Untuk Menjadi Dewasa, Kami, Para Remaja, Membutuhkan Pendampingan bukan Sekadar Tuntutan! Dengarkan Kami, Mama, Papa!

Untuk Menjadi Dewasa, Kami, Para Remaja, Membutuhkan Pendampingan bukan Sekadar Tuntutan! Dengarkan Kami, Mama, Papa!

2K
Menjadi dewasa, dan mempunyai tujuan hidup, adalah sebuah proses. Bukan instan, tiba-tiba terjadi. Walaupun akan terdengar seperti curhat, tetapi beberapa hal yang akan saya bahas mungkin juga dialami oleh anak Mama yang sebaya.

Hai, Mama! Cerita ini adalah cerita teman saya, yang diceritakannya langsung pada saya. Cerita mengenai perjalanannya menjadi dewasa, dan tentang mimpi yang musnah.

Teman saya ini sekarang berada di luar kota, bekerja meski bukan di bidang yang disukainya. Ia yang selalu tidak ingin diajak bicara soal mimpi ataupun rencana hidupnya, karena jawabannya selalu sama: cuma mau kerja untuk orang tua.

Kita ikuti ceritanya ya.


BACA JUGA


Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!

Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!

Being a mother is hard, and it wasn't a subject I ever studied. ~ Ruby Wax

Read more..


---


Saya dulu selalu berpikir bahwa orang dikatakan sudah dewasa adalah ketika sudah memasuki usia 20 tahun. Tapi di umur 22 tahun sekarang ini, bahkan saya masih belum merasa dewasa.

Yah, memang kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari umurnya, dan itulah yang harusnya saya sadari, termasuk oleh kedua orang tua saya.

Saya baru saja lulus dari sebuah universitas di Jakarta. Saya masih amat sangat buta terhadap apa yang akan saya lakukan, meskipun saya tahu ke mana tujuan saya. Istilahnya, saya tahu kalau saya mau ke Bandung, tetapi saya tidak tahu mau naik apa. Semua jalan terlihat berbahaya, semua rute terlihat rumit, dan saya harus menuju ke sana seorang diri untuk mendapatkan predikat "dewasa".

Saya sama sekali buta terhadap apa yang ada di dalam pikiran kedua orang tua saya--termasuk segambreng ekspektasi mereka terhadap masa depan anak-anaknya. Hal ini membuat saya mengambil jalan yang lambat, yaitu jalan di mana saya harus mencari dan mengais-ngais ratusan rute paling nyaman untuk saya agar sampai ke tujuan.

Tapi sepertinya orang tua saya menginginkan sesuatu yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. Saya sendiri sebenarnya percaya, bahwa orang tua akan selalu mendukung cita-cita anak-anaknya. Bahkan kalau bisa dibantu, orang tua juga akan selalu siap membantu.

Tapi, yang saya tidak tahu, kalau dukungan dan bantuan tersebut juga ada dalam bentuk sindiran, omelan, hingga pematahan semangat.

Well, mungkin saja mereka tak bermaksud begitu sih. Bahkan mungkin mereka juga nggak kerasa saat melakukannya.


Tidak Bermaksud Menggurui, Tetapi Saat Berproses Menuju Dewasa, Kita pun Sedang Mencari dan Pencarian Itu Butuh Waktu


Anak-anak Mama yang baru memasuki usia 20an mungkin sedang berlarut-larut dengan studinya, entah itu di bangku SD, SMP, SMA, hingga universitas. Atau, bahkan anak Mama tersebut sedang mengurung diri di kamar dan berkutat dengan laptopnya untuk mencari kerja.

Tetapi Mama lihat, semua usahanya kok seperti tak mendatangkan hasil. Lalu, mungkin Mama mulai mencurigai, bahwa mungkin anak Mamalah yang kurang atau tidak mau berusaha.

Well. sah-sah saja jika Mama berpikir seperti itu. Silakan. Karena, saya pribadi juga berpikir, rasa khawatir dan kasih sayang memang kadang bekerja sama, dan kemudian bisa menimbulkan pikiran yang macam-macam termasuk pikiran buruk.

Tapi pernahkah terpikirkan oleh Mama, bahwa anak Mama sedang kesulitan dan berjuang menemukan passion-nya? Apakah Mama sudah pernah mendengar ia bicara mengenai mimpinya? Apakah anak Mama memang benar-benar butuh saran, atau mungkin hanya butuh dielus kepalanya saja, sambil mendengar ibunya berkata, "Semangat berusaha!"?

Saya pribadi merasa lelah dan ingin sekali menyerah saat sedang mencari jalan menuju cita-cita sata. Tidak semua anak diberkahi mukjizat untuk selalu menemukan jalan tercepat, atau punya semangat serupa mesin bertenaga solar yang tidak pernah habis.

Beberapa anak kadang harus tersesat dulu di tengah jalan. Sebagian lagi, hanya punya semangat sejumlah korek api kayu, dan selalu ingin pulang ke pelukan orang tuanya tiap kali ia merasa ingin berhenti.

Bukan hanya orangtua yang ingin melihat anak-anaknya punya hidup yang lebih baik, anak-anak pun ingin punya hidup yang lebih baik dari orangtuanya.

Dan untuk mewujudkan itu, kami perlu waktu, Ma, dan terutama sangat butuh pelukan fisik dan emosional dari kedua orang tua kami. Bukan interogasi yang memburu-buru.


BACA JUGA


Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

Youth is the best time to be rich, and the best time to be poor. – Euripides

Read more..


Butuh Ngobrol Bukan Dinasehati

Foto: Empowering Parents

Tidak semua keluarga punya kedekatan super lengket seperti yang lainnya. Ada yang jarang sekali duduk dan ngobrol dari hati ke hati, bahkan ada yang tidak pernah sama sekali.

Well, keluarga saya masuk ke dalam kategori yang tidak pernah duduk dan ngobrol dari hati ke hati. Alhasil, saya tidak pernah punya kesempatan untuk memberitahu kedua orang tua saya mengenai keinginan dan mimpi-mimpi saya.

Mereka pun tidak pernah bertanya apa mau saya. Alhasil, kini saya, yang pengangguran dan sedang menunggu panggilan pekerjaan yang bisa mendukung beasiswa S2 saya, selalu kena omel karena, menurut mereka, saya tidak mau berusaha.

Ah, saya tahu. Seharusnya saya mengajak kedua orang tua saya untuk duduk dan ngobrol soal rencana ini, ya?

Yah, sebenarnya saya juga sudah melakukannya. Tapi kemudian disambut dengan tangis, karena dianggap tidak membantu kehidupan orang tua (FYI, saya anak pertama, and the burden is heavier).

Tak berhenti di situ, saya pun disemprot dengan nasehat mengenai saya yang tidak mau berusaha dengan maksimal.

Karena obrolan yang saya rasa tak pernah ada untungnya bagi saya, maka saya pun berhenti mengajak mereka ngobrol lagi. Saya sudah lama sekali mengganti obrolan dengan hal selain tentang diri saya, karena hanya akan menimbulkan perang dingin.

Saya lelah.


Foto: American College of Pediatricians

Maka, saya hanya bisa berpesan untuk Mama yang punya anak atau keluarga seperti saya ini (semoga saja tidak). Cobalah ajak dia mengobrol. Duduk bersama, berbicara dari hati ke hati sekali waktu.

Kadang saya meyakini, bahwa saya ini punya penyakit kejiwaan, akibat dari nggak punya siapa-siapa untuk diajak bicara.

Ya, anak remaja seumuran saya, yang dibilang dewasa juga belum sepenuhnya bisa ini, hanya perlu teman yang bisa mendengarkan segala macam beban yang disimpan dalam hati.

Bahkan sebenarnya, kami tidak membutuhkan solusi, jika memang Mama dan Papa nggak punya. Kami rasa, kami cukup didengarkan saja, dan ditunjukkan bahwa Mama peduli pada kami.

Itu saja akan cukup menolong dan menyelamatkan kami.


BACA JUGA


Komunikasi dengan Anak Tak Sekadar Hanya Menasihatinya. Ayo, Lihat Kembali, Seberapa Sering Mama Memberinya Pujian?

Komunikasi dengan Anak Tak Sekadar Hanya Menasihatinya. Ayo, Lihat Kembali, Seberapa Sering Mama Memberinya Pujian?

Komunikasi dengan anak memang tak hanya berhenti pada memberinya nasihat, masukan, bahkan juga kritik, tetapi juga dalam bentuk pujian

Read more..


Word That Hurts The Most From People We Love The Most

Suatu hari saya pernah dipanggil untuk turun dari kamar, dan diajak bicara oleh mama saya yang baru selesai beribadah. Saat itu, tidak ada orang di rumah karena adik saya sudah berangkat sekolah, dan papa saya sudah berangkat kerja.

Mama saya mengajak saya bicara soal keputusan saya menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh teman Papa. Alasan saya menolak (saya pikir) sangatlah masuk akal.

Pertama, pekerjaannya bukan dalam area keahlian saya. Beneran deh, berbanding terbalik dari apa yang saya kuasai. Kedua, pekerjaan itu akan dikontrak hanya selama satu tahun dan tidak bisa mendukung lamaran beasiswa S2 saya, artinya saya harus menunda setahun lagi untuk mencapai mimpi saya. Ketiga, saya sedang menunggu panggilan pekerjaan lain yang telah saya lamar.


Tetapi hari itu, saya ingat benar, mama saya mematahkan seluruh semangat, mimpi dan tulang-tulang harapan yang telah susah-susah saya rawat dan tumbuhkan sejak saya mulai punya cita-cita.

Hari itu, saya masih ingat, beliau menangis dan berkata, "Kamu egois karena hanya memikirkan masa depanmu sendiri, dan tidak mau bantu orang tua."

Saya akhirnya menghabiskan 3 hari di kamar setelah pembicaraan itu terjadi, dan hanya keluar kamar ketika semua orang di rumah sudah tertidur.

Hingga kemudian, saya memutuskan untuk tidak mengejar segala mimpi saya lagi, dan lebih baik fokus cari kerja, fokus cari uang, agar tidak kembali dilabeli egois oleh mama saya sendiri.


BACA JUGA


Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

Mendidik anak remaja itu memang rumit, karena semua pasti tahu bahwa tahap remaja memang merupakan tahapan kehidupan di mana manusia sedang ...

Read more..


Saya harap Mama, Papa, atau siapa pun, tidak pernah berkata demikian kepada orang-orang yang kalian kasihi. Terutama pada mereka yang sedang belajar menjadi dewasa, dan mengenali cita-cita serta mimpinya.

The damage you might cause would be unrecovered for the rest of their lives.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Menjadi Dewasa, Kami, Para Remaja, Membutuhkan Pendampingan bukan Sekadar Tuntutan! Dengarkan Kami, Mama, Papa!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Putri Hadi | @yasminhadi

Part-time writer, full-time magician.

Silahkan login untuk memberi komentar