#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Antara Keuangan Keluarga, Investasi, dan Bisnis Diomongin Seru!

#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Antara Keuangan Keluarga, Investasi, dan Bisnis Diomongin Seru!

4.2K
Kalau sekarang Mama sudah ada patokan pengeluaran harian dan kemudian timbul pengeluaran yang nggak sinkron, apakah itu karena memang sesuatu yang benar-benar perlu ataukah hanya ingin? Diskusi keuangan itu ternyata bisa seseru ini! Yuk, ikuti sesi #TanyaKeuangan perdana kita, Ma!

Halo, Mama! Dalam grup Rocking Mama Community (rencananya 2 minggu sekali saja nantinya) ada satu sesi di mana kita bisa bertanya-tanya tentang beberapa masalah langsung pada ahlinya, yaitu #TanyaPakar. Nah, yang lalu kita telah ada sesi #TanyaKeuangan lho.

Kita punya Mas Dani Rachmat, seorang blogger dan praktisi keuangan, yang bersedia ditanya-tanya seputar keuangan, seperti misalnya produk perbankan, investasi, tips keuangan keluarga dan lainnya. Sesi yang lalu seru banget nih, banyak pertanyaan mampir di thread forum yang dibuka, dan Mas Dani pun dengan cepat meresponnya satu per satu.


BACA JUGA


6 Kesalahan Keuangan Berikut Ini Sering Dilakukan oleh Mama Demi Keluarga. Apa Saja?

6 Kesalahan Keuangan Berikut Ini Sering Dilakukan oleh Mama Demi Keluarga. Apa Saja?

Terkadang saking merasa nyaman dengan kehidupan keluarga yang bahagia, Mama suka lupa ada beberapa hal yang harus dipikirkan secara jeli ...

Read more..


Yuk, kita ikuti saja sesi tanya jawab seputar keuangan #TanyaKeuangan perdana kita bersama Mas Dani Rachmat kali ini ya.

Silakan disimak, Mama. Siapa tahu Mama pun punya permasalahan yang sama dengan para mama di Rocking Mama Community.


1. Lia Harahap: Apa sih yang harus dipertimbangkan dari segi keuangan ketika ingin memutuskan menjadi freelancer dari status pekerja kantoran? Lalu apa juga yang harus dipersiapkan?


I take it as you want to switch from a full time office worker to a freelancer? CMIIW. Kalau dari segi keuangan yang harus dipertimbangkan adalah beberapa hal ini:

1. Gaya hidup yang ingin dipertahankan

Perubahan gaya hidup ini terkait erat dengan tingkat penghasilan yang akan diterima setelah beralih menjadi pekerja freelance. Kalau penghasilan yang didapatkan ketika freelance lebih rendah, maka perlu dilakukan penyesuaian gaya hidup. Apabila ternyata lebih tinggi? Saya rasa penyesuaian tetap perlu dilakukan. Karena dengan freelance, penghasilan bulanan tidak selalu akan ada sehingga diperlukan alokasi keuangan untuk bisa cover masa-masa di mana penghasilan tidak ada.

2. Asuransi kesehatan yang harus dibeli

Salah satu keuntungan bekerja kantoran adalah adanya asuransi kantor! Nggak lebay, tapi dengan bekerja kantoran, kita tidak perlu pusing ketika sakit. Biaya berobat seharusnya sudah ditanggung oleh kantor dalam kemasan benefit yang ditawarkan.

Kalau tidak? Well, pindah kantor harus dipertimbangkan atau mulai bekerja freelance!

Di sinilah sisi kritis bekerja freelance. Kita harus benar-benar aware akan asuransi kesehatan kita. Coba pilah-pilih asuransi kesehatan yang akan dipergunakan untuk menggantikan asuransi kesehatan dari kantor. Bahkan sejak masih bekerja kantoran. Jangan sampai nanti sudah lepas kerja kantoran, asuransi belum ada gantinya. Rugi kan kalau kerja keras freelancingnya habis tergerus ketika sakit?

Kalau masih ditanggung kantor suami ataupun istri? Bisa lebih tenang. Tapi, coba bandingkan dulu benefit asuransi kantor sendiri dengan pasangan dan coba cari asuransi yang bisa meng-cover kekurangan yang tidak ditanggung itu. Bagaimanapun, beli asuransi sendiri dengan benefit yang sama bisa jadi lebih mahal, atau kalau dapat harga yang sama, benefitnya pasti berbeda.

Jangan sampai terlewat soal asuransi ini ya!




3. Pinjaman-pinjaman yang harus dilunasi

Kalau ada pinjaman-pinjaman yang diambil ketika masih bekerja sebagai karyawan, usahakan sudah dilunasi sebelum berhenti bekerja menjadi pegawai ya, karena hitungan pinjaman yang diambil dulu pasti pakai hitungan rutin gaji. Kalaupun tidak bisa langsung lunas, paling tidak usahakan sudah memiliki langkah-langkah bagaimana melunasinya.

Kenapa? Biar tidak menjadi beban yang terlalu berat untuk masa-masa freelancing yang mungkin pendapatan belum stabil di awal. Kalau penghasilan yang akan datang lebih besar, selamat, you already have a plan to combat your loan.

Apa saja yang harus dipersiapkan?

Mental dan juga komitmen untuk konsisten akan rencana-rencana keuangan terutama yang terkait dengan hal-hal di atas.


2. Avizena Zen: Lebih baik investasi dalam bentuk LM atau properti?


Saya jawabnya ini pakai pertanyaan template para financial planner, tapi memang begitulah adanya nih. Tujuan investasinya buat apa?

Jawaban tujuan investasinya buat apa ini jangan dijawab dengan, “Untuk investasi.” atau, “Biar untung”, karena akan saya tanya lagi, “Investasi buat apa?” dan, “Untung seberapa banyak?”

Jawablah dengan, “Untuk (tujuan tertentu yang spesifik, misalnya untuk beli rumah lagi, sekolahkan anak, plesiran ke Jepang endesbra endesbre) dalam waktu (isikan jangka waktu dalam hitungan tahun atau bulan) tahun/bulan ke depan yang kalau dihitung sekarang butuh duit sejumlah (sebutkan nominal duitnya).

Kenapa begitu? Karena akan semakin ketahuan, Ma, berapa lama dana akan dibutuhkan dan seberapa likuid instrumen investasi itu.

Instead of menjawab mana yang lebih baik, saya jawab dengan karakteristik kedua investasi itu ya.

LM (logam mulia), kenaikan harganya kurang lebih mengikuti inflasi. Jadi kalau buat jangka panjang kemungkinan kenaikan harga tajamnya akan membutuhkan event-event luar biasa seperti yang terjadi ketika krisis tahun 90-an, ataupun sekitar 2008 ketika ada krisis subprime. Kelebihan dari instrumen emas adalah likuiditasnya. Bisa dijual cepat di pasar. Karena itu emas cocok dipakai untuk investasi jangka pendek sampai menengah atau bisa juga dipakai untuk dana darurat.

Sementara Properti, kenaikan harganya bisa sampai 200% dalam jangka waktu 5 tahun, akan tetapi risiko terbesar dari properti adalah kurang likuid. Let’s say, nilai investasi di properti selama jangka waktu yang diperlukan sudah naik 300%, apakah ketika dibutuhkan properti tersebut dapat dijual dengan segera?

Alternatif lain investasi properti adalah dengan tujuan sewa. Jadi, kita membeli properti untuk disewakan. Tapi, jangan terlena dengan uang sewa yang diterima tiap periode. Misalkan, membeli atau membangun rumah kos/rumah kontrakan, uang yang masuk setiap periode kontrakan harus dimasukkan ke dalam instrumen investasi lain kalau memang tujuan awal membeli/membangun rumah kos/rumah kontrakan itu adalah untuk investasi.

Ke mana uangnya harus diinvestasikan? Tinggal pilih kok, bisa emas, reksadana atau dibelikan saham perusahaan bluechip!


3. Echa: Buat masa depan anak enaknya tabungan biasa, asuransi pendidikan atau apa?


Buat saya pribadi saya lebih memilih saham sebenarnya. Hehehe.

Kalau masih belum nyaman langsung investasi ke saham bisa mulai coba investasi di reksadana terlebih dahulu. Kalau masih belum nyaman juga, silahkan pilih asuransi pendidikan atau instrumen lain yang mendukung.

Kenapa kok tidak investasi di asuransi pendidikan sebagai pilihan pertama? Karena menurut saya asuransi seharusnya berperan untuk perlindungan, sementara dana pendidikan adalah tujuan yang semestinya dicapai dengan investasi.

Dengan memilih asuransi pendidikan, perkembangan dana menurut saya akan kurang optimal. Kalau saya pribadi, akan memilih membeli asuransi term life murni, dan kemudian membeli instrumen investasi saham. So, kita akan mendapatkan perlindungan maksimal dan hasil investasi juga optimal berkembang.

Tapi apa pun instrumen investasi yang dipilih, yang penting ke depannya bisa memenuhi target biaya pendidikan anak yang diinginkan. Jangan sampai giliran masuk sekolah ternyata hasil investasi yang dipilih kurang jauh dan nambahnya terlalu banyak. Rugi waktu dong kita.


BACA JUGA


Takut Investasi Saham? Beberapa Tips Berikut Akan Menepis Keraguan Mama Berinvestasi Saham

Takut Investasi Saham? Beberapa Tips Berikut Akan Menepis Keraguan Mama Berinvestasi Saham

Investasi saham? Apa pula itu? Yuk, cari tahu demi masa depan keluarga

Read more..


4. Primastuti Satrianto: Ranking tabungan/deposito, tabungan dolar, saham, reksadana, logam mulia, dan investasi rumah dong, Mas.
Kalau untuk freelancer, manakah yang aman dipilih untuk berinvestasi? Mungkinkah bank akan berubah fungsi kalau tingkat kepercayaan sebagai nasabah di bank bukan lagi untuk menabung?


Nah, kalau ditanya soal ranking investasi, hasilnya akan berbeda-beda pada setiap orang, Ma, karena akan sangat tergantung profil risiko setiap orang. Jadi nggak bisa dipukul rata.

Kalau preferensi saya sendiri, akan saya sesuaikan tujuan investasi saya yang akan menyangkut lama waktu investasi sampai dengan berapa banyak yang saya targetkan.

Saya sendiri investasi di berbagai macam instrumen; saham, reksadana, emas, properti. Kalau diminta mengurutkan, paling nyaman sih di saham dan reksadana karena dikelola profesional, dan tinggal monitor dan ngawasin aja di market. Hahaha.

Instrumen yang aman dipilih freelancer untuk investasi? Nggak ada, Ma, karena setiap instrumen punya risikonya sendiri-sendiri. Bahkan deposito dan tabungan pun nggak aman. Nggak aman dari apa? inflasi. Karena suka maupun tidak, inflasi itu nyata adanya. Harga beras nggak tetap Rp. 500,- /kg kayak zaman dulu kan? Hahaha.

Menjawab pertanyaan terakhir, saya juga jadi tergelitik bertanya balik, tingkat kepercayaan turun bagaimana maksudnya, dan kemudian bank berfungsi untuk apa dalam bayangan Mama Prima? Hehehe.

Kalau boleh berteori, pertanyaan ini apakah dari semakin berkembangnya industri FinCo dewasa ini yang seolah meminimalkan peran bank?


BACA JUGA


Mau Buka Rekening Baru di Bank? Pastikan Mama Tahu 6 Hal Berikut Ini Lebih Dahulu!

Mau Buka Rekening Baru di Bank? Pastikan Mama Tahu 6 Hal Berikut Ini Lebih Dahulu!

You look at your bank account, and you see the currency of love and happiness is more important than the currency of money. ~ Richie Sambora

Read more..


Saya meilihat kondisi saat ini justru menguntungkan bank. Selama ini bank menjadi tempat nasabah perorangan membuka rekening, sementara BI dan OJK sendiri mengatur ketat akan data yang diperoleh bank. Banyak di antara nasabah tersebut yang kemudian jadi tidak aktif rekeningnya.

Dengan banyaknya FinCo yang sampai saat ini ternyata masih menggunakan bank sebagai lembaga pengelola dana, menjadikan rekening-rekening nasabah yang tidak aktif menjadi aktif. Ataupun kalau tidak, transaksi yang terjadi semakin meningkat. Hal inilah yang justru diharapkan oleh bank.

Meningkatnya jumlah transaksi dibandingkan meningkatnya dana tabungan, meskipun dana tabungan yang tinggi juga diharapkan oleh bank. Artinya apa? Semakin transaksi meningkat maka dana yang mengendap di satu rekening semakin kecil, berarti biaya bunga bank semakin rendah sementara biaya transaksi yang masuk semakin besar. Biaya turun, keuntungan naik.

Soal tingkat kepercayaan pada bank yang menurun, saya rasa tidak bisa menjawab itu sekarang, Ma, karena sampai sekarang bank adalah satu lembaga yang diatur sedemikian ketat, mulai BI, OJK sampai ke BASEL yang merupakan komite semua bank sentral dunia.


5. Handayani Abd Widiatmoko: Investasi apa yang pas untuk pasangan menjelang pensiun. Terlambat nggak sih untuk investasi?


Kalau investasi yang pas untuk pasangan menjelang pensiun sebaiknya di instrumen investasi yang bisa menghasilkan return rutin setiap bulan yang risikonya relatif lebih kecil. Terdengar seperti deposito? Kalau bisa sih yang hasilnya lebih besar dari deposito.

Saya mengasumsikan, bahwa sudah ada dana yang terkumpul di tabungan sampai dengan masa sebelum pensiun. Bisa dipergunakan untuk membeli rumah kontrakan/kost, atau kalau tidak, bisa juga membeli surat utang pemerintah.

Kalau ingin berbisnis bisa dengan membeli waralaba dengan sistem pengelolaan dari pemilik waralaba sehingga hanya tinggal menikmati bagi hasil.


6. Cheila Gurukecil: gimana cara mengatur keuangan untuk yang income-nya masih dibilang kecil. Sementara pengin ada tabungan buat si anak sekolah nantinya.


Mama Cheila, saya sendiri, terlepas dari besar kecilnya income, akan melakukan hal-hal ini:

  1. Memastikan income lebih besar dari pengeluaran. Kalau kondisi saat ini sebaliknya, maka pilihannya adalah menaikkan income atau menekan pengeluaran.
  2. Memastikan utang dan pengeluaran bulanan sudah terbayar lebih dahulu, setelah zakat/persepuluhan atau apapun namanya sesuai agama masing-masing.
  3. Langsung menyisihkan minimal 10% pendapatan bulanan ke rekening investasi melalui mekanisme autodebet. Sekarang beli reksadana bisa dari Rp. 100 ribu/bulan.
  4. Habiskan sisanya untuk belanja! Hehehe.


7. Yervi Hesna: Instrumen apa yang bisa digunakan untuk mengontrol pengeluaran? Apa pendapatan sudah di-plot masing-masing pada item pengeluaran? Dulu saya pernah menggunakan catatan harian pengeluaran. Tapi setelahnya, pusing kalau ada beberapa yang nggak sinkron antara pengeluaran catatan dengan duit yang habis di dompet.


Mama Yervi, sebenarnya menurut saya, tidak ada alat eksternal yang benar-benar efektif untuk mengontrol pengeluaran. Kontrol terkuat ada pada diri sendiri untuk memisahkan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan.

Jadi kalau memang pengeluaran dirasa lebih besar, coba dianalisis, apakah ada yang benar-benar harus terus dipenuhi ataukah ada yang harus dipotong.

Saya dulu juga pakai catatan harian pengeluaran. dan ketika ada yang tidak sinkron kalau dalam kasus saya most of the time karena saya mengikuti kata hati untuk spend something yang memang tidak ada dalam daftar. The thing is dengan catatan harian pengeluaran adalah lambat laun kita akan membangun rasa perlu/tidak perlu akan suatu pengeluaran yang ingin kita keluarkan.

Kalau sekarang Mama sudah ada patokan pengeluaran harian dan kemudian timbul pengeluaran yang nggak sinkron, apakah itu karena memang sesuatu yang benar-benar perlu ataukah hanya ingin?

Saya, ketika merasa perlu beli baju kerja baru misalkan, kemudian bertanya, apakah di rumah tidak ada lagi baju kerja yang saya bisa pakai? Kalau saya tidak beli baju kerja ini sekarang, apakah dua minggu atau tiga minggu lagi saya masih survive dengan baju yang ada? Kenapa harus beli baju kerja ini?

Dan most of the time, ternyata saya memang hanya ingin.


BACA JUGA


Ini Dia 7 Pengeluaran Nakal Khas yang Sering Dilakukan oleh Rocking Mama dan Bisa Sangat Berbahaya

Ini Dia 7 Pengeluaran Nakal Khas yang Sering Dilakukan oleh Rocking Mama dan Bisa Sangat Berbahaya

Money was never a big motivation for me, except as a way to keep score. The real excitement is playing the game. ~ Donald Trump

Read more..


8. Uni Dian: Saya dan suami punya prinsip. Setiap uang yang masuk dibagi 3. 1/3 disimpan. 1/3 untuk bayar kebutuhan sehari-hari, dan 1/3-nya untuk biaya bantu keluarga besar. Ini dilakukan saat belum punya anak hingga punya anak satu. Masalahnya sekarang, anak sudah dua. Kebutuhan pun berubah. Sementara suami masih tetap sebagai tulang punggung keluarga besarnya.
Kira-kira ada trik lain atau tips nggak untuk saya mengatasi hal ini, tanpa harus menghapus kebiasaan suami yang membantu keluarganya. Apakah tabungan yang dikurangi, atau gimana?


Wah, subhanallah, Mama! Saya salut! Semoga yang Mama lakukan untuk keluarga menjadi berkah ya. Amin!

Bagaimana ya, yang enak menjawabnya? 1/3 disimpan, 1/3 kebutuhan sehari-hari, dan 1/3 biaya bantu keluarga besar sebenarnya tidak ada yang salah.

Dari sisi pengeluaran, apakah sudah sepenuhnya merupakan pengeluaran yang dibutuhkan? Atau ada yang masih bisa di cut-down? Makan di luar bersama keluarga, kalau misalkan seminggu sekali, bisa dijadikan sebulan sekali. Langganan TV berbayar atau paket internet, atau langganan koran atau majalah? Penghematan biaya listrik juga bisa dilakukan dengan menghemat penggunaan peralatan rumah tangga.

Apakah itu semua sudah dianalisis?

Kemudian saya ingin tanya, di keluarga besar yang dibantu, siapa sajakah ada di dalamnya? Apakah ada yang sudah bekerja dan punya penghasilan?

Kalau untuk bantu orang tua sepenuhnya saya setuju 100%. Namun, apabila ada anggota keluarga besar yang sudah bekerja, alangkah baiknya mengajak beliau-beliau duduk bareng dan mendiskusikan keadaan keluarga Mama. Bukan untuk menghapus kebiasaan baik suami membantu keluarga, tapi paling tidak, membagi beban ke anggota keluarga dengan tujuan jumlah kontribusi suami Mama bisa sedikit berkurang.

Kalau untuk tabungan yang dikurangi, saya setuju Uni. Tapi, naikkan porsi investasinya. Hehehe. Maksud saya, analisis lagi bagaimana dana Mama dan suami disimpan. Apakah selama ini di instrumen tabungan atau deposito yang kinerjanya bahkan tidak bisa mengalahkan inflasi?

Dengan menyimpan di sana, dana tidak akan berkembang. Coba pelajari investasi di instrumen lainnya. Semoga dengan begini, meskipun dana yang diinvestasikan porsinya sama dengan yang ditabung, hasilnya bisa jauh lebih berkembang.


9. Lusi Tris: Apa yang harus diperhatikan dalam kerja sama usaha dengan teman atau saudara (bukan investor)?


The arrangement details, Mama. Because the devil is always in the detail.

Kerja sama usaha dengan teman menurut saya jauh lebih tricky ketimbang dengan investor. Ada porsi menjaga perasaan dan nggak enak hati. To get over it, maka kontrak/MOU/agreement kerja samanya harus benar-benar dibuat secara detail. Tentang tugas dan tanggung jawab, pembagian uang, manajemen dan semua, sampai sedetail mungkin.

Ke depan, kalau misalkan ada potensi dispute di bisnisnya, tinggal tarik saja agreement-nya. Dan seharusnya kalau semua pihak sudah setuju di awal, there should be no hard feeling tentang apa yang harus dilakukan. Then friendship still remains.

Ada quote dari Suze Orman yang saya suka banget, People First, Then Money, Then Things. Karena itu utamakan menyelamatkan relationship antar orangnya dulu dengan membuat sejelas mungkin arrangement bisnisnya.


10. Tyaz Prasetyaz: Saat ini sekitar 30% penghasilan keluarga digunakan untuk pembayaran utang kredit, dan 30% untuk tabungan/investasi. Sisanya megap-megap. Hahaha. Saya ingin banget cepat-cepat melunasi utang kredit ini. Padahal masih ada 10 tahunan lagi. Menurut Mas Dani, lebih baik lunasi dulu kredit dan mengurangi investasi, atau seperti ini sudah baik (30:30)?


Mama, kalau untuk kredit yang selama itu saya asumsikan mortgage/KPR ya? *sotoy*

Pembagian yang Mama lakukan sebenarnya sudah bagus banget. Cuma masih kepikiran karena ada utang ya, Ma?

Untuk mengurang megap-megapnya, bisa kok investasinya diturunkan sedikit ke 15%-20%, dan coba cari instrumen investasi yang lebih agresif sesuai profil risikonya, Ma.

Nah, kalau soal kreditnya, saya nggak tahu detailnya nih yang Mama punya. Cuma, kalau KPR biasanya pihak bank akan mengenakan certain amount of penalty kalau pelunasannya dipercepat, karena pihak bank harus menutupi break funding cost yang telah diperhitungkan ketika mempersiapkan funding kreditnya selama sampai dengan lunas.

Karena itu, kalau memungkinkan, coba negosiasikan dengan pihak bank, apakah bisa dilunasi dipercepat tanpa dikenakan penalty.

Kalau ternyata tidak bisa, Mama bisa coba datang ke bank lain. Saya sarankan bank syariah yang mana KPR mereka mungkin akan sedikit lebih mahal dibandingkan KPR konvensional. Ini dikarenakan mereka tidak mengenal suku bunga yang fluktuatif, melainkan mengambil margin keuntungan dari harga rumah dan membagi rata selama jangka waktu kredit.

Tapi di KPR syariah, ketika akan pelunasan dipercepat, kita tidak dikenakan denda. Paling tidak, ini terjadi di bank syariah yang saya tahu (Bank Syariah Mandiri).

Tapi anyway, sekarang suku bunga perbankan sedang dikerek turun oleh pemerintah. Jadi mungkin inilah saat yang tepat buat shopping around, dan tanya-tanya tentang take over kreditnya. Sekalian, coba negosiasikan kalau pelunasan dipercepat bisakah dihapuskan dendanya.

Semoga sukses ya Mama!


BACA JUGA


Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

"Don't give up on your dreams of Financial Freedom. First, change your attitude, next take action." ~ Kim Kyosaki

Read more..


Nah, demikian, Mama, sesi #TanyaKeuangan kita yang membahas seputar investasi, keuangan keluarga, bahkan bisnis perdana dengan Mas Dani Rachmat. Seru kan?

Sampai ketemu lagi di sesi #TanyaKeuangan yang berikutnya ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Antara Keuangan Keluarga, Investasi, dan Bisnis Diomongin Seru!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar