Tinder - Aplikasi Dating Online, yang Harus Mama Ketahui Fakta-Fakta di Baliknya dan Waspadai

shutterstock

Tinder - Aplikasi Dating Online, yang Harus Mama Ketahui Fakta-Fakta di Baliknya dan Waspadai

3K
Tinder sebenarnya bukanlah aplikasi baru, karena sudah dirilis pada tahun 2012. Namun, akhir-akhir ini Tinder makin banyak dikenal oleh mobile-netizen, terutama anak-anak remaja. Apa yang harus diwaspadai oleh orangtua mengenai Tinder?

Masih hangat pembicaraan di media sosial tentang pernikahan kilat Rey Utami dan Pablo Putera Benua, Ma?

Ya, mereka berdua ketemu di TINDER dan melangsungkan pernikahan di hari ketujuh pertemuan mereka. Super sekali!! Kita saja butuh bertahun-tahun untuk memutuskan menikahi Papa ya? Ini mereka hanya butuh tujuh hari saja! Ckckck.

Fenomena ini adalah bias negatif dari perkembangan teknologi. Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi ternyata menjadi bumerang untuk kita. Pikiran buruk kemudian menghantui, seperti misalnya bayangan anak kesayangan kita kemudian melakukan dating online, bertemu dengan orang asing yang belum lama dikenal yang kita nggak pernah tahu apakah dia berniat jahat, hingga melakukan sexting!

It’s very creepy, Ma! Hal yang nggak pernah dibayangkan terjadi di depan mata!

Kembali lagi soal Tinder.

Banyak mama yang menjadi khawatir dan juga penasaran dengan aplikasi ini. Sebuah aplikasi yang mengguncang dunia Mama dalam sekejap.

Saya sendiri sudah lama mendengar aplikasi ini, tapi saya tak ambil pusing. Tapi, yang terjadi akhir-akhir ini cukup membuka mata bahwa saya tidak boleh masa bodoh! Saya juga harus tahu apa itu Tinder dan apa saja fakta di balik aplikasi ini, dan bagaimana efeknya ke anak-anak.


Fakta-fakta yang perlu Mama ketahui mengenai Tinder


Apa itu Tinder?



Tinder adalah aplikasi kencan online yang bisa diunduh di smartphone (android dan iOS).

Aplikasi ini dirilis di tahun 2012. Seperti aplikasi kencan online yang lain, untuk menggunakan Tinder, pengguna harus mengaktifkan GPS dan di aplikasi ini pengguna bisa melakukan chatting dengan sesama user.

Kelebihan Tinder dibanding aplikasi sejenis, user bisa menemukan pasangan yang cocok lewat foto dan mendeteksi pengguna yang berada di daerah yang sama. Nggak hanya itu, pengguna juga bisa memberikan rating pada sebuah foto dengan cara menggeser ke kanan di foto profil sebagai tanda menyukai dan menggeser ke kiri jika tidak menyukai.

Wow. Iya, kita harus 'mengklasifikasi' orang melalui apa yang terlihat di foto aka penampilannya, Ma.

Nah, jika ada dua pengguna sama-sama swipe right mengindikasikan bahwa adanya ketertarikan. Lalu, Tinder akan memberikan sebuah ‘perkenalan’ singkat tentang identitas masing-masing. Dari sini, kedua pengguna bisa langsung chatting, dan merencanakan untuk ketemu.

Karena kemudahan itulah membuat anak-anak menjadi penasaran dan ingin mencoba. Bagi mereka, aplikasi ini bisa membuat mereka menjaring banyak teman dan bisa mendapatkan pacar.

Dari data yang diklaim oleh manajemen Tinder, aplikasi ini telah diunduh oleh 50 juta orang di seluruh dunia tiap bulan. 1,6 miliar kali ‘swipes’ dan 26 juta kecocokan yang sudah dihasilkan oleh aplikasi ini.

Sungguh angka yang fantastis untuk ukuran sebuah aplikasi kencan online!


Siapa saja pengguna Tinder?


Tanpa menggunakan Tinder pun kita sudah terkoneksi dengan ‘orang asing’ setiap harinya lewat media sosial. Tapi, Mama penasaran nggak siapa saja sih yang menggunakan aplikasi ini?



Dari data tersebut, saya sedikit kaget karena 7% aplikasi ini digunakan oleh anak usia 13-17 tahun, yang berarti 3,5 juta pengguna berada di range usia tersebut.

13 tahun, Ma! Oh my!

Umur segitu dan sudah kena racun aplikasi kencan online? Hvft *speechless*

Apa coba yang mereka cari? Apa sekadar ikut-ikutan? Karena aplikasi ini lagi hits dan nggak gaul jika nggak coba? I don’t have any idea, Ma.

Sekarang ini untuk menggunakan aplikasi Tinder, yang diperlukan hanyalah akun Facebook. Iyes, semudah itu, Ma! Dan anak zaman sekarang ini kan sudah punya Facebook, bukan? Bahkan dari bayi pun sudah dibikinkan akun oleh orangtua, meski sudah ada peraturan juga bahwa pengguna Facebook minimal harus berusia 13 tahun!


Dirilis dari The Huffington Post, juru bicara Tinder, Rosette Pambakian mengatakan, “Untuk melindungi pengguna usia muda yang berada di range usia 13 – 17 tahun, mereka hanya bisa terhubung dengan pengguna yang seumuran di Tinder. Satu-satunya cara dua orang pengguna bisa kirim pesan satu sama lain apabila mereka memiliki ketertarikan dengan saling like akun mereka masing-masing, yang hasilnya bisa nampak di layar. Itu berarti, seorang pengguna tidak bisa kirim pesan ke pengguna lain apabila tidak ada kesamaan dalam ketertarikan.”


Apa pun itu, tetap aplikasi ini sangat mengkhawatirkan. Karena kita tidak bisa menebak dengan siapa anak kita akan berkomunikasi. Kita sudah mengenal betul, orang-orang di dunia maya tidak selamanya memberikan data yang nyata. Bisa saja fotonya itu ambil punya orang. Siapa yang tahu kan?

Aplikasi ini terhubung dengan dua media sosial raksasa, Facebook dan Instagram di mana rata-rata penggunanya sering memalsukan umur mereka agar bisa menggunakan aplikasi dan menghindari peraturan tentang umur pengguna. Diperkirakan sekitar 44% remaja memalsukan umur hanya untuk menggunakan aplikasi ini.

Terlepas dari taktik anak-anak dalam memalsukan umur, kita harus waspada karena bisa saja seorang pedofilia yang menyamarkan umur, data diri hanya untuk mendapatkan ‘mangsa’. Atau bisa saja sindikat penjualan anak memanfaatkan aplikasi ini untuk tujuan mereka. Who knows? Ini bukanlah bualan film, Ma. Karena sudah beberapa kejadian di dunia nyata akan hal ini.


Cara remaja menggunakan Tinder


Image via Andro Pop

Menurut saya, orangtua memiliki alasan khusus untuk lebih peduli dengan aplikasi Tinder ini.

Tinder memang aplikasi kencan online, sehingga reputasi aplikasi ini memang dikenal sebagai tempat "pertemuan" dan bahkan melakukan sex secara online.

No, Mama, itu juga bukan bualan semata. Karena setelah pengguna saling tertarik, maka terbuka kesempatan bagi mereka untuk chatting secara private.

Sebuah survey yang dilakukan sebuah website remaja di Amerika tentang Tinder menunjukkan adanya sebuah tekanan untuk melakukan sex secara online ini, Ma.

Berikut ini beberapa testimoni dari beberapa remaja Amerika mengenai Tinder yang berhasil didapatkan dalam survey.


“Every person I know who has Tinder has been asked for sex.” – 16 year old.

“Teens (use it) to find other teens who are interested in getting physical without on emotional connection.” – Anonymous teen.

“All the girls I know have spoken to mainly older guys, around one or two years older. And the guys speak to anyone they can. It starts off with general chit-chat usually and then it slips into talking purely about sex and physical stuff and then often they eventually arrange to meet up.” – 16 year old.

“Of course there’s the risk of meeting creeps on dating sites, but there’s that risk when you meet people offline too.” – 18 year old.


Meski mungkin nggak semuanya juga sih yang begini, tapi ... Okay, ini benar-benar creepy, Ma! At least bagi kita, orangtua!

Ternyata sebagian besar remaja menggunakan Tinder untuk melakukan sex! Pertama, dimulai dengan chating biasa, lalu menjurus ke sex online seperti mengirimkan pesan-pesan vulgar atau biasa yang disebut sexting, dan berujung pada pertemuan untuk melakukan hal ini secara real.

Hmmm...

Meski survey tersebut dilakukan pada remaja-remaja di Amerika, tapi tak bisa dipungkiri, bahwa fakta tersebut "menganggu" kita juga di Indonesia ya? Belum ada data pasti mengenai perilaku para remaja dan pengguna Tinder ini di Indonesia ini memang. Tapi, bukan berarti kita tak bisa waspada sejak sekarang.


Efek negatif lain dari Tinder

Seperti aplikasi media sosial pada umumnya, Tinder pun tak lepas dengan resiko cyberbullying, Ma.

Pelaku cyber bully biasanya menciptakan akun palsu, melakukan skrinsut dan mempermalukan korban dengan aplikasi kencan online ini, entah itu orang asing yang mereka temui secara online atau seseorang yang mereka kenal dan secara khusus melakukan hal seperti menggertak atau mengancam.

Dan, mind you, sasaran utama dari cyberbullying ini adalah perempuan.


sumber : twitter

Sisi lain, Tinder bisa menyebabkan pelecehan seksual pada perempuan dan menciptakan masalah harga diri yang rentan terjadi di kalangan remaja perempuan. Aplikasi ini juga menjadi masalah bagi sebagian remaja yang menganggap bahwa hubungan yang tercipta ditetapkan sebagai ranking sosial di kalangan remaja, popularitas, bernilai dan menunjukkan siapa diri mereka.

Istilah singkatnya, jika ada remaja yang bisa mendapatkan pacar lewat Tinder maka dia termasuk remaja yang popular.

Padahal sejatinya Tinder ini bisa membawa mereka memasuki dunia sex online di mana mereka belum cukup dewasa untuk mengatasinya.


7 hal yang perlu Mama ketahui lebih jelas tentang Tinder


Image via Teknokuid
  • Salah satu pendorong utama di balik aplikasi kencan online ini adalah untuk menemukan orang yang bisa diajak untuk ketemu secara real sesering mungkin.
  • Sebelumnya, Tinder selalu meminta user data dan lokasi jika ingin menggunakannya. Masalah keamanan ini telah diperbaiki tapi ancaman itu masih ada.
  • Aplikasi ini menggunakan location tracking untuk membantu pengguna lainnya mendeteksi seberapa jauh jarak mereka dengan anak Mama. (Oh ya, saya langsung membayangkan ada stalker di sekitar rumah.)
  • Aplikasi ini mengharuskan pengguna untuk mengaktifkan pelacakan lokasi pada ponsel mereka. Hal ini memungkinkan pengguna lain untuk menandai area umum di mana anak kita sering kunjungi atau tengah berada. (Oh okay, berarti stalker-nya nggak cuma di rumah. Hiy!)
  • Tidak semua pengguna aplikasi ini menggunakan umur asli mereka, dan ini bisa membawa anak-anak untuk ‘bertemu’ dengan para pedofil dan predator anak.
  • Mama perlu memeriksa moralitas dari aplikasi ini, dan melihat apakah aplikasi ini mendukung rating untuk anak berdasarkan tampilan luarnya.


Yang harus Mama lakukan



Orangtua perlu untuk melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman akan bahanya media sosial pada anak-anak. Hal ini bisa membuat anak-anak kita menjadi lebih waspada dan bisa melindungi diri mereka dari gangguan pedofil, predator anak, cyberbullies dan sexting.

Sebelum Mama mengizinkan anak-anak mengunduh aplikasi Tinder, ada baiknya Mama menjawab 4 pertanyaan ini terlebih dahulu:

  1. Apakah anak Mama siap untuk "kencan", meski disamarkan menjadi "kopi darat"?
  2. Apakah Mama mau anak-anak bertemu orang asing di luar rumah?
  3. Apakah anak-anak Mama tahu bahwa melindungi reputasi online mereka itu penting, dan apakah mereka tahu bagaimana harus melakukannya?
  4. Sudahkah Mama memberikan edukasi akan bahaya sexting?

Jika jawaban Mama TIDAK, maka anak-anak sebaiknya tidak ada di Tinder!

Sekali lagi, kita memang nggak bisa meredam laju perkembangan teknologi ini, Ma. Sehingga ada baiknya kita fokuskan saja anak-anak untuk menggunakan aplikasi yang bisa mengembangkan bakat mereka. Itu lebih berarti bagi mereka untuk sekarang dan masa depan, ketimbang aplikasi-aplikasi yang kurang jelas manfaatnya seperti ini.

Betul, dengan Tinder mereka menambah kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan mereka dan berkenalan dengan banyak orang baru. Tapi, we never know siapa orang asing ini sebenarnya kan? Ada banyak cara lain untuk menambah wawasan dan teman yang lebih safe ketimbang dengan aplikasi online seperti ini.

Aplikasi Tinder ini efek negatifnya lebih besar daripada positif bagi anak-anak kita. Sudah menjadi tugas kita untuk mengawasi lingkungan pergaulan mereka. Dan kita wajib untuk memberikan edukasi tentang media sosial dan juga, seks secara lebih dini. Sekarang ini sudah nggak tabu lagi bukan untuk membahas seks? Bekali anak-anak kita dengan pengetahuan dan fakta yang bisa mereka gunakan untuk melindungi diri mereka dari hal-hal buruk.

Satu hal juga, Ma, sebagai orangtua kita harus bisa terus update dengan perkembangan teknologi. Jangan hanya gosip saja yang diupdate, tapi pengetahuan juga agar jangan kalah langkah dari anak-anak.

Terus semangat, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tinder - Aplikasi Dating Online, yang Harus Mama Ketahui Fakta-Fakta di Baliknya dan Waspadai". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ranny Afandi | @rannyafandi

Content creator. Aquarian. Movie lover. Bookaholic. Read my stories at www.hujanpelangi.com | Find me on IG & twitter : @rannyrainy

Silahkan login untuk memberi komentar