Yuk, Kurangi Makanan Cepat Saji! Inilah 7 Alasan Kenapa Mama Harus Melakukannya!

Yuk, Kurangi Makanan Cepat Saji! Inilah 7 Alasan Kenapa Mama Harus Melakukannya!

917
Makanan cepat saji memang menawarkan kecepatan dan kepraktisan untuk diolah. Namun, seharusnya Mama sadar (dan nggak pura-pura nggak tahu) kalau makanan cepat saji menyimpan bahaya untuk kesehatan.

Jika Mama lagi capek dan malas untuk masak, makanan cepat saji selalu menjadi penyelamat.

Makanan cepat saji membuat kita nggak perlu repot untuk berbelanja ke pasar, tidak ada drama mata perih karena mengiris bawang merah, kena cipratan minyak panas dan tentunya sedikit cucian!

Cukup masukkan ke wajan penggorengan, oven atau microwave, tunggu sekitar 5-10 menit dan, voila! Makanan sudah bisa disantap.


BACA JUGA


7 Camilan Sehat untuk Keluarga Ini Cocok Sebagai Pengganti Junk Food. Sedap Lagipula Bergizi!

7 Camilan Sehat untuk Keluarga Ini Cocok Sebagai Pengganti Junk Food. Sedap Lagipula Bergizi!

Camilan sehat harus selalu tersedia setiap saat. Namanya anak-anak kan sudah biasa nggak bisa berhenti makan. Dengan camilan sehat, maka ...

Read more..


Hidup kita jauh lebih mudah dengan adanya makanan cepat saji ini. Betul?

Tapi, pernahkah Mama berpikir, makanan cepat saji ini baik untuk kesehatan atau nggak?


7 alasan ini harus Mama tahu agar mengurangi konsumsi makanan cepat saji dan memilih untuk menyiapkan sendiri makanan yang bergizi dari dapur Mama.


1. Mengandung vitamin dan mineral yang palsu


Coba deh, Mama perhatikan, vitamin yang dikonsumsi setiap hari, efeknya apa ke tubuh? Dan bagaimana jika vitamin baik yang Mama konsumsi itu ‘dicampur’ dengan vitamin ‘palsu’ dari makanan cepat saji.

Vitamin palsu itu seperti apa? Emang ada?

Begini, Ma, pabrik makanan mereka tentunya memproduksi sebuah produk melewati berbagai proses hingga menjadi makanan utuh. Kita nggak tahu kan, apakah pabrik tersebut membuat vitamin yang murah di laboratorium mereka dan mencampurkannya ke dalam makanan.

We never know, Ma.

Okelah kita berpikir positif. Banyak vitamin yang terkandung di satu produk, misalkan produk X.

Tapi, produk X ini bisa bertahan lama jika Mama menyimpannya di freezer. Mama nggak curiga, kok bisa tahan lama produk itu? Apakah pakai pengawet?

Jika pengawet dicampurkan ke dalam makanan, yakin vitamin dan mineral itu masih berfungsi dengan baik untuk tubuh kita?

Big no, Ma!

Mama akan mengalami masalah pencernaan. Dan bukan nakutin nih, Ma, bisa saja satu produk itu mengandung GMO yang tidak baik untuk dikonsumsi oleh manusia.

Itulah mengapa, secapek apa pun Mama, ada baiknya tetap masak untuk keluarga. Atau beli ke warung makanan dekat rumah jika Mama mau menghindari makanan cepat saji.

Di kategori food Rocking Mama, banyak banget resep masakan mudah yang bisa Mama sontek untuk sajian menu harian.


2. The portions are rather small


Oke ini masalah porsi ya, Ma.

Coba deh Mama perhatikan porsi satu makanan cepat saji. Kecil bukan?

Industri besar dan skala ekonomi terkadang merusakkan. Let me tell you, satu produk itu, misalnya ayam nih, diproses dalam sehari dalam jumlah yang besar.

Bahan-bahannya pun dibuat dan disimpan dalam jumlah yang banyak. Masih amankah hal itu?

Ukuran porsi yang kecil bisa membuat Mama terus mengonsumsinya secara rutin dan bikin ketagihan.

Yeah, saat Mama lapar, dan Mama pun mulai makan makanan itu. Seminggu sekali, menjadi dua kali seminggu. Berputar-putar hingga menjadi lingkaran yang mengerikan bagi kesehatan.


3. Terlalu banyak vegetable oil


Mendengar kata, vegetable oil (minyak sayur), yang ada di pikiran Mama pasti menyehatkan bukan?

Iyes, unsur sayur itu membuat kita berpikir, sudah pasti minyak ini aman untuk dikonsumsi. Saya pun berpikiran demikian.

Tapi, sayangnya apa yang selama ini saya yakini bahwa vegetable oil is good for health adalah salah.

Saya membaca beberapa jurnal kesehatan. Di situ mereka paparkan bahaya dari vegetable oil ini.

Vegetable oil dibuat oleh pabrik, biasanya dari bahan hasil modifikasi genetika. Dan vegetable oil merupakan minyak yang dibuat dari beberapa jenis biji-bijian. Pada umumnya dari canola, kacang kedelai, jagung, bunga matahari, ataupun kacang.

Berbeda dari minyak kelapa dan minyak zaitun yang bisa diesktrak dengan cara meremasnya secara alami, bahan vegetable oil sebaliknya, tidak bisa diekstrak dengan cara natural.

Biar lebih jelas lagi, apakah biji canola itu ada? Nope. They don’t exist, Ma! Minyak canola dibuat dari hybrid version of the rapessed. Dan tahu nggak, Ma, untuk mendapat hybrid version, prosesnya harus melewati yang namanya genetically modified (yang terlarang) dan heavily treated with pesticides.

Okay, sampai di sini jelas ya, Ma, bahwa vegetable oil itu tidak aman dikonsumi. Dan sayangnya, minyak ini ada di makanan cepat saji.

Yang aman apa? Minyak kelapa dan minyak zaitun, and too bad, dua minyak ini sangat langka ditemukan dalam bahan makanan cepat saji.

FYI, mengonsumsi banyak vegetable oil bisa menyebabkan inflamasi dan penyakit jantung.

Mengerikan bukan?

Jika Mama masih ragu, coba deh search di youtube cara pembuatan canola oil. Atau search artikel di TIME dan The Telegraph, kedua media massa terbesar di dunia ini pernah membahas hal tersebut.


BACA JUGA


Yuk, Intip dan Tiru Menu Sarapan Sehat Favorit 5 Food Blogger Indonesia Ini!

Yuk, Intip dan Tiru Menu Sarapan Sehat Favorit 5 Food Blogger Indonesia Ini!

Menyiapkan sarapan untuk keluarga di pagi hari yang sibuk merupakan tantangan tersendiri untuk kita, ya, Ma? Seperti yang kita tahu, hampir ...

Read more..


4. Terlalu banyak bahan kimia


Untuk membuktikan hal ini sangat mudah. Silakan Mama cek di label kemasan.

Selama ini bahan kimia yang sering saya temui di label makanan seperti : perasa, pewarna, sukrosa, chromium amino acid chelate, mono and diglycerides, dipotasium phospate, gliserin, sodium caseinate.

Semua bahan yang saya sebutkan apakah seperti real food? Saya tahu bahan-bahan kimia tersebut sudah diuji dalam hal keamanan. Tapi, mengapa kita tidak mencoba untuk kembali ke nutrisi alami?


5. Terlalu banyak gula (pemanis buatan)


Pernah satu kali, saya membeli cookies di supermarket. Katanya cookies ini dipanggang, setelah saya makan, astaga, manis banget.

Manis yang berlebih itu bikin saya berpikir, bahan apa yang dicampur hingga manisnya seperti itu? Sejak saat itu, saya berhenti membelinya, cukup sekali saja.

WHO merekomendasi untuk konsumsi gula harian, baiknya berkisar di angka 25 gram (6 sendok teh). Terlalu banyak gula bisa menyebabkan obesitas, kanker dan diabetes.

Tapi, gula yang terkandung dalam buah-sayur-susu segar itu menyehatkan, Ma. So, yang alami pasti lebih oke.


6. Too much salt


Mengapa makanan cepat saji mengandung banyak garam?

Karena, makanan ini akan dibekukan dan melewati proses pengiriman yang panjang sehingga harus ada bahan yang membuat makanan ini tetap terjaga rasanya.

Yeah, the best way to spice them up adalah dengan menambahkan garam yang murah dan mudah!

Ma, terlalu banyak garam itu nggak baik untuk kesehatan. Bisa menyebabkan osteoporosis, batu ginjal, jantung, tekanan darah tinggi dan kanker perut.

RDA (recomended daily amount) dari garam untuk orang dewasa adalah 6 gram.

Makanya, Mama mesti memperhatikan label kemasan ya. Jika di label itu, mengandung sodium , Mama haru tahu bahwa makanan itu mengandung garam. Apabila di label dituliskan, sodium 2,4 gram, maka Mama harus hati-hati.

Ingat, batas aman mengonsumsi garam itu 6 gram per hari dari semua makanan yang Mama konsumsi ya, Ma!


7. Makanan cepat saji adalah mass produced dan setiap bahan yang diklaim sehat itu memiliki risiko yang berbahaya


Siapa sih yang diuntungkan dari produksi makanan cepat saji?

Tentunya perusahaan-perusahaan penyedia makanan cepat saji, Ma. Perusahaan ini pengin kita makan, makan dan makan. Membuat ketagihan.

Tapi, bukannya membantu perekonomian bukan produksi mereka, apa yang salah? Perusahaan ini juga memangkas biaya hingga menjadi kecil sehingga mereka dengan mudah memeroleh keuntungan sedangkan kita tidak.

Jika Mama punya waktu luang, coba baca tulisan Michael Moss, Salt, sugar, fat : How the Food Giants Hooked Us. Dan Mama bakal terkejut mengetahui fakta di dalamnya.

Tahu nggak Ma, dalam proses produksi mereka memotong waktu yang seharusnya dan menggunakan garam untuk menguatkan rasa, seperti yang sudah saya bahas di atas. Herbs itu terlalu mahal untuk dimasukkan dalam bahan-bahan makanan cepat saji, jadi jalan yang mudah ya itu menambahkan garam!

Makanan cepat saji diproduksi dalam jumlah yang besar. Nah, coba Mama runtutkan dari proses, packing, disimpan dalam pendingin, jarak dari pabrik ke distributor besar, lalu didistribusikan ke daerah, terkena sinar matahari, tiba di supermarket pun belum langsung ditata di rak, tapi dimasukkan ke pendingin dulu agar terjaga.

Dari proses yang panjang tersebut, masihkah ada vitamin dan mineral baik di dalamnya?


BACA JUGA


Makanan ala Jepang aka Japanese Street Food Ini Sangat Ngehits di Indonesia - Mama Sekeluarga Suka yang Mana?

Makanan ala Jepang aka Japanese Street Food Ini Sangat Ngehits di Indonesia - Mama Sekeluarga Suka yang Mana?

Makanan Jepang banyak yang enak! Beberapa di antaranya bahkan terkenal banget di sini, dan gampang banget ditemukan di mana-mana sebagai ...

Read more..


Memang benar, makanan cepat saji itu penyelamat, tapi ada baiknya dikurangi ya, Ma. Nggak ada salahnya kan kita membuat sendiri camilan untuk keluarga? Lebih aman, higienis dan murah.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji pun berakibat buruk untuk kesehatan.

Pilihan ada di tangan Mama.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yuk, Kurangi Makanan Cepat Saji! Inilah 7 Alasan Kenapa Mama Harus Melakukannya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ranny Afandi | @rannyafandi

Content creator. Aquarian. Movie lover. Bookaholic. Read my stories at www.hujanpelangi.com | Find me on IG & twitter : @rannyrainy

Silahkan login untuk memberi komentar