#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Ngobrolin Keuangan Keluarga, Peluang Usaha, dan Modal Itu Rocking!

#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Ngobrolin Keuangan Keluarga, Peluang Usaha, dan Modal Itu Rocking!

4.4K
Ngobrolin peluang usaha, modal, dan keuangan keluarga bareng Dani Rachmat. Seru dan banyak pengetahuan baru!

Hai, Mama! Beberapa waktu yang lalu, Rocking Mama Community kembali berkesempatan untuk sesi #TanyaKeuangan bersama Mas Dani Rachmat, seorang praktisi keuangan sekaligus seorang personal finance blogger.

Diskusinya seru lho.

Mau tahu hasil diskusi kita, Ma?

Yuk, kita simak langsung jawaban dari Mas Dani Rachmat atas beberapa pertanyaan seputar keuangan untuk sesi #TanyaKeuangan yang kedua berikut ini.


Sebelum menjawab pertanyaannya, Mas Dani Rachmat ingin menyampaikan dulu, Ma, mengenai latar belakang karier beliau di industri perbankan.

Dari sejak lulus kuliah di 2005, Mas Dani memang selalu bekerja di industri perbankan. Selama 2 tahun (2007-2009) berkecimpung di perbankan retail kemudian beralih ke kredit yang berfokus di corporate banking.

Baru setahun terakhir ini fokus karier Mas Dani berada di dunia kredit Small – Medium Enterprise meskipun sebenarnya mereka adalah large corporation dari Jepang.

Kenapa hal tersebut perlu disampaikan terlebih dahulu di awal?

Karena ternyata pertanyaan yang mampir dari para mama di Rocking Mama Community fokusnya ke dunia usaha. Mas Dani sendiri belum memiliki usaha resmi yang berjalan, akan tetapi pengalaman selama 10 tahun memberikannya kesempatan untuk melihat dunia usaha dari sisi pemberi pinjaman. Sehingga kurang lebih Mas Dani pun sedikit memahami mengenai bagaimana usaha yang bagus dan ideal dari sisi perbankan.

Mas Dani berpesan, apabila pandangan beliau kurang, mungkin para mama lain di Rocking Mama Community yang sudah memiliki pengalaman usaha langsung bisa menambahkan jawabannya.

Nah, sekarang mari kita lihat pertanyaannya satu per satu.


BACA JUGA


#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Antara Keuangan Keluarga, Investasi, dan Bisnis Diomongin Seru!

#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Antara Keuangan Keluarga, Investasi, dan Bisnis Diomongin Seru!

Kalau sekarang Mama sudah ada patokan pengeluaran harian dan kemudian timbul pengeluaran yang nggak sinkron, apakah itu karena memang ...

Read more..


1. Helena Safitri: Berapa dana darurat buat freelancer dengan 1 anak? Baiknya disimpan dalam bentuk apa?

Sebaiknya ditentukan dulu dari mana pengukuran dana daruratnya? Untuk konservatifnya bisa diukur dari total penghasilan bulanan keluarga. Karena logikanya pengeluaran seharusnya lebih kecil dari penghasilan. Akan tetapi bisa jadi berat sekali kalau ukurannya dari penghasilan.

Alternatifnya dana darurat bisa diukur dari pengeluaran bulanan keluarga.

Standarnya sih kalo single 3 bulan, menikah 6 bulan, punya anak 1 12 bulan.

Tapi saya sendiri berpendapat, membangun dana darurat ini jangan jadi beban. Kalau bisa targetkan dulu dari jumlah yang kecil, bertambah sedikit demi sedikit sampai memenuhi standar.

Nah, kalau misalkan dirasa berat untuk freelancer harus mengumpulkan sekian kali gaji, sisihkan 10% dari setiap penghasilan untuk membangun dana darurat. Besarnya? Ikuti jumlah pengali di atas. Tapi paling tidak targetkan untuk bisa mengumpulkan dana darurat dengan jumlah yang bisa meng-cover masa-masa tidak bisa mendapatkan pekerjaan dari freelancing ini.

Disimpan dalam bentuk apa? Untuk dana darurat sebisa mungkin jangan disimpan di instrumen yang fluktuatif seperti saham atau emas. Dan usahakan disimpan di instrumen yang bisa diambil/dicairkan sewaktu-waktu. Jadi deposito bukan pilihan terbaik untuk dana darurat.

Kalau saya pribadi, saya lebih senang menyimpan dana darurat di instrumen reksadana pasar uang yang nilainya lebih stabil dan pencairan butuh hanya sekitar 2-3 hari kerja. Saya juga ada alokasi dana darurat di instrumen saham perusahaan bluechip.


2. Carolina Ratri: Saya pengin punya kafe, say in 5-8 tahun lagi. Sedangkan anak-anak sekolah (yang kebutuhannya sudah pasti meningkat). Suami karyawan swasta. Saya sendiri bekerja freelance dengan penghasilan yang nggak pasti. Bagaimana cara baginya, buat keperluan sehari-hari, dana pendidikan, dan nabung modalnya? Saya masih ada cicilan rumah, cicilan motor, dan harus menyisihkan dana darurat. Misalnya, penghasilan kami 8 juta per bulan rata-rata (nominal hanya ilustrasi). Kalau umpama investasi, investasi apa yang cocok?”

Saya list dulu, kira-kira begini ya.


Dari penghasilan setiap bulan, idealnya pembagiannya seperti ini:

  • Pembayaran utang: setelah zakat/persepuluhan, pembayaran utang harus jadi target utama. Besarnya berapa? 40% dari total penghasilan adalah maksimum jumlah pembayaran utang. Di sini saya asumsikan, kalau Mama dan suami tidak ada utang kartu kredit atau utang konsumtif lainnya ya. Jadi hanya cicilan rumah dan motor. So, dari penghasilan Rp. 8 juta per bulan itu, untuk bayar utang maksimum Rp. 3,2 juta total semua.
  • Bayar sekolah: Untuk pembayaran sekolah ini pasti sifatnya rutin bulanan dan tahunan dan besarnya seharusnya tidak sebesar angsuran bulanan utang.

Kedua pengeluaran di atas, dikarenakan rutin setiap bulan, sebisa mungkin dibayarkan oleh penghasilan yang juga rutin, dalam hal ini dari gaji suami. Termasuk yang sebaiknya dibayar dari penghasilan rutin suami adalah pengeluaran rutin bulanan rumah tangga.

Apabila dari penghasilan rutin tersebut masih ada sisa setelah membayar utang, sekolah dan pengeluaran rumah tangga, maka dana penghasilan freelance, dimasukkan ke dalam dana darurat dan juga untuk persiapan buka kafe.

Besarnya berapa?

Dana darurat sendiri kalau memungkinkan siapkan 12x dari pengeluaran bulanan, kalau tidak bisa langsung sebesar itu, mulai dengan target 3 bulan atau 6 bulan. Bukan nominal besar yang harus disisihkan tiap bulan, yang penting dana daruratnya terbangun dulu.

Sedangkan untuk persiapan kafe, investasi kalau bisa minimal 10% dari penghasilan bulanan.

Kalau misalkan memang belum memungkinkan memisahkan antara dana darurat dan investasi kafe, bisa dipertimbangkan untuk dijadikan satu dulu.

Instrumennya di mana? Kalau untuk dana daruratnya, saya pribadi lebih suka investasi di reksadana pasar uang. Sedangkan untuk investasi kafe, karena waktu yang dimiliki masih cukup jauh, bisa coba pertimbangkan investasi di reksadana saham atau beli saham perusahaan-perusahaan blue chip yang memang Mama tahu dan mungkin pakai produknya.

Sebagai contoh, investasi di saham Bank BRI, Telkom, Unilever maupun Astra mungkin bisa dipertimbangkan untuk jangka waktu 8 tahun tersebut. Tapi lagi-lagi perlu review berkala ya, untuk menganalisis pencapaian target dibanding performancenya.


3. Nadia Khaerunnisa: bagaimana caranya supaya keuangan usaha nggak tercampur dengan keuangan pribadi? Ada tipsnyakah? Dan misalnya, mau bikin usaha kecil-kecilan, modalnya dari tabungan, maka sebaiknya persentasenya seberapa ya? Apakah nanti akan berbeda dengan investasi lainnya, ataukah sama aja?

Jawabannya sederhana saja, Ma, yaitu buat laporan keuangan yang rapi. Hehehe. Laporan keuangannya sederhana saja, nggak perlu yang ribet. Jadi meskipun di satu rekening, bisa terlihat uang usaha yang mana dan uang pribadi yang mana.

Bagaimana sih bentuknya? Kurang lebih seperti ini:




Untuk usaha, neraca dan laporan rugi laba perlu banget dibuat. Neraca menunjukkan posisi harta, utang dan modal di satu posisi laporan keuangan tertentu (biasanya per 3 bulanan di Maret, Juni, September dan Desember), sedangkan Laporan Laba/Rugi menunjukkan hasil usaha secara akumulatif sampai dengan periode tertentu.

Bisakah bentuk laporan ini dipakai untuk mencatan keuangan pribadi? Bisa banget!

Kalau kita disiplin mencatan pengeluaran pemasukan usaha dan pribadi secara terpisah, pasti bakalan aman.

Untuk mencatat pengeluaran harian, baik itu transaksi usaha atau pribadi, bisa pakai aplikasi-aplikasi pencatatan keuangan semacam Money Lover, atau juga aplikasi dari bank yang kita pakai seperti Cashflow, Jenius, Mandiri Online, Sakuku, dan sebagainya.

Setelah itu usahakan disiplin untuk merekap pencatatan keuangan dengan memisahkan transaksi harian dari usaha maupun dari pribadi.

Mengenai alokasi dari tabungan untuk usaha, menurut saya pribadi, usaha itu termasuk investasi. Kalau memang ada yang mau disisihkan, bisa termasuk ke dalam minimal 10% investasi bulanan. Apabila dari penghasilan masih ada dana, bisa dicoba untuk memperbesar porsi 10% investasi tersebut.


4. Riski Fitriasari: Saya bingung nih dengan pengaturan keuangan sendiri. Sudah saya atur sedemikian rupa, tapi berasanya seperti nggak punya tabungan, padahal ada dan dipaksa nabung di awal. Sebaiknya gimana ya? Sebaiknya saya punya berapa tabungan ya? Saat ini saya punya 3 tabungan: biasa, berjangka dan tabungan emas. Dan ada 1 lagi, tabungan Lebaran.

Berasa nggak punya tabungan ini maksudnya bagaimana ya? Apakah setelah sekian lama menabung tapi jumlahnya tidak berkembang, atau tabungannya selalu habis diambil pas ada keperluan mendadak?

Tapi kalau dilihat-lihat, alokasi dana Mama sudah bagus kok. Pasti kalau dilihat buku-buku tabungan dan juga emasnya kelihatan juga ada dananya.

Rule of thumbnya sih sisihkan minimal 10% dari penghasilan bulanan untuk investasi. Saya lihat Mama sudah ada tabungan emas. So, itu sudah cukup bagus.

Tapi apakah semua investasi dialokasikan di emas atau bagaimana? Ini yang perlu dilihat lagi.

Apakah tabungan biasa dan tabungan berjangka bukan investasi? Menurut saya bukan. Bahkan deposito perbankan umum juga tidak bisa disebut investasi kalau suku bunganya masih di bawah inflasi. Kalau deposito saja tidak bisa disebut investasi, saya melihat tabungan berjangka juga tidak bisa disebut investasi. Kenapa? Karena suku bunga pasti di bawah deposito dan belum tentu bisa mengalahkan inflasi.

Untuk itu, coba Mama pelajari lagi mengenai reksadana ataupun investasi dengan membeli saham atau juga pilihan investasi lainnya yang ada di pasar.


BACA JUGA


Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

"Don't give up on your dreams of Financial Freedom. First, change your attitude, next take action." ~ Kim Kyosaki

Read more..


5. Indriyas Wahyuni: Pertanyaan pertama, kenapa ya saya sebagai istri bisa boros banget sementara suami malah bisa rapi banget dalam mengatur keuangan? Apakah ini masalah psikologi, kebiasaan, atau karena didikan orang tua dulu? Pertanyaan kedua, saya dan suami ada rekening Reksadana Syariah yang jumlahnya sudah lumayan. Tapi setelah tahu tentang saham, kok jadi ingin ditarik terus masukin ke saham. Sahamnya tentu saja yang sama-sama syariah. Bagaimana menurut Mas Dani?


Untuk pertanyaan pertama, terus terang saya tidak bisa jawab dengan jawaban yang paten. Hahaha.

Persepsi setiap orang beda-beda apabila membicarakan mengenai keuangan. Pandangan umum yang berlaku memang seolah-olah wanita lebih boros karena suka belanja ini-itu yang mungkin harganya tidak terlalu mahal tapi sering. Ini yang menyebabkannya terlihat boros.

Tapi jangan salah, pria itu memang jarang belanja, tapi sekalinya belanja biasanya harganya mahal. Hobi pria mana yang murah coba? *semacam pengakuan*

Tapi yang terpenting adalah membuat panduan mental mengenai keinginan dan kebutuhan. Setiap kali kita mau belanja, coba tahan dulu Tanyakan ke diri sendiri apakah memang ingin atau butuh.

Kalau saya sendiri suka bertanya ke diri sendiri apakah pembelian itu keinginan atau kebutuhan. Kemudian saya batalkan beli saat itu juga. Saya pulang ke rumah dan tahan beberapa hari untuk tidak kembali ke toko. Kalau memang bisa tahan hidup tanpa barang itu, berarti cuma ingin. Dan rata-rata keinginan cuma bertahan paling lama seminggu untuk kemudian hilang.

Untuk pertanyaan kedua, ah, saya bahagia kalau ada yang mau coba investasi di saham. Hehehe. It would be a great thing to do!

Silakan coba investasi di saham. Saran saya sih jangan semua langsung dijual reksadananya untuk dibelikan saham. Cobain secara bertahap dulu. Beli beberapa lot saham yang diincar dan amati selama beberapa waktu. Analisis perasaan diri sendiri bagaimana rasanya kalau harga sahamnya jatuh dan bagaimana kalau naik.

Kalau reksadana, kinerjanya dikelola oleh manajer investasi yang memang profesional di bidang itu. Nah, kalau beli saham langsung, kita sendiri yang harus memutuskan mau bagaimana untuk portfolio kita.

Jangan sampai nantinya jadi kapok dan trauma kalau harga saham turun. Pastikan dana yang diinvestasikan bukan dana darurat atau yang diperlukan dalam waktu dekat ya.

Rule of thumbnya untuk investasi di saham adalah beli murah dan jual di harga mahal. Kalau saya sendiri, kalau membeli, saya beli saham yang memang ditargetkan, ketika harganya turun, saya justru akan beli lagi. Kalau harga naik? Selama memang belum dibutuhkan dananya, ya saya simpan saja.

Semoga sukses ya, Mama, investasi sahamnya!


6. Kinkin Suartini: Saat ini saya sedang bingung menentukan jenis usaha; antara buka lembaga kursus, bisnis busana muslimah, dan laundry. Let's say, kalau dana yang tersedia sekitar 50 jutaan, sebetulnya akan lebih tepat digunakan untuk bisnis yang mana ya? Kalo bisa mungkin sekalian minta dijelaskan bagaimana perhitungan dana modal awal usaha?

Terus terang saya bingung ini dengan pertanyaannya. Saya tanya balik boleh ya? Mama paling suka untuk menjalankan bisnis yang mana?

I will lay it out for you persiapan-persiapan yang dibutuhkan ya. Nanti Mama bisa putuskan berdasarkan list yang diperlukan.

.


Risiko dari usaha bimbingan belajar adalah tingkat persaingan yang ketat dengan lembaga-lembaga bimbingan belajar yang sudah ada sebelumnya. Di sini diperlukan kerja keras untuk mengenalkan lembaga bimbingan belajar yang dibuat dan menancapkan brand image kepada calon pelanggan potensial bimbingan belajar tersebut.




Persaingan bisnis busana muslimah akan berbeda apabila dilakukan secara online atau offline. Apabila bisa melakukan keduanya tentu akan mendapatkan jangkauan yang lebih luas.



Tantangan utama bisnis laundry adalah investasi yang cukup besar di mesin-mesin dan melatih operator untuk menggunakan mesin tersebut. Selain itu, menemukan penyalur detergen dan pewangi untuk bekerja sama dalam jangka panjang cukup memberikan tantangan.

Saya pernah menjadi agen distributor pewangi, dan beberapa usaha laundry yang saya supply mengakui kalau kontinuitas supply ini kritikal sekali buat bisnisnya.

Selain itu, sistem inventarisasi baju pelanggan bisa jadi tantangan yang cukup berat, karena sebagai pelanggan, saya sendiri mengalami beberapa baju saya hilang ketika saya masukkan ke usaha laundry yang baru beroperasi.

Tapi saya yakin, saat ini sudah banyak sistem inventaris pelanggan yang bisa Mama pelajari dan terapkan.

Tabel-tabel di atas adalah perkiraan kasar perhitungan modalnya. Saya sendiri tidak bisa memberikan angka. Besaran biaya sewa dan biaya lainnya sangat tergantung lokasi dan bagaimana usaha yang ada di bayangan Mama.

Semoga bisa lancar persiapannya ya.


7. Liz Prayitno: Bagaimana caranya menjalin komunikasi yang baik dengan manajer investasi, biar bisa simbiosis mutualisme? Kok rasanya cuma friendly di awal, setelah itu luntur. Pernah ikut investasi di Bank P yang kerja sama dengan A untuk investasi, saya join investasi. Namun, belakangan Bank P putus kerja samanya dengan A, dan berpindah ke M lalu pindah lagi ke L. Rasanya semakin jauh dengan manajer investasi yang di A. Bagaimana menyiasatinya?


Ouch. Saya bisa membayangkan kondisinya, Ma.

Kalau saran dari saya, Mama kembali saja kepada kontrak awal antara Mama dengan manajer investasi tersebut. Setiap perusahaan mestinya ada customer service yang berlaku general sebelum masing-masing nasabah di-assign dengan satu PIC. Hubungi CS tersebut dan minta kepastian bagaimana account Mama. Karena bagaimanapun Mbak Liz membayar jasa mereka.

Susahnya beli produk dari suatu manajer investasi lewat bank adalah kadang kita tidak tahu CS yang harus dihubungi dari perusahaan manajer investasi tersebut. Tapi, kontak CS tersebut mestinya ada di setiap website dan informasi mengenai manajer investasi tersebut harus tercantum.

Kalau tidak? Coba buka website OJK yang berisi daftar lengkap Manajer Investasi di Indonesia ini:

Kalau Mama sudah sampai tahap tidak nyaman, coba cari manajer investasi lain yang memiliki komunikasi yang bagus. Tapi, kalau memang sudah nyaman, tutup saja rekening di manajer investasi pertama, dan pindahkan ke manajer investasi yang sudah dapat kenyamanan tadi.

Satu lagi, jangan bosan-bosan untuk belajar sendiri mengenai produk-produk investasi dan keuangan, sehingga keputusan investasi dan bagaimana alokasi dana ada di tangan Mama sendiri.


8. Ratu Sya: Kartu kredit itu perlu nggal sih? Efektif untuk keperluan apa? Kira-kira kalau buka kartu kredit untuk renovasi gimana ya?

Kartu kredit itu perlu nggak perlu sih sebenarnya. Hehehe. Banyak juga manfaat yang bisa diambil dari kartu kredit. Salah satunya apabila masuk ke rumah sakit dan atau perjalanan ke luar negeri untuk menginap di hotel. Biasanya kartu kredit bisa dipakai sebagai jaminan awal.

Untuk kredit renovasi rumah apakah bijak menggunakan kartu kredit? Tidak. Karena bunga yang akan dikenakan akan sangat mahal dan perhitungannya akan masuk ke pokok yang dpinjam. Jadi lebih baik jangan pakai kartu kredit untuk kebutuhan-kebutuhan yang bisa dicarikan jalan lainnya.

Kalau mau butuh renovasi rumah, bisa ambil pinjaman multi guna dengan rumah sebagai jaminannya karena bunganya akan jauh lebih murah dibandingkan menggunakan kartu kredit.

Semoga menjawab.


BACA JUGA


Ini Dia 5 Tipe Pria Berdasarkan Kebiasaannya Mengelola Keuangan. Papa Tipe yang Mana Ya?

Ini Dia 5 Tipe Pria Berdasarkan Kebiasaannya Mengelola Keuangan. Papa Tipe yang Mana Ya?

A successful man is one who makes more money than his wife can spend. A successful woman is one who can find such a man. ~ Lana Turner

Read more..


Nah, Mama, demikian sesi #TanyaKeuangan seputar keuangan pribadi, investasi dan usaha kali ini bareng Mas Dani Rachmat. Fyuh! Seru banget kan? Dan, pastinya banyak ilmu dan pengetahuan baru yang kita dapatkan dari diskusi kita di atas.

Sampai ketemu lagi di sesi #TanyaKeuangan berikutnya ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "#TanyaKeuangan Bersama Dani Rachmat - Ngobrolin Keuangan Keluarga, Peluang Usaha, dan Modal Itu Rocking!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar