Anak Keras Kepala Itu Tanda Dia Berkarakter Kuat, Lakukan 5 Tips Ini Untuk Mendampinginya

Anak Keras Kepala Itu Tanda Dia Berkarakter Kuat, Lakukan 5 Tips Ini Untuk Mendampinginya

2.8K
Jangan jinakkan semangat si anak keras kepala. Dampingilah, agar dia bisa memanfaatkan karakternya untuk tujuan yang baik.

Rumah yang tak pernah rapi, suara teriakan dan adu argumen yang menggema sepanjang hari kadang membuat kita pusing ya, Ma. Begitulah rasanya mempunyai anak balita yang sedang aktif-aktifnya. Apalagi jika tipe anak Mama adalah anak yang tidak mudah mengiyakan apa yang kita inginkan alias tergolong anak keras kepala. Alih-alih melakukan apa yang kita maksudkan, mereka malah mengambil pilihan lain dan memaksa kita mengikuti keinginannya.

Soal beradu argumen hingga bernegosiasi (dan saya lebih sering kalahnya) merupakan hal yang biasa saya alami nih, Ma. Semenjak anak saya bisa bicara lancar di usianya yang 2 tahun, dan sekarang sudah berusia 4,5 tahun, tiap hari ada saja hal-hal yang kami perdebatkan. Seakan dia tahu banget apa keinginannya, dan ingin mempertahankannya apa pun yang terjadi.

Iya, anak sekecil itu ternyata sudah punya keinginan yang kuat!

Tahukah Mama, anak keras kepala itu sebenarnya menunjukkan bahwa ia memiliki karakter yang kuat, dan ini adalah pertanda bagus bila kita dapat mengarahkannya untuk kebaikan.

Jadi, bila sebelumnya saya sangat pusing karena berpikir bagaimana mengendalikan atau mengubah sifatnya, kali ini saya melihat dari sudut pandang lain, yaitu lebih ke mengarahkan dan mendampinginya.

Hasilnya? Ya, setidaknya keras kepalanya di kemudian hari dapat menjadi bekal sebagai pemimpin. Tak cuma pemimpin perusahaan, bisa jadi dia kelak menjadi pemimpin negara. Aminkan dong, Ma!

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mengarahkan dan mendampingi anak keras kepala kesayangan Mama ini?


Beberapa tips yang bisa Mama lakukan untuk mendampingi anak keras kepala


1. Jadilah sahabatnya


Anak keras kepala perlu tempat untuk bersandar dan bertanya. Jadilah sahabatnya yang terbaik.

Anak yang ingin menang sendiri selalu mau jadi nomor satu. Bila Mama bersikap bossy, dapat dipastikan anak keras kepala akan semakin memberontak. Mereka pantang mendapat perintah, dan sebaliknya, mereka biasanya cenderung lebih lunak terhadap teman-teman yang disukainya.

Oleh karena itu, bersikaplah seperti layaknya sahabat baginya. Jadikan mereka tempat berbagi cerita, dan biasakan mereka bercerita pada Mama tentang apa saja. Bila Mama telah mendapatkan kepercayaannya, lihatlah bahwa mereka akan dengan senang hati menurunkan rasa ingin menang sendirinya.


2. Negosiasi


Anak keras kepala menghargai saat dia juga dihargai. Maka, hormati keinginannya, maka dia pun akan siap bernegosiasi.

Bila dia sudah cukup besar dan bicaranya sudah lancar, maka negosiasi merupakan cara yang tepat untuk bisa berkomunikasi. Berdirilah sama tinggi dengannya, tatap matanya, dan ucapkan kalimat dalam dan tegas. Usahakan kalimat yang diucapkan tidak bernada tinggi, tanpa emosi, dan diikuti senyuman.

Mama dapat memberinya pilihan atau menawarkan win-win solution. Memang untuk mencari jalan tengah ini bukan hal yang mudah, Ma. Perlu latihan dan pengalaman, untuk menemukan cara terjitu dalam bernegosiasi dengan anak keras kepala seperti ini.

Kalau dia sedang marah atau mengajak berdebat, akan lebih baik jika kita mengalah dulu, dan memeluknya diikuti kalimat yang menyatakan kita mengerti maksudnya. Misalnya, ketika anak saya tidak mau mandi pagi dan memilih pakai parfum saja (yeah, balita saya sudah tahu kalau parfum itu bisa bikin wangi tanpa mandi, Ma. Hahaha), maka saya bilang bahwa benar, parfum memang membuat badan kita wangi, tetapi mandi membuat badan kita bersih dan segar. Lalu saya bernegosiasi untuk tetap buang air kecil di kamar mandi dan ganti baju, dan akhirnya saya berhasil membujuk anak saya untuk mandi sehabis buang air kecil lho. Yeay! Hahaha.


3. Beri reward


Jangan jinakkan semangat anak keras kepala yang meletup-letup. Justru dorong dia terus untuk melakukan kebaikan.

Siapa sih yang nggak suka dikasih reward? Orang dewasa pun menyukainya, kan?

Reward tidak harus berupa hadiah barang, tapi bisa juga sebuah kesempatan melakukan hal yang disenanginya dengan lebih lama. Misalnya saja, anak boleh berenang lebih lama atau boleh bermain air lebih lama jika anak mau bernegosiasi.

Reward yang lebih besar lagi, misalnya, anak boleh memelihara kelinci jika anak dapat menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik.

Yah, Mama pasti tahu deh apa yang paling disenangi olehnya. Maka tawarkanlah padanya sebagai hadiah dan alat negosiasi. Anak keras kepala pun pasti akan takluk.


4. Beri teladan


Jika ingin membentuk karakter anak yang paling baik adalah dengan memberi anak contoh nyata, termasuk pada si anak keras kepala

Anak di usia balita hingga remaja, belajar sesuatu hal dari meniru. Mereka melihat, mendengar, merekam apa yang indranya rasakan, lalu mempraktikkannya kembali. Begitupun dengan anak keras kepala. Bisa jadi, perilakunya itu bersumber dari meniru orang-orang di sekitarnya, atau tontonan yang dilihatnya.

Nah, kalau Mama bisa menemukan sumbernya, itu akan bagus, Ma. Bila sumbernya dari televisi atau gadget, maka sudah saatnya, Mama sebagai orangtua, mulai membatasi mana yang boleh ditonton dan mana yang tidak. Sementara itu, bila sumber sikap ingin menang sendirinya justru meniru orangtua atau keluarga terdekat, maka mau tak mau kita sendiri perlu berubah.

Hmm, sebenarnya ini juga PR besar sih, Ma. Anak saya itu saya banget. Saya mengakui kalau saya juga keras kepala dan sering nekat, maka rasanya wajar kalau anak saya meniru. Beda dengan ayahnya yang lebih sabar dan lebih mengedepankan logika.

Jadi, mau tak mau saya juga belajar untuk mengurangi perdebatan di depan anak saya. Saya belajar untuk memberi contoh bahwa keras kepala itu dapat bermanfaat di saat-saat tertentu, tetapi tetap elegan, tanpa harus merusak suasana dan menyakiti hati orang lain.

Saya percaya, pelan tapi pasti, anak saya akan mengikuti apa yang saya lakukan juga.


5. Salurkan keras kepalanya


Salurkan energi si anak keras kepala yang berlebihan ke aktivitas fisik.

Anak keras kepala itu sebenarnya menandakan bahwa dia mempunyai pendapat sendiri yang dia anggap benar. Maka dia pun akan pantang menyerah dalam memperjuangkan pendapat atau keinginannya tadi. Dengan kata lain, sebenarnya dia tinggal diarahkan saja, Ma, bagaimana caranya mengeluarkan unek-unek dengan cara yang baik, dan untuk kebaikan. Mama bisa menyalurkannya lewat aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan berkomunikasi atau kinestetik.

Ajak anak Mama untuk mendongeng, bermain peran menjadi penyiar radio atau penceramah, bahkan latihan presentasi di depan teman-temannya. Misalnya nih, Ma, seperti aktivitas di TK anak saya, kita bisa membuat acara presentasi mainan dari barang bekas. Maka semua anak diminta untuk membawa mainan karyanya, lalu dipresentasikan bergantian. Dengan aktivitas ini, anak saya jadi bisa menyalurkan karakter kerasnya menjadi sesuatu yang positif. Dia berani bercerita, dan berargumentasi mengenai mainan yang sudah dibuatnya.

Aktivitas kinestetik misalnya, Mama bisa ajak anak Mama bermain di halaman rumah, atau berolahraga yang mengeluarkan banyak energi. Jika anak Mama sudah lebih besar, keras kepalanya bisa disalurkan dalam bentuk mengikuti lomba debat Bahasa Inggris atau lomba orasi.


Kelima cara mendampingi anak keras kepala di atas sudah pernah saya praktikkan semua pada anak saya, Ma, dan memang cukup ampuh untuk bisa sedikit mengatasi kekeraskepalaannya.

Sekadar catatan, poin pertama hingga poin ketiga sudah dapat Mama mulai dari sekarang. Sementara poin keempat tergantung pada kesiapan Mama juga. Mama mesti menyadari terlebih dahulu, bahwa kita ikut andil juga sebagai orangtua dalam membentuk karakter anak keras kepala ini. Sedangkan poin kelima, seperti sih memerlukan trial and error untuk menentukan metode penyaluran seperti apa yang paling cocok dengan anak Mama.

Ingatlah, Ma! Anak keras kepala memang lebih sulit penanganannya ketimbang anak-anak pada umumnya, namun tak berarti mereka tak tertaklukkan sama sekali, apalagi oleh kita, orangtuanya. Anak keras kepala mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin di masa depan, selama kita dapat mendampinginya dengan baik. Jangan jinakkan semangatnya, namun jinakkanlah kekerasannya.

Jadi, sudah siapkah Mama mendidik anak keras kepala, si calon pemimpin yang dapat mengubah dunia?

Tetap semangat ya, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Keras Kepala Itu Tanda Dia Berkarakter Kuat, Lakukan 5 Tips Ini Untuk Mendampinginya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Dian Ismyama | @dianismyama

Mom of two-Mompreneur- Pharmacist- Blogger

Silahkan login untuk memberi komentar