah memutuskan untuk menikah di usia muda dan beruntungnya, tidak lama setelah pernikahan langsung diberikan pula 'titipan berharga' oleh Tuhan.

Ada juga yang harus berjuang untuk bisa menyandang status mama. Setelah beribu doa dipanjatkan dan bertahun-tahun kehidupan pernikahan dilewatkan, akhirnya bisa juga menyebut diri sendiri sebagai seorang mama dari seorang pangeran atau putri. Juga, ada yang resmi menjadi mama karena sepakat untuk mengadopsi anak.


BACA JUGA


Dear Ibu Mertua, I Love You - Dan 7 Alasan Ini Membuat Saya Makin Menyayangi Ibu!

Dear Ibu Mertua, I Love You - Dan 7 Alasan Ini Membuat Saya Makin Menyayangi Ibu!

Ibu Mertua sayang, Ibu memang bukan orangtua kandung saya. Tapi percayalah, saya punya banyak alasan untuk sangat dan semakin menyayangi Ibu ...

Read more..


Ya, Mama. Betapa bahagianya seorang perempuan ketika diberi amanah oleh Tuhan untuk merasakan nikmat (dan sakitnya) melahirkan.

Dan, setelah itu? Mereka pun fokus mengasuh anak, mengurus suami, dan membangun keluarga yang diimpikan. Selama masa menuju pernikahan, masa kehamilan, melahirkan, hingga menyusui, tentu Mama banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik.

Di samping itu, Mama pun harus menjadi istri yang baik agar peran Mama dalam rumah tangga dapat berjalan selaras. Belum lagi, 'tuntutan' untuk menjadi menantu dan ipar yang baik.



Lalu, seberapa banyakkah Mama yang tetap bisa memikirkan bagaimana menjadi seorang anak yang baik setelah Mama sendiri memiliki anak?

Katakanlah, jika masih hidup, berarti Mama sekarang memiliki 2 mama kan ya? Biar nggak bingung, kita sebut dengan panggilan 'Ibu' aja, ya.

Yes, Mama tentunya masih memiliki kewajiban sebagai anak yang berbakti, baik bagi ibu kandung maupun ibu mertua.

Saya punya sedikit cerita.

Suatu pagi, saya pernah berbincang dengan tetangga sebelah rumah, seorang ibu rumah tangga--sepakat kita sebut ibu Dila. Beliau ini sangat ulet mengurus ibu mertuanya yang sudah kesulitan berjalan dan mengalami gangguan pada ingatannya.

Setiap pagi, ia ajak ibu mertuanya 'duduk-duduk' di taman. Ya, karena 'jalan-jalan'-nya menggunakan kursi roda, Ma. Sesekali dibantu berdiri dan melangkah--karena berjalan kaki minimal 20 menit sehari dapat membantu meningkatkan daya ingatnya. Mandi, dibantu. Makan, dibantu. Jalan pun dibantu. Tidur? Sering kali ibu mertua juga butuh bantuan, kadang terbangun dari tidurnya dan mengeluh kedinginan.

Begitulah setiap harinya, mereka melakukan kegiatan yang sama. Ibu Dila rela tinggal di rumah, demi merawat sang Ibu mertua. Beruntungnya, 3 anak Ibu Dila yang termasuk generasi millenial, sudah beranjak remaja, sehingga ia bisa meng-handle semuanya agar berjalan lancar.

Justru, ia mengajarkan anaknya untuk turut serta membantu neneknya yang baru 3 tahun terakhir ini tinggal bersama keluarganya. Dan bukan merasa 'kerepotan' dengan hadirnya 'anggota baru' di rumahnya.

Awww ... so sweet bukan, Mama?



Hmmm, coba, diingat-ingat, Ma. Kapan terakhir Mama (terutama yang merantau jauh dari rumah orangtua) pulang untuk mengunjungi Ibu atau Ibu Mertua di kampung halaman?

Atau barangkali Mama sebenarnya tinggal 1 kota dengan Ibu atau Ibu Mertua, tapi terakhir ketemu 3 bulan lalu?

Uang transferan per bulan, dering telepon untuk menanyakan kabar, dan kalimat "Hati-hati ya, Ma, di sana!" memang belum menggugurkan kewajiban sebagai anak yang berbakti.

Namun, is that it? Apakah hanya itu? Apa benar itu yang diperlukan oleh ibu kita, Ma? Apa sih, yang paling dibutuhkan seorang perempuan lanjut usia seperti ibu kita?

Ya, sudah terjawab kan, di hati masing-masing?

Fokus menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik nggak membuat Ibu Dila lupa untuk menjadi menantu yang super. Kalau nggak ada ibu mertua kita, bisa jadi kan nggak akan ada anaknya yang Mama sayangi banget itu lho, Ma.

Yah, sekali-kali refleksi diri diperlukan, supaya bisa improve lagi, kan, Ma?


BACA JUGA


Ibu Mertua Riwil? Pahami dan Lakukan 6 Hal Ini untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengannya!

Ibu Mertua Riwil? Pahami dan Lakukan 6 Hal Ini untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengannya!

Relasi dengan Ibu Mertua kadang begitu rumit bagi sebagian perempuan. Menggantikan perannya sebagai "sosok perempuan terpenting" dalam hidup ...

Read more..


Tentu, Mama udah tahu cara membahagiakan ibu sendiri, tinggal cari waktu untuk melaksanakan saja yah, yang sulit. Kalau pun Ibu atau Ibu mertua Mama telah mendahului kita semua, Mama masih punya kewajiban untuk mendoakannya. Refleksi diri yuk, Ma, kalau jadi Mama untuk anak dan istri bagi suami kayaknya udah top markotop deh.

Lalu, kalau untuk Ibu sendiri, gimana kira-kira ya?

*setelah itu pandangan kabur karena ada air tergenang di pelupuk mata*



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Super Mama, Checked! Lalu, Bagaimana Kalau Harus Menjadi Super Daughter (In Law)? Checked?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Githa MuthiaAnanda | @githamuthiaananda

Silahkan login untuk memberi komentar